Rabu, 23 Februari 2011

Potret pendek seorang penghibur...

Tempo 1977
Benyamin S

Benyamin s gagal jadi pilot, malah jadi kondektur bis, pegawai pn, penyanyi dan pemain film. sejak dinobatkan sebagai aktor terbaik tahun 1973 menjadi terkenal dan laris.

SETELAH Bing tiada, setelah Kwartet Jaya pecah, setelah Gudel berhenti pada langkah kecil, sering ditanyakan pada siapa lagi kita letakkan harapan sebagai penghibur kita semua.

Banyak grup bermunculan di ibukota. "Surya Grup" misalnya. Tapi ada seorang yang jauh lebih menampakkan potensi, karena dia berjuang sendiri. Setidak-tidaknya bahaya laten berupa perpecahan yang selalu melanda "grup" yang baru saja sukses, tidak jadi momoknya.

Dan orang itu adalah Benyamin. Lengkapnya: Benyamin S. Ia sudah tegak di antara kita, meskipun dimulai dengan banyak ganjelan. Tatkala seorang penyanyi dan pelawak dari kampung dinobatkan sebagai aktor terbaik pada tahun 1973, banyak orang melongo. Sedikit sekali yang benar-benar percaya, bahwa sebuah film komedi yang bernama Intan Berdun telah sanggup menyulap seorang penyanyi "gambang keromong" menjadi orang yang berhak menerima kehormatan yang diidamkan oleh setiap Bintang Film itu.

Benyamin - sang aktor - barangkali membuka juga telinganya pada waktu itu. Tetapi hatinya tetap tenang. Ia terus membuka mulutnya untuk mengucurkan lagu "pop" Betawi dengan lirik-lirik yang menyentuh hati masyarakat kelas bawah. Sementara itu tangannya mulai sibuk menandatangani kontrak film, untuk muncul dalam beberapa dagelan-dagelan konyol.

Kombinasi ini ternyata merupakan alat yang efektif sekali untuk menjadi orang yang populer dan kaya. Tiba-tiba saja anak bungsu keluarga Syuaib ini, sekarang sudah menempati sebuah rumah baru di Pondok Labu yang berharga sekitar Rp 100 juta. Tak kurang dari itu banyak orang menyangkakan permainannya dalam film Si Doel Anak Modern amat meyakinkan. Memang, Benyamin lebih dianggap sebagai seorang badut biasa. Tapi kini mungkin mulai terpikir juga apa yang ada sebenarnya di balik banyolan-banyolannya yang sederhana Sebab jelas ia tak lagi cuma badut. Setidaknya ia kini menjadi seorang produser yang antara lain menghasilkan film Koboi Ngungsi dan Hipies Lokal

Pada masa Rachmat Kartolo dipuja karena kecengengan dalam lagu "Patah Hati", Benyamin masih menjadi anggota rombongan yang berbunyi "cuap-cuap". Ia menempuh jalan yang cukup panjang sebelum mengecap enaknya macam sekarang.

Anak nomor 8 yang lahir dengan pertolongn dukun Saodah ini (5 Maret 1939) pernah bercita-cita untuk menjadi pilot. Setengah jam bergaul dengan dia sudah bisa terasa bahwa pilot gagal ini tidak hanya mengandelkan spontanitas dan lirik-lirik lagu yang bisa menukik cabul. Tapi juga punya "wawasan" tentang hidup. Ia tidak hanya tangkas, tukang sabet yang cerdik dari kenyataan sehari-hari yang kecil, tetapi juga manusia yang berpikir.

Ambisinya untuk mencuat sebagaimana seorang artis tidak sempat mematok dia jadi semata-mata robot penangkap duit. Ada gagasan moral yang selalu dicoba untuk dipeliharanya. Kalau kita katakan bahwa dia moralis, barangkali terlalu mengagetkan. Tetapi sesungguhnyalah dia tidak acuh tak acuh dan blo'on sebagaimana yang mungkin terkesan dari wajahnya. Barangkali perlu disebutkan di sini bahwa setelah tamat SMA (Taman Madya) bagian C, ia pernah menjadi mahasiswa Universitas Sawerigading jurusan Management sampai hampir tingkat II.

Kendati pada masa kecilnya tak pernah bermimpi akan jadi penyanyi dan bintang film, caranya mengutarakan kariernya pada saat ini, tidaklah dramatis. Benyamin memandang dengan biasa saja dan bercerita, betapa ibunya tidak berkenan memberi dia izin jadi pilot. Dengan kepintarannya sebagai tukang bola ia berhasil diterima sebagai pegawai PPD (Perusahaan Pengangkutan Djakarta) sebagai kondektur. Sebulan ia melayani rute Banteng-Jalan Minangkabau, Manggarai lalu berhenti. Ia tidak puas ijazah SMA-nya disamakan dengan SD. "Kerja saya suka brantem sama penumpang", kata Benyamin.

Tahun 1961 ia tercatat sebagai pegawai PN Asbes Semen selama 7 tahun. Tapi kemudian tatkala ada rasionalisasi ia keluar. "Saya keluar, saya nggak mau dipindah ke DKI untuk mulai dari nol lagi. Saya berhenti kerja, lalu ngandelin dari musik saja", kata Ben selanjutnya. "Saya nggak pikir, apakah saya bisa hidup atau nggak, pokoknya jalan terus!"

Kekerasan hati ini tidak dibarengi oleh kekonyolan, tapi perhitungan. Waktu itulah dia mengendarai DKW Humell milik kantor menyerahkan lagu "Nonton Bioskop" di studio DIMITA pada Bing Slamet. Almarhum Bing pada waktu itu hanya berkata: "Gua tahu lu bisa nyanyi, coba aja nyanyi". Benyamin tak berpikir lagi. Ia masuk ke studio. Kemudian lahirlah sebuah LP Pop Betawi yang berisi "Teisennya", "Kembang Jatoh", "Asal Mogok Genjot". Lagu yang disebutkan terakhir lahir karena DKW-nya mogok-mogok melulu di tengah jalan. "Asal mogok genjot", kata Ben sambil ketawa.

Caranya menulis lagu, yang bisa lahir di mana saja, barangkali dapat jadi gambaran hahwa orang ini telah berusaha tampil apa adanya. Kekasaran dalam lirik-liriknya, irama yang diketemukannya, dan kadangkala ke sentimentilan yang mencuat keluar dari lagu-lagunya, di samping merupakan ekspresi yang jujur juga merupakan satu cara supaya bisa komunikatif.

Dengan mengandelkan segi-segi yang murah dalam lagu-lagu itu kemudian Ben mencoba menitipkan sedikit pesan moral. Banyak orang dengan tidak sengaja hafal lagu-lagunya. Barangkali mula-mula karena tertarik oleh kemungkinan-kemungkinannya untuk memberi asosiasi cabul, tapi lama-lama ternyata Ben berusaha mengingatkan pada sesuatu tanpa kesan mendikte. Sampai di sini orang mau tak mau jadi berpikir bahwa di balik segala kejenakaan Benyamin yang spontan, tersimpan disiplin yang baik untuk melempengkan kenyataan yang timpang sehari-hari. Maka tak heranlah berkata seorang Mus Mualim: "Hanya satu yang tidak diketahui orang tentang Benyamin. Dia menghidupkan lagu Betawi yang nyaris mati, itu jasanya. Sebaiknya memang kepadanya diberikan penghargaan".

Benyamin sendiri tak bisa berkata-kata terhadap hal ini. Barangkali ia tidak tahu benar apakah dia menggali atau mengacaukan kebudayaan Betawi. Seperti dinyatakannya sendiri, setelah ia tidak berhasil menjadi pilot, cita-citanya yang lain yakni menunaikan ibadah ke Tanah Suci. Dan itu telah terlaksana haru-baru ini. Kini ia Haji dan ayah dari anak laki-laki. Dan ia sekarang lebih banyak memikirkan hari depan anak-anaknya, di samping sibuk main flm dan rekaman manakala ada kesempatan, dengan grup pengiringnya yang bernama The Bebi's.

Dengan didampingi oleh Noni, isterinya yang dinikahnya waktu tamat dari SMA (waktu dia berumur 19 tahun sedangkan Noni 17 tahun) Benyamin jadi salah seorang artis yang paling sibuk kini di Ibukota. Tahun ini (1976) saja ia sempat menolak beberapa film, karena tak mungkin bisa dilayaninya lagi. Sedangkan tahun depan (1977) hampir sepanjang tahun telah penuh.

Toh ia masih merencanakan melakukan beberapa tour ke daerah. Ia menulis lagu, juga kini mulai menulis cerita untuk film-fllm yang digarapnya sendiri. Selain itu ia membiarkan juga putera sulungnya Beib Habani (17 tahun) mendirikan band yang kini sudah menghasilkan dua buah kaset lagu-lagu, yang tak jauh warnanya dari lagu-lagu Ben sendiri. Anak-anaknya yang lain Bob Benito (14), Beim Triani (12), Beno Rachmat (10) dan Benny Pendawa (7) ada kemungkinan juga akan men8ikuti jejaknya, sebagai penyanyi atau pemain film.


Kecap untuk benyamin

Pujian terhadap benyamin dari turino junaidi, sm ardan, syuman jaya, mus mualim, junaidi dan yasir syam.

BERIKUT ini adalah komentar dari beberapa kalangan yang lebih merupakan parade pujian. Mudah-mudahan tidak terasa sebagai sekedar "kecap" saja.

Turino Junaidi (produser dan sutradara Intan Berduri)

Aktor Benyamin adalah gambaran dari orang yang ulet, kritis dan tahu menyampaikan pesan dalam film. Ini menyebabkan aktingnya selalu mengena dan bagus. Itu sebabnya kalau dia main film dan kebetulan sutradaranya kurang mampu bisa termakan oleh Benyamin. Ia akan menjadi aktor yang baik, asal dia bisa lebih teliti dalam memilih peran. Karena selama yang saya lihat ia hanya main begitu saja dalam banyoian yang konyol. Mau tak mau masyarakat penonton kalau disuguhi yang begitu-begitu saja tentu bosan. Akibatnya orang tidak gandrung lagi pada Benyamin, padahal sekarang ini dia cukup berakar di masyarakat, terutama di angan masyarakat Betawi.

S.M. Ardn (penulis dan sutradara Lenong)

Benyamin adalah orang Betawi yang ikut menggali kebudayaan Betawi. Walaupun itu dilakukan dengan caranya sendiri, tapi memang kebanyakan orang Betawi cara hidupnya seperti yang dinyanyikan oleh Benyamin. Sok keren, tapi tidak mau kerja. Di sinilah baiknya Benyamin. Ia tidak hanya menunjukkan kelakuan orang Betawi tapi juga memperlihatkan pada orang Betawi bahwa cara yang semacam itu bisa terlintas, zaman.

Sebetulnya tidak hanya Benyamin, para penulis dan pengarang lagunya juga ikut berjasa. Tapi biasanya yah siapa yang menyanyikan, itu yang menonjol. Satu hal yang menggembirakan adalah bahwa Benyamin tetap bertahan dengan Kebetawiannya. Ia tidak tergoda menyanyikan lagu selain dengan gaya dan lagu Betawi. Walaupun iramanya hard rock tapi syairnya letap Betawi, bahkan lagu Melayu pun gayanya tetap Betawi. Itulah yang menyebahkan dia tetap bertahan di hati masyarakat Betawi. Memang lagu-lagunya tidak bersumber pada lenong, cokek maupun topeng Betawi, tapi gaya pembawaannya boleh dikatakan ia meniru atau berkiblat pada kebudayaan teater asli Betawi tersebut.

Syuman Jaya (sutraara Si Doel Anak Modern)

Benyamin punya bakat dan bakat alam. Dia bisa menjadi aktor besar asal diarahkan sutradara yang tahu betul-betul bakatnya. Dia pencipta lagu, penyanyi, pemain film, bisa jadi pelawak tapi bukan down dalam jasmani ataupun ucapan yang disalah-salahkan. Ia melawak untuk menyindir suasana. Ia adalah gambaran dari kehidupan orang Betawi. Ia juga bisa menulis sajak walau pun masih acak-acakan. Dari semua itulah saya melihat kemampuannya yang belum dipunyai oleh orang lain, katakanlah aktor lain .

Saya katakan berbakat alam, karena ia tidak pernah menginjak bangku akademi. Ia anak Betawi yang jenial. Lawakan maupun lagu-lagunya selalu hasil pengamatan dari fenomena keadaan Betawi, ini menyebabkan dia berakar di kalangan rakyat Betawi, meskipun memang belum bisa berakar pada tingkat nasional seperti Bing Slamet. Tetapi kalau dia tidak terlalu sering mengobral banyolan dalam film-film yang konyol, pada suatu saat nanti Benyamin akan mencapai akar yang sama dengan Bing.

Mus Mualim (musikus)

Meskipun Benyamin kuat di panggung dan layar putih, yang pertama lebih bisa diterima karena dia mula-mula lahir sebagai penyanyi. Sejak dia tampil ke depan publik dengan lagu "Nonton Bioskop" (karangan Benyamin) yang dibawakan almarhum Bing, sampai ia memperoleh pasangan baru Lina Effendy, tidak ada yang berubah dalarn dirinya. Dia lebih menonjol ketimbang Rachmat Kartolo atau Lily Suhaeri yang menyanyikan gambang kromong, karena kedua penyanyi ini terlalu asli. Lagu-lagu Betawi Benyamin lebih pop, mempunyai banyak variasi dan tidak mengganggu. Dia juga kaya dalam berimprovisasi dan spontan. Dia telah menghidupkan lagu Betawi yang nyaris mati. Sebaiknya kepadanya diberikan penghargaan.

Oma Irama dan Benyamin mempunyai persamaan, dua-duanya berada di kalangan bawah. Cuma saja lagu-lagu Oma ada falsafahnya sedikit, seperti lagu "Rupiah" yang bikin heboh itu. Secara musikal Oma lebih berbobot. Tapi letak kekuatan Benyamin bukan pada lagu tapi pada lirik -- yang sering bikin geger. Tapi lirik itu kalau tidak dibawakan oleh Ben sendiri jadi jelek. Karena bicara tentang Benyamin adalah bicara soal dialek. Kalau dia habis nyanyi, selesai. Sedangkan pada Oma baik lirik musik, lagu dan aransemen semuanya rapih ada yang bisa diomongkan. Untunglah Benyamin mempunyai medium lain, film. Kalau tidak ia akan terdesak Oma.

Nonton Benyamin di film jangan bicara soal akting, selama ini kita nonton dia membadut saja. Badutannya memang cocok untuk konsumsi golongan bawah apalagi Jakarta. Nggak ada gunanya dia melompat ke tengah atau ke atas. Dia harus dipelihara untuk bawah, kalau dia pergi dari situ, berarti akan terjadi kekosongan. Belakangan mungkin dia bisa jadi aktor. Tapi untuk film Si Doel Anak Modern misalnya justru jadi tanda tanya, soalnya digarap serius. Seperti halnya pada lagu, kalau digarap serius, menimbulkan tanda tanya.

Junaidhi (pelawak Yogya - duplikat Beryamin)

Sebagai seorang pelawak saya sukar untuk tertawa. Tapi melihat Benyamin saya jadi heran kok bisa menarik. Padahal melihat wujudnya dia itu nggak bagus. Dia ini punya ilmu apa?

Saya ini, terus terang saja, sekarang ini banyak meniru Benyamin, baik logatnya, nyengirnya. Dia membongkar peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat, terutama melalui lirik lagunya. Semua orang kena, baik yang lagi pacaran, yang utang maupun yang kredit. Lawaknya memang bawaan bukan dibuat-buat. Dia memang sudah ditakdirkan jadi pelawak sendirian. Jorok dan porno memang kadang-kadang perlu kalau mau tenar.

Yasir Syam (pengarang lagu)

Ciri lagu Benyamin: humor, suka ngeledek dan sekenanya. Tapi tidak menyeleweng dari perasaan, sebab dia selalu membuat lagu itu apa adanya. Notnya gamblang, bisa difahami. Saya menghargai lirik-lirik lagu yang dihasilkannya. Apalagi kalau sudah diselingi oleh banyolan Ida yang genit, sedikit binal.

Lagu "Kompor Meleduk" dibandingkan dengan lagu-lagunya yang dulu seperti "Ondel-Ondel", "Panjat-Panjatan" sebenarnya sudah kurang kena. Kenapa? Chordnya sudah kebarat-baratan. Rock'n Roll, itu kan beat Barat. Menurut saya"Ondel-Ondel" rasa lndonesianya masih kuat. Saya sarankan agar Benyamin kembali ke jalan yang dulu, terutama pada jenis lagu dan lirik lagu. Sebab akhir-akhir ini saya lihat Betawinya hilang.

Saya terapkan taktik napoleon...

Wawancara tempo dengan benyamin tentang menyanyi, lagu betawi, mengarang lagu, serta main film. juga tentang sikap hidupnya.

DI bawah ini wawancara dengan Benyamin yang dilakukan di tempat kediamannya yang baru di Pondok Labu. Ini adalah gedung beton dengan halaman seluas lebih dari 500 mÿFD dengan perlengkapan sebuah ~VW Beetle, Peugeot Coklat sebuah VW Combi, meja bilyard dan Ensiclopaedia Britanica Rumah ini tampaknya tenang dan orang-orangnya rukun.

Tanya: Mengapa ar~da menyanyikan pop Betawi?

Jawab: Bersamaan dengan masa konfrontasi Malaysia, lagu ngak-ngik-ngok diganyang. Lagu-lagu Minang kemudian mengorbit. Dalam hati saya timbul pertanyaan, lagu Betawi 'kan banyak? Saya kan orang Betawi, kenapa nggak bisa? Kemudian lagu-lagu itu saya gali. Tadinya sih cuma ngarang lagu, misalnya saja "Ade-Ade Saja" dan "~ujan Cerimis" Kemudian Bing memberi kesempatan.

T: Bagaimana caranya anda bisa mengarang lagi begitu banyak?

J: Inspirasi timbul di mana saja, kapan saja. Sering di kakus jadi. Pada hal kebanyakan orang kan bengong di kakus. Lagu "Lampu Merah" lahir di perempatan jalan, lagu "Si Jampang" dikarang waktu anak saya main gambar tempel di baju kaosnya.

T: Lirik-link anda sering menjurus jadi jorok, apa disengaja?

J: Kadang disengaja, kadang tidah. Biar kayak pisau mata dua. Naa, tinggal asosiasi kita saja, sebab pikiran orang 'kan selalu menjurus ke sana. Kalau kita belajar Etnologi, manusia 70% cenderung berbuat kejahatan, naa yang cenderung ini saya ambil. Mereka tidak sadar, asal kita sendiri jangan sampai menjurus ke sana. Manfaatnya, kayak lagu "Lampu Merah", dia kan akhirnya tahu peraturan lalu lintas.

Saya nggak berani bikin lagu yang sifatnya mendikte. Sebab saya sendiri nggak mau dinasehati, makanya saya kasih humor saja, supaya ingat. Sebab harus kita akui pikiran manusia itu kriminil. Lagipula sifat orang Indonesia kan humoristis, biar di rumah berkelahi. di jalanan bertemu teman bercanda. Ini sifat dari Sabang sampai Merauke.

T: Untuk siapa anda menyanyi?

J: Saya pikir dulu saya nyanyi untuh lokal Jakarta, ternyata sekarang sampai luar negeri. Tanya deh mahasiswa yang baru pulang dari luar negeri pasti punya lokasi, eh, koleksi kaset saya. Baili lia di Jerman atau London. Saya tidak bcrpikir untuk golongan manakah saya nlenyanyi. Saya mencoba mengetrapkan lagu-lagu Betawi - kayak lagu-lagu Minang.

T: Apa anda punya guru?

J: Guru dalam spirit almarhum Bing Slamet. Waktu Bing nyanyi saya tanya pada diri sendiri kapan saya bisa nyanyi kayak dia. Gua nggak mau nyanyi kalau nggak kayak dia. Saya sering berkunjung ke rumahnya. Bing sering pesan: "Kalau kita mau nyanyi jangan malu-malu dan jangan lupa asal mula".

T: Kenapa anda sering main film-film konyol?

J: Ibarat dalam lagu, kita bedakan ada lagu yang serius dan rusak-rusakan. Jadi ada pemisahan menurut kemauan produser dan sutradara. Kalau misalnya filmnya dibikin brengsek seperti Biang Kerok, mau nggak mau saya mesti main begitu. Kalau diminta lagi kayak si Doel saya berusaha menyesuaikan bagaimana kemauan Syumanjaya (sutradara). Jangan lupa si Doel skenarionya saya baca beberapa kali. Di film lainnya, begitu saya tahu jalan ceritanya, saya improvisasi saja.

T: Apa karier anda tidak mempengaruhi kehidupan keluarga anda?

J: Tidak. Sebab isteri saya dapat mengerti dan membantu saya. Itu sebabnya saya jarang pergi sama-sama dengan dia khawatir kalau-kalau ada perlakuan dari orang-orang terhadap saya yang tidak bisa diterimanya. Cuma satu hal yang saya takutkan dalam hal ini, efek terhadap anak. Dalam film perasaan orang awam sudah ngecap: "Oh Benyamin itu begitu!" Saya takut kalau dalaun hati anak-anak itu lalu bilang: "Oh bapak lu begitu". Untuk ini saya selalu berikan mereka kebesaran hati, itu hanya dalam film. Pada isteri saya bilang: Saya tidak bercita-cita untuk jadi bintang, itu terbawa hidup saja.

T: Apa anda banyak membaca atau punyaa hobi lain?

J: Ya. Saya baca buku karangan Hamka. Dan saya senang filsafat. Filsafat hidup saya: dalam jejak kita harus menengok ke belakang, musuh yang utama adalah diri sendiri. Saya senang membaca riwayat hidup orang-orang besar. Bismarck dan Napoleon misalnya. Saya terapkan taktik Napoleon dalam lagu. Menurut dia sebelum kita tanyakan rencana kita pada seorang Jenderal lebih baik tanyakan dulu pada seorang Kopral. Jadi dalam lagu, sebelum saya tanyakan pendapat orang pinter tentang lagu saya, saya tanya dulu anak saya sendiri.

T: Bagaimana sikap anda terhadap kritik atau kecemburuan orang terhadap sukses anda?

J: Sebetulnya dulu saya tukang ribut, fisik, orang ngeliatin saja nggak boleh. Tapi sekarang lain. Di dunia ini tak semua orang benci pada kita tapi juga tidak semuanya senang sama kita, itu kan baik buat balans. Menghadapi serangan saya lebih banyak diam, karena saya ibaratkan sebagai bantingan bola bekel, makin keras bantingnya makin keras juga mumbulnya.

Dulu pernah ada kasus Persoalan Bintang Mirip, ada orang yang mirip saya yang mau menantang ngadu akting, ada tulisan yang sifatnya menyerang menjelek-jelekkan, tapi tidak saya ladeni. Belakangan orangnya datang sendiri secara baik-baik tanya mengapa saya tidak balas. Saya bilang pada dia: "Kamu kan sebagian kecil dari embel-embel yang diadu oleh orang. Kalau saya layani itu kan ngotor-ngotorkan mulut saja". Bagi saya andaikan ada orang berbuat kesalahan lalu datang pada kita, kita jangan memberi hukuman, biarkan hati kecilnya yang menghukum dirinya sendiri.

T: Kadangkala terselip pula lagu sentimentil dalam alum anda, apa anda punya masa lalu yang menyedihkan?

J: Karena saya senang pada Percy Sledge, di samping senang yang jantan-jantan seperti Marlon Brando, Kirk Douglas dan Charles Bronson. Terus terang barangkali karena saya anak bungsu kurang sekali yang menyedihkan. Tapi itu terbawa sampai sekarang, saya suka ngambek. Kepada isteri saya juga begitu, saya kira saya lebih manja daripada dia.

T: Apa harapan anda untuk masa datang?

J: Dulu saya bercita-cita jadi penerbang, sekarang apalagi cita-cita saya kalau bukan membesarkan anak. Tapi di depan Ka'bah saya minta supaya orang Indonesia semuanya disiplin dalam segala hal. Tapi saya sadar semuanya tidak bisa diminta saja, tapi harus dijalankan.

T: Bagaimana dengan pasangan baru Herlina Effendy, puas?

J: Saya merasa paling cocok dengan Ida. Lina Effendy dalam penyesuaian. Insya Allan bisa, tapi harus usaha cari bentuk. Ida kan sampai 5 tahun, dari tahun 1971 sampai kawin. Bahkan kemarin dulu setelah kawin masih mau saya ajak ke Ujung Pandang.

Pilih bing atau ben
Animo masyarakat terhadap kaset maupun film benyamin di kota kota kisaran, asahan, tanjung tiram, yogya, surabaya dan semarang.
DI Kisaran, Kotamadya Tanjung Balai, Tanjung Tiram, berkatalah A Kang pemilik toko kaset Matahari: "Orang mau Benyamin, bukan Ida Royani atau Herlinanya. Siapa saja pasangan Benyamin nampaknya tidak akan berpengaruh".

Memang di kabupaten Asahan, propinsi Sumatera Utara ini, Benyamin disambut lumayan. Barangkali karena penduduknya heterogen. Terbukti semua pengusaha kaset yang dihubungi TEMPO di sana menyatakan kelarisan Benyamin. Pembelinya meliputi segala lapisan masyarakat. Memang kebanyakan di antaranya adalah orang-orang kebon - karyawan perkebunan - yang berasal dari Jawa. "Lagu Benyamin banyak lucu, pokoknya lucu mereka senang", ujar Minarni, pengusaha toko Sanyo. Disebutkannya juga bahwa lirik-lirik yang cenderung menjadi jorok tidak membendung orang tua membelikan kaset untuk anak-anaknya.

Tapi 27 Km dari Kisaran, di Tanjung Balai. Benyamin tak bisa berkutik. "Payah", kata orang sana. Per bulan paling banter hanya bisa terjual 20 buah, sementara tak kurang 2000 buah kaset setiap bulan disabet oleh para pembeli. "Paling yang tanya kaset Benyamin orang-orang kota sini, yaitu bapak-bapak pejabat, yang lain jangan harap", kata pengusaha toko Victory.

Untuk layar perak, nasib Benyamin di daerah ini lebih terang. Bahkan film Karmila yang meledak di Ibukota dan di sini dipublikasikan besar-besaran hanya mampu bertahan 3 malam. Sedangkan Benyamin selalu sempat mengeruk penonton kelas bawah, tengah dan atas meskipun yang disebutkan terakhir memasuki gedung untuk mengantar anak-anaknya.

Ada yang mencoba menganalisa ini karena adanya kegemaran untuk berbahasa Betawi sedikit-sedikit dalam pergaulan seperti memprgunakan kata deh, sih, dong dan ente. Bahkan di Kisaran ada yang merasa lebih gagah kalau memakai istilah-istilah Betawi dalam bicara. Di Tanjung Tiram Benyamin bahkan mampu menggeser film India dan Mandarin. "Peranan yang dibawakan Benyamin selalu akrab dengan rakyat kecil, meski dibawakan dengan lawakan, selalu mencerminkan sketsa kehidupan rakyat kecil", kata Camat Tanjung Tiram mencoba cari alasan. "Orang tak peduli apakah filmnya itu bermutu atau tidak, pokoknya lucu dan akrab, habis perkara, penontonnya banjir".

Satu-satunya yang mampu mengalahkan film Benyamin adalah film-film dari Bing Slamet. Film Dukun Palsu dan Setan Jalanan pernah diputar selama 2 malam berturut-turut dengan 14 kali show. Ternyata tempat padat. Sampai saat ini Benyamin belum mampu demikian.

Kekalahan Ben kontra Bing juga terjadi di Yogya. Baik Biang Kerok I, Biang Kerok II maupun Si Jimat selalu keok kalau berhadapan dengan film-film Bing. Si Jimat misalnya seperti diungkapkan oleh Kiatantho pengusaha bioskop Soboharsono hanya mampu menarik sepertiga kali penonton Setan Jalanan. Ini menyebabkan dia tidak punya ambisi lagi memegang film Benyamin. Pengusaha ini menyangkakan dialek Betawi Benyamin serta guyonnya yang kasar tidak berkenan di hati Wong Yogya. Sebagaimana diketahui Yogya adalah kota mahasiswa, Kiatantho merasa Benyamin belum mampu menembus masyarakat elite. Publiknya adalah anak-anak 15 tahun ke bawah. Apalagi belakangan ini dirasanya permainan Benyamin kurang mantap, sedangkan pembuatan filmnya sembrono. Sedangkan segi lain dari Benyamin, sebagai penyanyi (dengan pasangan Ida Royani) dahulu pernah posisinya cukupan. Kini grafiknya menurun, bukan saja karena Herlina Effendy pasangan barunya dianggap belum setarap dengan Ida, juga karena publik sana lebih doyan kalau Ben menyanyikan pop Indonesia ketimbang gambang kromong.

Di Surabaya dahulu kaset-kaset Benyamin sehari bisa sampai laku 10 biji dalam sebuah toko di Pasar Turi. Tapi kini jarang yang menjajakannya. Diperkirakan karena tertutup oleh popularitas kaset Edy Silitonga, Koes Plus atau Bimbo. Tapi alasan yang lebih banyak disebut adalah karena Herlina memang belum bisa menggantikan tempat Ida.

Beruntunglah bahwa dalam gedung bioskop Benyamin masih mampu berkutik, meskipun hanya untuk bioskop golongan D. Untuk daerah Jawa Timur yang memiliki 152 bioskop yang tersebar di 54 buah kota Benyamin pernah mencatat angka 60.000 penonton untuk Koboi Ngungsi dan sekitar 45.000 untuk film Samson Betawi dan Traktor Beyamih.

Kejenakaan Benyamin dalam lagu untuk kota Semarang rupanya bukan apa-apa. Tapi ini bukan gara-gara lenyapnya Ida. Sejak lama sudah Benyamin memang tak punya pasaran di kota ini. Beberapa cukong yang sering mengundang artis untuk show di Gelanggang Olah Raga kurang yakin kalau mendatangkan Benyamin akan bisa meraih uang, kecuali kalau didampingi oleh tokoh lain. Memang film-film Benyamin laris, juga filmnya yang terakhir Si Doel Anak Modern Tapi itu amat terbatas pada masyarakat bawah.

Hanya saja ada terasa bahwa kendati logat Betawi Benyamin serta kekasarannya membuat dia hanya dinikmati kelas bawah, kemajuannya sebagai pemain film akan menolong dia menembus kelas elite. Sebagaimana Oma Irama yang juga bertekad membawa dang-dutnya ke kalangan atas, Ben mungkin masih menunggu waktu saja untuk menjadi milik setiap orang, sebagaimana halnya almarhum Bing.Majalah Tempo 1 Januari 1977

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar