Rabu, 09 Februari 2011

Panggung Pinggir Kali / 2004

Panggung Pinggir Kali

 
Film ini mencoba untuk menampilkan realita kota dengan kaum kumuhnya. Ucik hampir semua film dia tentang/seperti ini. Dia sukses membawanya di Badut-Badut Kota, walaupun film sejenis itu sudah banyak juga yang membuatnya. Tetapi Ucik nekat sekali membawa realita kota besar itu kesituasi tahun itu, disaat semua orang sedang menikmati kecanggihan film Hollywood, kekayaan dalam sinetron. Sehingga film ini hanya bertahan 1 hari saja dibioskop, ini bercerita tentang kehidupan penyanyi dangdut kelas bawah yang hidup di perkampungan kumuh Jakarta. Skenario ditulis oleh Djuli Ismail, seorang tukang sablon yang sangat mengenal kehidupan kaum Kumuh yang menjadi latar cerita. Skenario tersebut merupakan pemenang Lomba Penulisan Skenario Film Cerita Kompetitif 2004 yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan. Film ini hampir mirip dengan yang dibuat Rudi Sujarwo Mendadak Dangdut 2006, cuma bedanya Ucik membuatnya terlalu serius dan tragis, sedangkan Rudi membuat segar dan hanya pijakan saja dalam masalah Dangdut itu sendiri, dan memasang bintang -bintang yang segar saat itu.










Pak, lihat itu kelakuan anak buah sampeyan."
Raisin, pedagang barang kelontong, melontarkan kalimat itu dengan nada jengkel, matanya menunjuk poster Presiden Bambang Yudhoyono di pintu kiosnya. Raisin, tokoh utama Panggung Pinggir Kali, memang punya pengalaman buruk dengan aparat pemda. Ya, aparat yang berseragam lengkap, tapi memiliki hobi mengutip "pajak" dari pedagang-pedagang kelas teri. 

Kita cepat tahu, sosok Raisin tidak hanya mewakili dirinya—dia bisa bernama Kodir, Somat, Duloh, atau siapa saja yang nasibnya tak begitu beruntung di metropolitan ini. Panggung Pinggir Kali berangkat dari skenario istimewa karya Djuli Ismail, seorang tukang sablon yang ternyata menang lomba penulisan skenario Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Djuli Ismail akrab dengan realitas pahit dalam keseharian masyarakat, sebuah sensitivitas yang lekas ditangkap sutradara H. Ucik Supra (Robi dan Rebo, sinetron Misteri dari Gunung Merapi, dan Badut-badut Kota).







Panggung Pinggir Kali film yang mencoba merekam realitas sosial melalui satu "bahasa" yang sederhana. Salah satu harta kekayaan yang terkandung dalam film ini adalah ungkapan-ungkapan satire yang bertebaran di antara dialog. Inilah kisah cinta Raisan-Rani—dimainkan oleh aktor Agus Kuncoro dan penyanyi dangdut Kristina—sepasang kekasih yang berusaha memelihara mimpi-mimpi mereka untuk tak menyerah menghadapi gempuran nasib buruk. 

Raisan, anak seorang maling. Ketika masih dalam gendongan ibunya, dia melihat bapaknya dibakar massa. Ayahandanya tertangkap basah ketika sedang mencuri, dan ibunya pergi entah ke mana. Dia dibesarkan oleh bibi dan pamannya yang miskin. Raisan tumbuh dan berkembang dalam suasana serba prihatin, dan ia tak punya pilihan lain kecuali sebuah harapan: mewujudkan cintanya kepada Rani. Mereka berjanji akan bertemu di tempat favorit mereka, sebuah panggung bambu, di pinggir kali—apa pun yang terjadi. 

Waktu bertiup, hidup bergerak perlahan, dan akhirnya kehidupan mereka pun bergeser—meski masih sulit dikatakan berubah. Panggung Pinggir Kali menggambarkan rangkaian tekanan yang dialami oleh Raisan: diperas preman, dikompas pejabat pemda, dianiaya tukang pukul selebriti. Raisan yang sebelumnya pedagang asongan, kini menjadi pedagang kelontong dan mendirikan sebuah kios. Rani? Dia yang bercita-cita menjadi penyanyi dangdut ngetop, kini mulai terkenal. 

Skenario Panggung Pinggir Kali dibangun dengan pendekatan sebuah black comedy. Sutradara Ucik Supra memang lantas mengubahnya menjadi sebuah satire. Namun, gambaran suram tetap mencorong. Rani yang sukses adalah Rani yang akhirnya menikah dengan orang lain, seorang polisi. Dan Raisin yang patah hati adalah Raisin yang kehilangan harapan untuk hidupnya, dan sekonyong-konyong banting setir menjadi perampok. Warna muram itu kian sempurna ketika hidup perampok yang putus asa ini diakhiri oleh suami Rani sendiri. 
  
Panggung Pinggir Kali mungkin bukan judul yang memikat penonton. Film dengan pendekatan kreatif ini hanya bertahan satu hari di bioskop-bioskop 21. Permainan Agus Kuncoro cukup memukau dan mampu menutupi kelemahan Kristina. Kesalahan Agus dan Ucik Supra mungkin cuma satu: terlalu akurat memotret realitas. Suseno

Dalam ajang kreasi Lomba Penulisan Skenario Film 2004 yang diselenggarakan oleh Kantor Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata (Kantor Meneg Budpar) telah diumumkan dua pemenang, yaitu Panggung di Pinggir Kali(karya Djuli Y Ismail) dan Tjanting Revolusioner (Maria Lauranti Stephanie dkk).Sesuai dengan perjanjian, skenario yang terpilih akan dibuatkan filmnya dengan materi dasar video digital. 
Kemarin, Selasa (19/10), skenario Panggung di Pinggir Kali sudah mulai menjalankan syuting pertamanya di daerah Gadog, Bogor, Jabar. Judul aslinya, Panggung di Pinggir Kali, dirubah menjadi Be Happy di Pinggir Kali agar lebih komersial.

Drama-komedi yang diproduksi PT Jatayu Cakrawala Film ini diproduseri Harry Simon. Penggarapannya dipercayakan pada Ucik Supra (dua film arahannya sebelumnya, Rebo dan Robby serta Badut-Badut Ibukota). Sedangkan bintang utama wanitanya dipercayakan pada penyanyi dangdut Kristina yang baru untuk pertama kalinya main film. Berdampingan dengan Agus Kuncoro yang dulu mengawali debutnya lewat film Saur Sepuh IV, Titisan Darah Biru (1991).

Kristina memerani tokoh gadis remaja bernama Rani, dan Agus sebagai Rais. "Pemeran Rani harus bisa nyanyi. Calon-calon pemerannya, selain Kristina ada beberapa nama lagi seperti Denada dan Cece Kirani. Akhirnya Kristina yang dipilih selain karena bisa nyanyi, juga karena postur tubuhnya pas untuk tokoh Rani," tutur Ucik.

Ceritanya berawal dari persahabatan dua remaja kampung, yaitu Rani, yang ingin jadi penyanyi, dan Rais, yang mau membuatkannya panggung. Persahabatan itu rusak karena salah paham dan rasa kecewa, bahkan berbuntut balas dendam oleh Rais, yang berkembang menjadi preman.

Diperkirakan, syuting film ini akan memakan waktu selama 30 hari. Konon Be Happy di Pinggrir Kali membutuhkan bujet sebesar Rp 3 miliar, namun dana yang tersedia baru Rp 1,25 miliar. Jelas mesti dicari sponsor untuk menambal kekurangannya. Demikian pernyataan dari ,b>Sri Hastanto, Deputi Bidang Seni dan Film Kantor Meneg Budpar.

Sementara film Tjanting Revolutioner dirubah judulnya menjadi Anne van Jogja. Syutingnya akan dimulai bulan November mendatang di Yogyakarta dan sekitarnya. Sebagai sutradaranya dicalonkan kawakan Bobby Sandy namun para bintangnya masih diseleksi.
 
Panggung Pinggir Kali Potret Buram Kaum Pinggiran
INILAH satu dari sekian banyak film nasional yang menyempal dari tema yang biasanya digarap: remaja metropolis. Berangkat dari skenario pemenang pertama Lomba Penulisan Skenario Film Cerita Kompetitif 2004 yang diadakan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, film Panggung Pinggir Kali (PPK) yang ditulis Djuli Ismail menyoroti potret buram kehidupam kaum pinggiran (urban) di Indonesia.
Dan di bawah arahan H Uci Supra, PPK yang memasang artis dangdut Kristina sebagai aktris pendukung utama wanita bersama Agus Kuncoro sebagai pasangan mainnya, menawarkan sesuatu yang lain.
Menjadi lain karena di tengah munculnya film seperti Brownies, 30 Hari Mencari Cinta, Eiffel Im In Love, Ada Apa Dengan Cinta, Tentang Dia atau Bangsal 13, PPK berada di wilayah "luar mainstream".
Meski sebenarnya secara penceritaan, film yang diproduksi Pantap (panitia tetap) Film Kompetitif Budpar bekerja sama dengan PT Jatayu Cakrawala Film ini sungguh sangat dekat dengan realitas yang ada. Namun, kedekatan dari sebuah tema yang ada di masyarakat biasanya justru tidak mendapatkan tanggapan yang positif dari masyarakat penontonya sendiri.
Kasus serupa telah terjadi terhadap beberapa film nasional yang berangkat dari kasus serupa. Tengoklah film Sorta, Surat untuk Bidadari, Bulan Tertusuk Ilalang, Cemeng 2005, serta 100% Sari. Hal yang sama terjadi juga pada beberapa judul film yang mendapat subsidi atau bantuan pemerintah, seperti Telegram dan Daun di Atas Bantal.
Apakah kasus serupa, bagusnya sebuah film, dan sepinya apresiasi penonton akan terjadi terhadap film ber-genre drama sosial ini?
"Ya, kami menyadari itu, apalagi jaringan bioskop di daerah banyak yang gulung tikar," papar Ady Surya Abdi, salah seorang anggota Pantap Film Kompetitif 2004.
Kalaupun ada jaringan bioskop yang bertahan, tambah Ady, itupun jaringan bioskop 21 yang cenderung tidak terjangkau penonton kelas menengah ke bawah. Berbeda misalnya, dengan film-film yang membidik segmen penonton "putih abu-abu" yang biasanya justru cenderung akan meledak di pasaran.
Cerita film ini Mimpi Mapan
Panggung Pinggir Kali berkisah tentang persahabatan Maharani (Kristina) dengan Raisan (Agus Kuncoro). Perkawanan sejak kecil di antara keduanya berlanjut hingga remaja. Dan sebuah panggung di pinggir kali yang dibangun Rais untuk Rani menjadi media bagi mereka berdua untuk mengkhayalkan mimpi-mimpi mereka.
"Suatu saat Rani ingin menjadi seorang biduan terkenal," harap Rani kepada Rais. "Dan jika pada saatnya Rani menjadi biduan, jangan pernah lupa pada kang Rais ya," harap Rais.
Selanjutnya, mereka berdua pun berdendang, Rani berpura-pura menjadi biduan kecil dan Rais menjadi pengiringnya dengan ketipung. Semua peristiwa nan indah itu terjadi di sebuah panggung pinggir kali di sebuah desa.
Hingga pada saatnya nasib memisahkan mereka. Rani yang mahir menyanyi mulai menjadi biduan kelas kampung dan pada akhirnya terdampar ke Jakarta, nyaris menjadi korban prostitusi terselubung.
Sedangkan Rais menjadi pedagang kelontong keliling hingga akhirnya mampu mendirikan sebuah kios permanen di sebuah tempat di kota Jakarta. Rani yang akhirnya selamat dari jaringan prostitusi, bergabung dengan sekelompok penyanyi dangdut jalanan.
Di film ini, akting Agus Kuncoro sangat menolong untuk menutupi akting Kristina yang terlalu datar dan naif. (Benny Benke-81)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar