Selasa, 08 Februari 2011

PANGGILAN DARAH / 1941

PANGGILAN DARAH


Film Panggilan Darah mendapat sambutan yang baik dari penonton, bahkan produser mendapat masukan tambah dari iklan terselubung pabrik rokok Nitisemito (Kudus), pabrik batik pe Tan Jauw Lin (Pekalongan) dan dari 2 majalah. Nama Soeska segera terkenal sebagai sutradara, Nama pemain utama wanita Dahlia, yang memulai karirnya di panggung, mendadak populer lewat debutnya pada film yang pertunjukan perdanannya di Bioskop Orion Batavia 30 juni 1941, padahal saat itu penonton kalangan menengah ke atas sudah tidak tertarik lagi menonton film buatan dalam negeri. Tempat duduk belakang pasti kosong kalau ada film Indonesia. Sebaliknya di kalangan penonton bawah, film Panggilan Darah ini menjadi pembicaraan. Dahli menjadi terkenal dan Soerip sangat disukai penonton, yang dianggap mainnya wajar tidak dibuat-buat. adegan yang dikenang banyak orang adalah adegan ketika Dahlia dan Soerip meninggalkan desanya dengan membonceng gerobak. Keduannya naik di belakang sambil menjuntaikan kaki, terasa bebas dan wajar. Nyanyian Soerip di Pabrik sementara bekerja mengasyikan dan mengharukan. Ditambah sambutan oleh nyanyian S,Poniman sambil mengiringi dengan petikan gitar. TEtapi adegan ini di protes oleh penonton kelas atas, mereka secara sinis mempertanyakan apa benar mandor-mandor di pabrik Nitisemito selalu membawa gitar kalau ke pabrik?

Dua anak yatim piatu (Dahlia dan Soerip) tidak betah hanya menerima pemberian orang saja. Mereka ingin hidup dari keringat sendiri. Maka berangkatlah mereka ke kota. Di kota mereka hidup sengsara, terlunta-lunta. Akhirnya mereka mendapat pekerjaan sebagai pembantu di rumah H. Ishak. Tetapi, isteri Haji Ishak (Wolb Sutinah) congkak dan kejam. Kedua anak yatim itu sangat menderita karena harus kerja berat, dinista, dicaci maki, bahkan dipukul. Sementara itu, nyonya haji juga sekarang jadi sering ribut dengan mantunya karena sang mantu ini sering mengganggu kedua anak yatim tersebut, terutama Dahlia yang cantik.

Akhirnya, kedua anakyatim kabur dari rumah H. Ishak. Kemudian barulah datang orang yang membawa potret kedua anak itu kepada H. Ishak sambil menerangkan bahwa mereka sebenarnya adalah masih kemenakan H. Ishak sendiri, yakni anak perempuan dari H. Ishak yang dulu lari dengan seorang pemuda. H. Ishak sangat sedih, tambahan pula isterinya terus juga mencari-cari pertengkaran saja. Maka ia jatuh sakit. Ia suruh mencari kedua anak yatim kemenakannya tersebut. Dahlia dan Soerip sudah pergi ke Kota Kudus untuk menemui kenalan mereka, seorang mandor (penyanyi S. Poniman) di pabrik rokok kretek Nitisemito. Melalui iHan yang dipasang oleh H. Ishak, orang akhirnya bisa menemukan kedua anak yatim itu. Kebetulan waktu itu Dahlia sedang sakit. Kedua gadis yatim ini selanjutnya dipelihara oleh H. Ishak. Dan kemudian Dahlia dikawinkan pula dengan Surakhma. Sesudah hidup Dahlia senang, maka ia bercita-cita ingin. mendirikan rumah yatim piatu. Istri Ishak yang telah insaf mendukung dan membagikan hatranya.

1 komentar: