Selasa, 08 Februari 2011

Pengumpulan bahan penulisan

22 Juli 1989
Pengumpulan bahan penulisan

DUNIA perfilman Indonesia geger lagi. Pekan silam, film Pembalasan Ratu Laut Selatan, karya Sutradara Cut Jalil ditarik Badan Sensor Film (BSF) dari peredaran. Film itu dikecam masyarakat sebagai mengeksploitir seks secara murahan. Tahun lalu, film Ketika Musim Semi Tiba juga ditarik BSF dari peredaran setelah masyarakat menkritik adegan buka-bukaan yang ditonjolkan Sutradara Bobby Sandy secara berani dalam film tersebut. Sesudah masa tuna-adegan cium dalam film Indonesia diakhiri Sutradara Turino Djunaidi lewat film Jakarta-Hongkong-Macao (1968), sejak itu seks seolah-olah menjadi standar produksi film nasional kita.

Geger seks dalam film nasional ini pula yang kami angkat sebagai Laporan Utama ketika TEMPO pertama kali terbit, Maret 1971. Sejak itu. dan terakhir minggu ini, heboh seks di layar putih kita tak kurang dari tiga kali kami jadikan Laporan Utama. Mengapa film nasional kita masih mengeksploitir seks dan sadisme? Ada apa di balik semua itu? Untuk memperoleh masukan dalam menyiapkan Laporan Utama minggu ini kami mengundang sejumlah orang film berdiskusi di kantor TEMPO. Mereka adalah Teguh Karya, Eros Djarot, Slamet Rahardjo, Djun Saptohadi, Sugiyanto, dan Nyonya Budiati Abiyoga. Dipandu oleh Putu Wijaya, yang pernah membintangi beberapa film nasional, antara lain Malin Kundang, diskusi kami dengan orang-orang film tersebut betul-betul blak-blakan. Hampir tak ada masalah mereka tutup-tutupi, dan hampir semua boleh dikutip. Budiati, misalnya, membeberkan "kerikil-kerikil tajam" yang dihadapi produser. Sugiyanto bercerita tentang soal perbioskopan. Eros bicara tentang sutradara kacangan. Semua persoalan itu adalah rantai yang melilit dunia perfilman kita. Keterbukaan orang-orang film tersebut membuat diskusi tak terasa berlangsung hampir lima jam. Meski cukup banyak masukan yang kami peroleh dari diskusi, kami masih mewawancarai orang-orang film lain, baik produser, sutradara, maupun pengamat film. Tim reporter yang kami terjunkan untuk melengkapi bahan Laporan Utama dari lapangan adalah Moebanoe Moera, Budiono Darsono Tri Budianto, Muchsin Lubis, Sri Pudyastuti, Tommy Tamtomo, dan Priyono B. Sumbogo. Mereka, antara lain, berhasil mewawancarai Sutradara Cut Jalil, yang banyak dikecam masyarakat karena film Pembalasan Ratu Laut Selatan yang berbumbu seks itu. Betulkah Cut Jalil "hamba" produser? Ia menjawab semua pertanyaan kami secara blak-blakan. Di samping itu, kami juga mewawancarai pimpinan Badan Sensor Film, sejumlah produser, dan para pengusaha bioskop. Bahan-bahan mengenai persoalan yang melingkari dunia perfilman kita itu, baik yan kami Deroleh lewat diskusi, wawancara, maupun riset kepustakaan, dirangkum oleh Zaim Uchrowi, Budi Kusumah, dan Yusroni Henridewanto. Tulisan mereka itu kemudian dibikin asyik, sebagaimana Anda baca sekarang, oleh penulis kritik film TEMPO, Putu Wijaya yang pernah memenangkan Piala Citra untuk penulisan skenario terbaik dalam Festival Film Indonesia beberapa tahun lalu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar