Rabu, 23 Februari 2011

Perjalanan panjang pak item


MENINGGAL dunia pada usia 85 tahun, Jumat dinihari pekan lalu, Pak Item alias Tan Tjeng Bok disemayamkan dua hari di rumahnya yang lama, di Pekojan, Jakarta Barat. Peti jenazah diletakkan di ruang tamu, yang keempat dindingnya penuh foto Almarhum in action. Bagi masyarakat penggemar film, tv, dan sandiwara, Tan TJeng Bok tidak sekadar jenaka. Dia adalah aktor tiga zaman. "Aktor pertama yang punya kehadiran di atas panggung," kata Sutradara Teguh Karya. Penampilan Tan Tjeng Bok memang memukau. "Item itu sejak dulu ya begitu itu, tinggi, besar, dan tidak tampan. Tapi dengan penampilannya, wah. . . suasana panggung jadi hidup," tutur Aktris Wolly Sutinah alias Mak Wok. "Kalau dia menyanyi, meski waktu itu tidak ada mik (pengeras suara), suaranya lantang enak didengar," kata Wok seraya mengenang alunan bariton si Item, yang kabarnya menggema indah ke seluruh gedung pertunjukan. Tjen Bok merintis karier di Bandung dari jenjang paling bawah. Semula ia bertugas sebaga kacung dalam rombongan sandiwara De Goudvissen. Di situ ia mengerjakan apa saja, menimba air, membersihkan alat musik, menyapu. Ia tidak digaji, hanya makan dan pondokannya ditanggung. Usianya baru 13 tahun waktu itu, dan baginya sudah lebih dari cukup jika boleh menikmati alunan suara Beng Oeng Tjeng Bok kecil ini rupanya diam-diam senang tarik suara, dan Ben Oeng adalah penyanyi pujaannya. Sekali waktu ia dipaksa naik pentas, menggantikan Beng, yang kebetulan berhalangan. Walaupun cuma dibekali latihan kilat, penampilan perdananya ternyata sukses. Tepuk tangan membahana, sedangkan Item menjauh ke satu pojok terisak-isak. Ia teringat Darsih, ibunya yang hidup menjanda di Betawi. Tak disadarinya bahwa detik itu awal kariernya sebagai artis sudah dipatok. Di samping bakat alam, suara, dan postur, Tan Tjeng Bok boleh dibilang tidak memiliki apa-apa. Pendidikan formalnya tidak menunjang, cuma sampai kelas II HIS, setingkat SD sekarang. Latar belakang keluarga apalagi. Ayahnya, jago silat Tan Soen Tjiang, sangat menentang petualangan seni sang anak. Ia acap kali gusar, dan naik pitam. Si Item dihajar sampai minggat dari rumah. Ulet dan tekun mengikuti lomba tarik suara, Tan Tjeng Bok akhirnya terkenal sebagai buaya keroncong Kota Kembang. Waktu itu ia mulai memesonakan banyak wanita. Kariernya pun dikembangkan ke berbagai cabang seni. Dari keroncong ia meloncat ke Wayang Cina, sejenis perkumpulan Mis Tjitjih di Jakarta. Lalu bergabung dengan rombongan lenong Si Ronda berkeliling Jawa Barat, kemudian pindah ke Stambul Indra Bangsawan, akhirnya masuk orkes Hoetfischer. Di sini Item kembali menyanyi, mendendangkan Montsko ke seluruh Jawa. Nasib membawanya ke Bangil, bertemu Pedro, yang memimpin grup sandiwara Dardanella. Seperti sering dikisahkan kemudian, Tan Tjeng Bok menanjak ke puncak karier bersama Dardanella. Ia ikut berkeliling Indonesia, memonopoli satu kurun zaman yang bisa disebut sebagai masa keemasan tonil di Indonesia. Tan Tjeng Bok dan Devi Dja tak ubahnya superstar, tidak ada tandingannya. Dalam periode ini, Item hidup bagaikan dalam dongeng. Dia beroleh julukan baru, Douglas Fairbanks van Java. Dia juga memperoleh bayaran paling tinggi, seimbang dengan kualitas permainannya. "Tan itu bermain padat, sangat dominan. Katakanlah dia itu mewakili grand acting, permainan dalam gaya besar," ujar Teguh Karya, memuji. Pedoman Tjeng Bok yang paling diingatnya ialah, "Jangan beri kesempatan penonton makan kacang atau kuaci." Maksudnya, penonton mesti dipikat dari awal sampai akhir, jangan dibiarkan membagi perhatian ke tempat lain. Kedengarannya sederhana, tapi pelaksanaannya menuntut dedikasi luar biasa. Dedikasi itulah yang dihayati Pak Item sampai usia renta. Walau tidak pernah belajar teori seni peran, ia banyak menimba ilmu dari pengalaman. Kesetiaannya pada acting mengagumkan. Sanip, lawan bermainnya, menuturkan kejadian di Bogor puluhan tahun silam. Ia dan Item akan naik pentas, tapi malam sebelumnya aktor besar itu terserang panas tinggi. Tapi entah bagaimana tiba-tiba aktor itu berdiri di panggung, mukanya berlumur lumpur. "Mungkin untuk mengurangi rasa panasnya," ujar Sanip. Dalam keadaan segawat itu, Tan Tjeng Bok masih sanggup menghidupkan cerita dan, seperti biasa, menguasai pentas. Terbukti juga ia di lahirkan untuk kamera. Aktris tua Chadidjah, ibunda Seniman Idris Sardi, membenarkan hal itu. Tampil bersama Tan Tjeng Bok dalam film Srigala Hitam (1941), Chadidjah langsung memuji. "Permainan Pak Item sudah bagus, biarpun baru pertama kali," katanya. "Dia memang selalu lebih bagus dari yang lain. Cuma aktingnya selalu berlebihan. Dalam kehidupan sehari-hari pun ia terkenal sombong, angkuh." Kesombongan yang menjerumuskan itu tidak diingkari, bahkan disesali Tjeng Bok kelak kemudian hari. Ia terbius ketenarannya sendiri, berfoya-foya bagaikan raja minyak masa kini. Dengan mudahnya ia gonta-ganti mobil dan istri. Bosan dengan Mercedes, beli Rolls-Royce, satu kemewahan luar biasa di tahun 1930-an itu. Istrinya 80 atau 100 barangkali. Betapa tidak. "Pemuja saya sebagian besar wanita, sehingga tidak ada kesukaran bagi saya untuk memilih pasangan. Dengan sedikit menggerakkan jari, beberapa wanita datang sekaligus," ujar Tan Tjeng Bok dalam satu wawancara panjang dengan majalah Femina. Tapi hidup gemerlapan itu cepat berlalu. Hartanya ludas untuk membiayai perkumpulan sandiwara yang dibentuknya sendiri, yang terus merugi. Sebelum Jepang masuk, Item sempat membintangi beberapa film: Srigala Hitam, Si Gomar, Singa Laoet, Tengkorak Hidup. Puluhan film lainnya menyusul kemudian: Melarat Tapi Sehat (1954), Judi (1955), Peristiwa Surabaya Gubeng (1956), Badai Selatan (1960), Bengaan Solo (1971). Belakangan, Tan Tjeng Bok juga muncul dalam sandiwara tv, acap kali bersama Mak Wok. Tapi kejayaan masa Dardanella tidak pernah kembali. Tingkat hidup Pak Item merosot tajam. Dalam masa suram, ia didampingi hanya seorang istri, Sarmini, yang dinikahi 1947. Dari wanita asal Bojonegoro ini ia beroleh dua anak, lima cucu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar