Kamis, 10 Februari 2011

PERKAWINAN / 1972

PERKAWINAN

BEST FILM FFI 1972

Mas Tok (Sophan Sophiaan) adalah anak seorang ningrat kaya yang sedang belajar di Belanda dan berjumpa dengan Inge (Widyawati), seorang karyawati biro perjalanan Nitour. Setelah mereka menikah, mereka tak urung punya anak karena penyakit yang diderita oleh Mas Tok. Setelah kembali ke Indonesia pasangan ini tak disukai orang tua oleh Mas Tok, yang sudah menjodohkannya dengan gadis lain. Untung sang gadis sudah mempunyai pacar, sehingga kawin paksa tersebut urung dilakukan. Mas Tok kemudian kembali ke Eropa untuk menyembuhkan penyakitnya. Selama waktu itu, Inge diusir mertuanya karena ketahuan hamil dan dianggap melakukan serong. Ketika Mas Tok kembali dan tidak menemui istrinya, ia menyalahkan orang tuanya, karena sebenarnya bayi itu adalah anaknya. Dalam hujan salju, Mas Tok kembali menemui Inge, persis seperti pada awal pertemuan, kali ini disaksikan orang tua Mas Tok.






TIDAK disangkal oleh Wim Umboh 40 tahun, bahwa film terbarunya yang memenangkan hadiah tertinggi festival film Indonesia 73 ini lahir dari pengalarnan pahit dengan film Mama. "Penonton kita tidak suka film yang agak berlagak", begitu Wim mengomentari kegagalan film 70 mm pertama di Indonesia itu. Dengan meyakini anak muda sebagai penonton utama film-film nasional, segera saja is teringat pada suksesnya dengan Pengantin Remaja, dan lahir lab film Perkawinan, bahkan dengan team yang sama dengan film yang memenangkan hadiah tertinggi di Festival Film se Asia tahun 1971. Itulah Soalnya "Saya tidak boleh jauh dari penonton saya", begitu Wim membela kebijaksanaannya membuat Perkawinan yang mengulangi kemanisan dan kelembutan Pengantin Remaja dengan cara yang lebih matang. Apa kah sukses-sukses yang ditelurkan oleh "kesetiaan" itu akan terus di pertahankan? "Masyarakat penonton saya akan selalu saya pertahankan, itu pasti", jawabnya cepat. "Tapi", Wim melanjutkan. "film saya yang akan datang akan mengagetkan". Dan herkisahlah sutradara merangkap difektur PT Aries Film ini tentang keasyikannya menonton The Last Tanggo in Paris karya Bertolucci: anyak kalimat panjang digunakan oleh Wim untuk menjelaskan tanggapannya dan kemungkinan pengaruh sutradara muda Italia yang menghebohkan itu terhadap , dirinya, tapi akWrnya is berkata: "Saya akan mengikuti cara Bert Nucci. Saya sekarang .ini lain, saya ingin bikin film yang orang tidak tahu itu apa. Tapi setelah selesai nonton baru tahu, oh", ini begini rupanya". Sambil berkeputusan untuk mengakhiri cara bercerita film-film Indonesia yang dianggapnya sudah terlalu verbal itu. Wim memperingatkan teman-teman sejawatnya bahwa film "bukan hanya � urutan gambar, tapi di dalamnya harus ada mission. Ceritanya biasa, tapi cara mengisahkan dengan lensa, itu lab soalnya", kata Wim. Pelopor Akan halnya pernyataan-pernyataan yang menarik dari sutradara kelahiran Menado ini, nampaknya bukan soal baru bagi mereka yang mengenal nya sedikit dekat. "Saya selalu ingin, mencoba", begitu sering is tei dengar berkata. Dengan ,prinsip kepingman macam itulah pula maka Haji Djohardin, Direktur Direktorat Film Deppep, menjuluki Wim Umboh sebagai "pelopor" dalam perfilman nasional. Ini bukan tanpa alasan. Adalah Wim yang memulai penggunaan sistim layar lebar (sekaligus film silat) dalam sejarah perfilman Indonesia dengan membuat Macan Kemayoran (1965): dia juga yang mempelopori film berwarna dengan membuat film Sembilan (1966) dan dengan membuat film Mama, adalah Wim pula yang yang mempelopori pembuatan film 70 mm dengan lensa panavision di Indonesia. Lokasi di Eropa untuk film Perkawinan ini tidak pula bisa dipisahkan dengan kepeloporannya itu. Agak sayang memang kalau kepeloporan itu harus dikaitkan dengan orisinalitas sebab tidak selamanya Wim berjaya menemukan keharuan. "Tapi paling tidak ia tidak meniru klise-klise kuno yang sudah lazim dalam film kita", kata seorang anggoto juri -festival. Dan Wim sendiri memang tidak, ngotot membela orisinahtasnya, terbukti dengan sikapnya yang tidak menganggap berdosa membuat film Pemberang, walaupun itu konon tidak lebih dari saduran atas film Cape Fear. "Setelah jadi film Indonesia, soalnya akan lain sama sekali" kata Wim pula. Kurang jelas, adalah dengan ini sutradara lepasan kursus film Paris (1962-196) itu berhasrat membela Syuman Djaya, temannya yang menulis skenario Pengantin Remaja, yang dinilai oleh sementara orang sebagai suatu saduran dari karya Eric Segal. Konsentrasi Terhadap soal sadur-menyadur ini, selama sistim kerja industri film Indonesia masih belum beranjak dari sifat amatiran, nampaknya akan masih lama mengongkongi film-film buatan dalam negeri. "Pada file yang berikut, saya tidak mau tahu soal lain kecuali penyutradaraan. Saya kifi perlu konsentrasi, tidak mengurusi uang, lampu, kamera dan segala. macam tetek-bengek", kata Wim bagaikan orang yang baru sadar akan sistim kerja borqngan yang selama ini dilakukannya. Untunglah bahwa sutradara yang memulai karyanya dari bawah ini sejak lama memang telah membina suatu team kerja dengan prang-prang yang juga beruntung menjadi karyawan utama di bidang nya. Juru kamera terkemuka Indonesia, Lukman Hakim Nain, sejak pertengahan tahun enam puluhan sudah meiupakan pasangan tetap Wim. "Kalau bung Lukman masih sibuk, ya, Wim menunggu", kata seorang karyawan Aries Film. Dan musik-musik yang mengWasi film-film buatan Umboh yang satu ini, semua nya basil kerja Idris Sardi.









































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar