Senin, 14 Februari 2011

PPFI DI TENGAH PERJALANAN FILM NASIONAL

Pengantar Redalrsi: utttuk menyambut Hari PPFI yang ke 47, tepatnya tanggat 30 Maret 19s0. Butetin POHON:#AYAT untuk nomor ini, menyajikan tutisan keberadaan HUT ppFt yang ke- Rlranya blsa klta simah kembali.
Redaksr.

Balink dan Wong diajak menggu- lakan menggunakan resep "tonil'. Dalam belasan tahun para penonton tonil tersebut telah memberikan k+ untungan tidak kecil, sehingga pang_ gung-panggung sandiwara dan para pemainnya dapat hidup makmur dengan penghasilan yang meng_ girahkan. Dan hasilnya adalah meru_ pakan "panen' besar yang dimulai tahun 1940 dengan menggunakan resep Terang B{r/an tersebut. Dari sanalah lahir bintang cemerlang Rukiah dan Raden Mochtar. Sayangnya ANIF deqgan tokohnya Balink tidak menerusken pembuatan film cerita, karena tidak sejalan dengan policy ANIF. frtaka musim panen selanjutnya banyak Pembuatan film lerang Bulan karya Alb€rt Balink dan Wong bersaudara, tepat sepuluh tahun kemudian setelah film cerita mulai dibuat - temyata cukup menarik perhatian orang di negeri ini. Procluksi Algemeene Neder- land lndische Film Syndicat (ANIF) itu ketika beredar di tahun 1982. telah menarik perhatian penonton begitu hebat. Bahkan konon dalam pere- darannya di Malaya waktu ilu dalam waktu singkat telah berhasil mengeruk keuntungan St.$.200.000,-. Hal ini telah membuka mata orang-orang film lainnya yang sebe- lumnya meraba-raba, apa yang harus dilakukan untuk mencapai penonton. Atas anjuran wartawan Saerun yang menjadi penasehatnya, kemudian diniltmati oleh golongan Tionghoa. Selain Wong bersatdara yang unggul dalam pengetahuan dan Pengalaman serta memiliki Rukiah dan Rd. Mochtar, yang lainnYa adalah Tionghoa peranakan yang lebih sigap dalam berlomba memboyongi orang- orang tonil. Yang terunggul dalam perlombaan ini adalah The Teng Chun yang mendirikan Java Industrial Film (JlD. The Teng Chun yang telah menerjuni dunia film sejak 1931 terus berusaha meningkatkan sarana teh- nis. Dengan berprinsip bahwa film merupakan "industri' sejak tahun 1935 ia telah berhasil memperbesar stu- dionya dengan mengerahkan orang- orang tonil dan Dardanella. Dimulai dengan menarik dedengkotnya Andjar Asmara. Sehingga dengan pening- katan itu dari 45 produksi yang dihasilkan lndonesia dalam tahun 1940 - 1941 sepertiganya adalah adalah hasilJlF. The Long March

Suasana peduangan kemerdekaan yang menghangat telah mendorong pula naluri cinta dari bangsa ini kepada hasil bangsanya sendiri, termasuk film. Tokoh peqerakan Dr. Adnan K. Gani pun terpanggil untuk ikut main film, demi untuk mengangkat harkat pemain film di mata kalangan terpelajar yang merasa kurang senag dengan latar belakang "anak-anak wayang". Langkah A. K. Gani ini mendapat kecaman keras, bahkan dituduh mencemari kesucian Per- juangan. Tapi usaha pemuda-pemudi pejuang itu telah membantu semakin lajunya produksi film. Konsek- wensinya kemudian, kalangan terpe' lajar yang semakin kritis banyak menuntut film yang lebih baik. Maka cerita film kita pun mulai berkisar di kalangan atas, terpelajar, keluarga bertitel, atau tentang mahasisra. Bagi penonton kalangan ba- wah, film yang serba linggi" initerasa asing. Sedang kalangan terpelajar semakin tajam menilainya. Pekerja film jaditerhimpit oleh dua lapisan ini. Cerita tonil karya baru yang t€rmasuk top adalah Dr. Samsl alau Gagak Solo. Percobaan untuk membuat film agak berbobot misalnya Siti Nurbaya dan Molati van Agam karya Parada Herahap, jadinya malah kalangkabut. Tidak menarik lagi kalangan atas. maupun kalangan bawah. Maka tak ada jalan lain, para pembuat film berputar arah, menuju ke penonton bawahan saja. Mulailah bermunculan film-film yang ceritanya diambil dari cerita-oerita tonil, berupa cerita 1001 malam. dan lain-lain. Kedatangan Jepang telah menghentikan pembuatan film film dinegeri ini. Orang-orang film banyak yang hurah ke tonil kembali. Satu_ satunya peruahaan film yang ada hanya milik Jepang Nippon Eiga Sha, yang menjadikan film sebagai alat propaganda. Tapi di sini berpangkal sen- takan baru, bahwa kenyataannya film bukan cuma alat hiburan semata, melainkan juga menjadi alat peng- ucapan ide yang penting. Maka pada masa itulah tiba- tiba muncul perhatian besar dari kalangan seniman kita terhadap film. Di Jogya para seniman muda seperti Usmar fsmail, Gayus Siagian dan D. Djajakusuma membentuk ketompok diskusi film bersama tokoh-tokoh tua yang ada pengalaman film. Bahkan kemudian dibentuk sekolah film yang mendapat animo cukup beser. tapi beberapa bulan saja kemudian clitutup karena keadaan yang rusuh.

Setelah keadaan keamanan pulih kembati, bargkil kembati peru- sahaan-perusahaan fitm milik oreng- orang Tionghoa. Bahkan produser pribumi dengan modal sendiri yang sangat terbatas iknt tampil, yakni lgmar lsmail dengan perusahaannya PERFINI (Perusahaan Film Nasional Indonesia) dan Djamatudin Malik clengan perusahaannya PERSARI (peneroan Artis Film Indonesia). Usmar yang lebih mengan- dalkan modal utama bakat dan kemauan dalam serba bagai kesulitan berhasil melahirkan fitmnya pertama D{*, ddt t,@ (fhe Long Marcn) pacla tahun 1950. Film inilah yang menandai dibuatnya film nasional pertama dengan menggunakan modal pribumi, dan dengan tema yang mumi memperlihatkan periuangan nasional. Film yan gshootirg pertamanya pada 30 Maret 1950 itu, kni dicatat dan disepakati otrang$arang fitm sebagai hari film nasional. Usmar berharap film pertama yang dibuatnya itu dapat ikut dalam Festival Film lntemasional di Cannes. Hasil peredamnnya tidak menge- cewakan, karena nasionalisme yang sedarg meluap ikut ambil peranan dalam menanggapi usaha bangsa sendiri ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar