Kamis, 03 Februari 2011

PAUL SONTOLOYO / 1974

PAUL SONTOLOYO

Paul (KrisBiantoro) merepotkan orangtuanya karena sikap kekanak-kanakannya yang tak kunjung berakhir. Atas nasehat dukun, ia dikawinkan. Belum memecahkan masalah. Lalu diserahkan ke kiai untuk belajar sembahyang dan mengaji. Perubahan terjadi. Paul lalu pergi ke kota dan jumpa dengan Hamid (A.Hamid Arief). Sesuai bakatnya ia lalu bekerja di klab malam jadi MC. Disini ia harus berhadapan dengan komplotan penjahat yang ingin memeras orang-orang kaya. Karena tak bisa menghindari ancaman, Paul mula-mula mau kerja sama, tapi lalu berhasil melarikan diri. Paul sadar kehidupan kota besar tak cocok. Ia pulang ke desa

Film ini sangat istimewa dari sudut pandang komedi/lelucon saat itu yang dimana film lelucon saat itu masih menampilkan lelucon khas Johny Walker dari India. Orang lempar muka kena orang lain, jatuh ke kolam, atau lawakan panggung, babu dan jongos, atau lawakan yang menampilkan lelucon fisik Ratmi yang gemuk, Ateng yang pendek dan sebaginya. Dan seterusnya nanti disusul munculnya Nyaa Abbas dengn komedia non fisik tetapi imajinasi penonton.

Tetapi dalam film Paul Sontoloyo ini cukup unik, dibintangi Krisbiantoro. Skenarionya masih menggunakan "bahasa Keng Po" yang ditulis oleh J.Cabin Joe atau Chairil bin Yusuf. Tetapi saya curiga sutradaranya memang orang Hongkong ini dilihat dari skenario yang diatulis memakai bahasa Keng Po. Sedangkan penata Photographynya mungkin orang lokal yang bernama Chairil bin Yusuf , bahkan dalam data Indonesia Chairil ini menulis skenarionya juga atau cuma translate saja.

Tetapi yang ada dalam film ini adalah penggambaran ia tentang Indonesia dan orang-orangnya yang masih bodoh, masih percaya sama dukun, suka buang air besar di kali, percaya pada gunung-gunung suci, menyembah kambing, yang penting menggambarkan Indonesia dengan seenaknya saja. Hal ini sangat berbeda dengan penggambaran Belanda yang membuat film tentang Indonesia walaupun apa yang digambarkan dalam Indonesia itu nyata tetapi jadi bahan tertawaan juga di Belanda, walaupun saat membuat film tidak ada niat untuk mentertawakan, tetapi penontonlah yang mentertawakan. Sedangkan Cabin yang hanya sebagai turis yang melihat Indonesia dan tinggal beberapa tahun, menggambarkan dengan kekonyolannya. Cabin tentu memiliki dasar ide ini sebelum membuat filmnya sehingga dia memasang film ini sebagai film komedi, dia sadar betul akan hal ini. Tetapi ketika ini di putar di Indonesia, rakyat Indonesia serasa melihat dirinya yang dipermalukan. Hal ini pernah terjadi pada film tahun 1930'an Nyo main pelem, atau Indonesie Malaysie.

Walaupun banyak juga penonton yang tertawa, mereka bukan mentertawakan diri mereka, tapi adegan itu memang lucu, tanpa mereka sadari itu adalah perbuatan mereka sehari-hari juga.

Krisbiantoro juga berang terhadap skenario ini....contohnya..
Life music: Musik perkawinan
Paul terkejut melihat naga menyemburkan air, naga sedang menyembur air dari hidungnya (gajah, red).
Paul merasa geli melihat naga itu, dari geli menjadi histeris sampai ingin kencing, ia berbalik ke belakang (away camera) buka celana dan kencing saja.
Kencingnya (Paul) menyembur perperti naga.
Kencingnya (Paul) menyiram muka si penggotong Paul. Nampaknya muka si penggotong itu jadi lucu, karena asin dan bau kencing Paul.

Krisbiantoro menyatakan ia harus kencing dua kali untuk adegan itu. Dan yang lainnya harus mengencingi Ratmi Bomber, karena Krisbiantoro protes, maka adegan mengencingi Ratmi dibatalkan.

Ini komedi yang menampilkan buaday setempat, sama halnya kalau kita melihat budaya asing lainnya, dan dijadikan komedi, maka akn menjadi bahan tertawaan juga. Budaya modern dan kuno masih terus dijadikan komedi saat itu. Termasuk juga Tarzan yang ke kota, orang desa yang ke kota, atau orang miskin yang mendadak kaya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar