Kamis, 24 Februari 2011

POLEMIK DALAM POLITIK NU

Oleh teman-temannya Djamaluddin Malik di kenal sebagai seorang dermawan. Dia ini menjadi bos atau raja Seniman Senen, yang waktu itu sebelum ada Taman Ismail Marzuki, pasar Senen dengan kedainya yang murah menjadi tempat pertemuan para seniman untuk minum kopi sambil membicarakan berbagai masalah kehidupan dari kriminalitas, kemiskinan, kesenian hingga ke masalah poitik.

Ketika kesenian belum terkomersialisasi seperti sekarang ini pada umumnya para seniman hidup sangat miskin apalagi bagi para seniman pemula, yang sekarang ini banyak menjadi seniman besar.Tetapi kreativitas mereka dalam masa sulit itu justru berkembang pesat, karena imajinasi mereka bisa berkembang secara bebas, bahkan liar. 

Kepada Djamaluddin inilah mereka itu mengharapkan bantuan keuangan, baik sekadar untuk minum kopi, membeli buku, menonton sandiwara hingga memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka. Untuk itu ia membuka rumahnya selama 24 jam bagi siapa saja yang ingin datang. Kedermawanan tidak hanya pada orang yang di anggap miskin, KH. Saifuddin Zuhri yang waktu itu baru pindah dari Semarang untuk di promosikan menjadi pegawai tinggi di Departemen Agama Jakarta, juga pernah di beri sebuah rumah besar di kawasan Kebayoran Baru II. Apalagi pertunjukan kesenian atau tonil banyak yang dibiayai Djamaluddin Malik secara pribadi. Hal itu di maksudkan untuk memacu perkembangan seni budaya nasional yang waktu itu sedang pada tahap rintisan. Bahkan Dr. Mashudi, Sekjen Lesbumi, pengganti Hasbullah Khalid , ketika berjumpa Djamaluddin Malik di Cairo, tiba-tiba diberi uang pound sterling yang lumayan banyak, sehingga bisa ongkos naik pesawat pp dari Cairo ke Jakarta. 

Sebelum terjun ke dunia seni budaya, khususnya film, putera Minang kelahiran tahun 1917 ini bekerja di sebuah maskapai palayaran Belanda (KPM), juga pernah bekerja di sebuah perusahaan dagang Belanda. Dari pengalaman bekerja di perusahaan-perusahaan Belanda tersebut dia memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai kiat berdagang dan managemen perdagangan modern, dan sekaligus bisa menghimpun kekayaan dari sana.

Bakat enterpreneurshipnya berkembang dengan modal finansial yang memadai, sehingga dalam waktu yang relatif singkat ia menjadi saudagar yang kaya pada zamannya. 

Baru ketika terjadi perebutan kekuasaan dari tangan Belanda ke tangan Jepang pada tahun 1942, di mana semua aset dan kekuasaan Belanda di ambil alih oleh Jepang, saat itulah Djamaluddin Malik sebagai seorang patriot mulai melangkahkan kaki untuk perjuangan dengan mendirikan kelompok sandiwara Panca Warna. Kelompok ini pentas keliling hampir di seluruh kota besar Indonesia untuk membangkitkan semangat juang dan cinta tanah air, untuk menghadapi penjajahan. Atas jasanya itu ia di angkat sebagai seorang pahlawan Nasional. Seperti yang pernah di saksikan Pramoedya, drama Djamaluddin Malik Ratu Asia, yang pernah di pentaskan di Garden Hall, Jakarta itu sangat mempesona, baik ceritanya, maupun peran pemainnya. Ini membuktikan keseriusan Djamal dalam membentuk lembaga kesenian modern ini. 

Pada masa kemerdekaan yakni tahun 1951 ia mempelopori berdirinya industri perfilman Indonesia dengan gaya Hollywood dengan mendirikan NV. Persari (Perseroan Artis Republik Indonesia). Studio film yang berlokasi di Polonia Jatinegara berada di areal tanah yang sangat luas dan memiliki sarana yang lengkap, baik untuk latihan, shoting dan pertunjukan film dan drama, di lengkapi pula dengan perumahan para artis, memang sejak awal Djamaluddin ingin mengangkat kehidupan para artis, yang kebanyakan baru meniti karir dalam asuhannya sendiri. Gedung ini sering di jadikan tempat pertemuan para seniman dan budayawan.

Pertemuan para Ulama’ NU sering kali di adakan di sini. Studio ini sangat produktif menghasilkan film, dengan produksi rata-rata delapan film setahun, sehingga ia tampil sebagai seorang produser film pribumi terbesar saat itu. Sementara itu usaha dagangnya juga terus berkembang pesat. 

Kesibukan yang luar biasa dalam dunia film dan perdagangan itu membuat Djamal merasa jauh dari agama, sehingga mengalami kekeringan dan kemiskinan rohani di tengah kekayaan materi yang melimpah. Menyadari bahwa hal itu akan membahayakan bagi keseimbangan hidupnya Djamal memutuskan untuk melakukan perjalanan fisik dan rohani ke Tanah Suci untuk mengisi kehausan rohaninya dengan menunaikan ibadah Haji, yang merupakan puncak pengalaman rohani tertinggi. Hal itu kemudian turut mengilhami lahirnya film "Tauhid" yang di produksi oleh Lesbumi. 

Ketika berada di Tanah Suci itulah timbul kesadarannya bahwa dirinya harus juga mengabdikan diri kepada kepentingan masyarakat dan agama. Maka ketika kembali ke Tanah Air tahun 1952, maka di pilhlah Nahdlatul Ulama’ (NU) untuk berkiprah, pilihan jatuh ke NU, sebab jauh sebelumnya Djamaluddin Malik sudah aktif di Gerakan Pemuda Ansor Anak cabang Kebon Sirih Jakarta Pusat. Kehadirannya kedalam pangkuan Nahdliyin sangat di butuhkan, sebab saat itu NU tengah merintis untuk menjadi sebuah partai politik tersendiri, di luar orbit Masyumi, sehingga tenaga, pikiran dan harta orang semacam dia tentu sangat di butuhkan. 



Walaupun semula komitmennya diragukan namun ia bisa membuktikan bahwa niatnya ikhlas dan akhirnya berhasil menjadi tokoh NU yang tangguh dan di segani di dalam NU maupun oleh lawan politik NU. Selain itu Djamal merasa hanya dalam NU itulah kebutuhan rohaninya terpenuhi, sebab kerohanian yang ada dalam NU (sufisme) itu sangat sesuai dengan kebutuhan rohaninya. Walaupun telah aktif di NU aktivitasnya di dunia film tidaklah berhenti, justru melalui NU itulah dia ingin rintisannya itu bisa lebih berkembang, baik karena mendapat dukungan politik dan sekaligus mampu mendapatkan pemirsa. Dan tidak sedikit hasil usahanya itu yang di salurkan ke NU, dan beberapa pengurus NU daerah menghidupi aktivitas politik dan kebudayaan daerah dengan menjadi distributor film yang di buatnya bersama Usmar Ismail dan Asrul Sani. Bahkan karena pemerintahan tidak memiliki dana untuk membiayai keikutsertaan film Indonesia dalam festival film Internasional di Tokyo 1955, Djamaluddin Malik berani membiayai ongkos pergi ke festival tersebut dengan biaya sendiri. 

Karena kegigihannya ia pernah di tuduh bersimpati pada pemberontakan PRRI, sehingga mengakibatkan pada tahun 1958 ia di penjara, walaupun tidak sampai lama, sebab sebagai orang NU tidak mungkin ia terlibat, sebab NU secara resmi mengutuk pemberontakan yang di dalangi CIA tersebut. Karena kecakapannya baik dalam berfikir maupun bertindak serta dedikasinya yang tinggi, maka segera ia mendapat tempat terhormat di kalangan politisi dan ulama’ NU. Kemudian ia melanjutkan pengurusan yayasan Amanat yang di rintis oleh KH. Wahid Hasyim, dari situ kemudian ia mendirikan PT. Timbul yang kemudian menerbitkan Harian Duta Masyarakat yang menjadi organ partai NU.

Maka pada suatu saat itu ia juga berhasil meyakinkan para ulama NU mengenai pentingnya mendirikan sebuah lenbaga kebudayaan, baik untuk keperluan untuk menampung dan mengembangkan bakat kesenian yang tumbuh di pesantren dan NU, sebab bidang ini sangat efektif untuk sarana dakwah. Selain itu juga sangat penting sebagai sarana perjuangan melawan kedzaliman dan kemungkaran yang banyak di lakukan oleh PKI dengan lembaga kebudayaannya Lekra yang sering di anggap menodai kepercayaan Islam. 

Dengan kharismanya yang besar di kalangan seniman budayawan ia berhasil menghimpun para seniman yang punya minat untuk mengembangkan kebudayaan nasional, yang tidak bergabung pada Lekra, LKN, dan sebagainya. Di situ ia berhasil mengajak Usmar Ismail, juga seorang tokoh perfilman, Asrul Sani, Anas Makruf dan juga beberapa orang pengusaha kenamaan seperti Mochtar Bina dan sebagainya. Mereka itu berhasil meyakinkan para ulama’ NU mengenai pentingnya mendirikan lembaga kebudayaan, guna membangun masa depan masyarakat, teritama masyarakat Islam. Maka kemudian didirikanlah Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi), yang pada konggres pertama di Bandung 1962 ia di kukuhkan sebagai ketua umum Lesbumi dengan di bantu Usmar Ismail ketua I dan Asrul Sani ketua II dan seterusnya. Pendeknya lembaga ini memiliki suport cukup kuat baik secara ide maupun finansial. 



Ketika ia terpilih sebagai Ketua II PB partai NU, maka jabatan ketua umum Lesbumi di tinggalkan kemudian di ganti oleh Usmar Ismail. Karena keahliannya di bidang manajemen, maka dalam PB NU ia mendapat tugas berat yakni membenahi manajemen NU agar sesuai dengan manajemen partai modern, serta mendapat tugas pelik yaitu inventarisasi dan sertifikasi tanah-tanah wakaf milik NU yang berserakan itu. Mengingat berpolitik adalah mengabdi maka walaupun ia seorang hartawan di terima tugas berat tersebut dengan sepenuh hati. Terjadinya friksi dalam NU antara kelompok garis lunak yang di pelopori Idham Cholid dengan kelompok garis keras yang di pelopori Subhan ZE, merupakan tantangan baru bagi Djamal, sebagai seorang manager yang handal, ia berhasil menjembatani konflik antara kedua kelompok tadi, sehingga tidak merebak menjadi perpecahan, berkat kepiawian dia dalam mengatasi masalah. 

Peristiwa politik bersejarah yang pernah diperankannya adalah, ketika menjadi anggota DPR GR dari partai NU, ia bersama Nuddin Lubis membuat petisi menolak pidato pertanggungjawaban Presiden Soekarno di hadapan MPRS tahun 1966, yang sangat terkenal yaitu Nawaksara, sehingga Soekarno harus merevisi pidato tersebut. Barangkali melihat situasi politik yang terus memburuk saat itu, ia juga mulai sakit-sakitan, sehingga tidak bisa aktif lagi baik di bidang politik maupun kesenian, hingga akhirnya meningggal di Munich Jerman saat berobat kesana. Ia di anugerahi beberapa orang anak, yang mewarisi bakat keseniannya adalah Camelia Malik. Bagaimanapun jasa-jasa Djamaluddin Malik tidak pernah di lupakan orang, terbukti dengan dianugerahkannya Bintang Mahaputera II (Adipurna) dan pada tahun 1973 di kukuhkan sebagai pahlawan Nasional, dan dalam dunia film jasanya di ukir sebagai nama penghargaan untuk film nasional terbaik. (www.nu.or.id)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar