Selasa, 08 Februari 2011

RATNA MOETOE MANIKAM / 1841

RATNA MOETOE MANIKAM
(DJOEIA DJOELI BINTANG TIGA)


Film ini dibuat saat New JIF lagi besar-besarnya. Peralatan kamera bertambah, lab juga, hingga ke set dekor di dalam ruangan yang dilakukan dengan lampu. Sehingga bisa melakukan 4 produksi sekaligus dalam waktu yang bersamaan. pembuatan film ini tidak rampung karena Jepang masuk, dan atas permintaan Jepang film ini diselesaikan oleh Tan tjoei Hock. Ceritanya berasal dari Jula-Juli Bintang Tiga, penulisnya A. Th.Manusama dengan jenis cerita Stamboel. Saat peredarannya judulnya di ganti menjadi Djoela-djoeli Bintang Tiga. Karena saat Jepang masuk, sejarh film terhenti pada awal 1942. Saat Jepang film hanya sebuat sementara saja sifatnya. Lalu setelah Jepang kembali jalan lagi. seolah-olah 1942-1950 itu tidak berarti.

Ada tiga bersaudara: Ratna Mutu Manikam (Ratna Asmara), Laila Kesuma dan Kumala Juwita. Mereka ini penghuni di balik awan. Ratna dan Kumala berselisih karena sama-sama menginginkan pria sama, Sultan Darsyah Alam (Astaman). Kumala nekat melamar Darsyah, tapi ditolak. Karena dendam, Kumala memerintahkan jin dan peri untuk memusnahkan kerajaan Darsyah. Maksud ini didengar Laila dan disampaikan pada Ratna, lalu dilaporkan pada Bathara Guru. Jawabannya: itu cobaan bagi Darsyah yang telah digariskan bakal berjodoh dengan Ratna. Sultan memiliki cincin wasiat yang namanya juga Ratna Mutu Manikam. Bila cincin itu lepas dari jarinya, maka bakal terjadi bencana atas kerajaan. Bencana yang ditimbulkan Kumala, bisa diselesaikan Ratna dengan bantuan Laila.

Kenapa jaman Modren Soeska kembali ke cerita kuno? Meskipun jaman bertukan dan beredar, masyarakat berubah tapi ada satu kehidupan yang tidak berubah yakni romantik. Seperti suksesnya Hollywood dengan film The Thief of Bagdad. Kenapa di Indonesia orang tidak menampilkan cerita kuno dengan cara modren? Saat itu lagi rame-ramenya pembuatan film dengan cerita 1001 malam dan sejenisnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar