Kamis, 24 Februari 2011

Nyoo Han Siang

Nyoo Han Siang

Sebulan lebih setelah merayakan ulang tahun ke 56 tanggal 31 Agustus 1985, Nyoo Han Siang tutup usia setelah empat tahun menderita penyakit yang cukup parah yaitu kelumpuhan saraf yang mengakibatkan kebutaan dan kebisuan. Hanya kemauan baja dari seorang tokoh kaliber pejuang yang mampu melewati masa kegelapan dan kesendirian itu dengan semangat perjuangan keinginan untuk hidup dan berkarya.

Nyoo pada tahap terakhir riwayat hidupnya yang berliku mulai dari pemuda yang resah. mencari bentuk, wartawan, pengusaha, bankir dan semi-politikus, mendekati dan menjadi produser film suatu profesi yang berada dekat dengan kawasan budaya dan wawasan seni.

Dari perjalanan hidupnya yang pada kita dapat menggali pelbagai inspirasi dan dapat merupakan sumber motivasi untuk melanjutkan idealisme almarhum yang masih memerlukan penggarapan khususnya di bidang pembauran bangsa.

Nyoo Han Siang termasuk dalam tokoh masyarakat keturunan Cina (*kalau memang tida pantes di sebut Tionghoa) yang pada mula’nya memang berafiliasi dengan Baperki sebagaimana almarhum Auwyong Peng Koen alias PK Oyong (Pendiri „Kompas") almarhum Soe Hok-gie (adik Arief Budiman) dan Mr.Yap Thiam Hien dari deretan tokoh eselon I Baperki Mereka ini adalah keturunan Cina yang pada awal mulanya turut mendirikan Baperki sebagai organisasi kemasyarakatan yang bertujuan menggalakkan proses integrasi bangsa, Kemudian karena berbeda pendapat dengan almarhum Siauw Giok Tjhan yang menyelewengkan aliranya jaringan syaraf Nyoo. Akan tetapi patut di ingat bahwa almarhum memang pada mulanya menderita penyakit turunan diabetes di mana orang tua dan kakak-kakaknya semua meninggal karena diabetes tsb. Pelbagai schok itu menerangkan bagaimana Nyoo menghadapi gelombang pukulan moral, fisik dan biologis pada sisa 10 tahun umurnya sejak pertengahan dekade 1970an.

Idealisme Gigih

Nurani wartawan, bakat dan minatnya sebagai intelektual tidak pernah hilang dari karier Nyoo Han Siang sekalipun telah menjadi bankir. Ia tetap bergaul dengan semua golongan yang bisa dianggap "intelektual" mulai dari wartawan, seniman, politikus ABRI di samping bankir dan pengusaha sebagai rekan seprofesi.

Penulis mengenal Nyoo sejak tahun 1970, masih di saat garis karier yang menanjak menjelang kulminasinya di BUN (*Bank Umum Nasional) dalam suatu wawancara khusus untuk majalah berita "Ekspres" (almarhum).

Laporan utama itu memuat wawancara penulis dengan Nyoo Han Siang dan ulasan tentang golongan Cina di Indonesia berjudul "Minoritas Cina Pintu Kecil dan Cukong Besar". Nyoo berusia 40 tahun dan penulis 25 tahun, tapi segera dapat berkomunikasi secara berimbang dalam frekuensi yang kurang lebih sarna dalam strategi dan praktek pembauran. Sejak itulah penulis mengenal Nyoo dan mengikuti dari jauh keterlibatannya dalam kegiatan politik dan bisnis, sosial dan ekonomi serta menyaksikan kegigihannya memperjuangkan idealismenya.

Cikal bakal Prasetiya Mulya adalah suatu pertemuan di CSIS yang disponsori oleh Nyoo Hian Siang yang kemudian agak abortus. Nyoo juga aktif mendirikan Karpenas sebagai upaya membantu pengusaha golongan pribumi, tapi karena mis-manajemen, Karpenas lenyap tak tentu rimbanya. Pada 28 Oktober 1977, Nyoo Han Siang adalah salah satu dari 8 orang pendiri Bakom PKB yang dikukuhkan oleh Mendagri 31 Desember 1977.

la aktif dalam kepengurusan Perbanas, menghidupkan majalah Perbankan, mendinamisasi Akademi dan Lembaga pendidikan yang disponsori Perbanas, turut ambil bagian dalam majalah "Progres" (almarhum) di samping, tentu saja punya andil dalam mendirikan "Suara Karya" dan banyak proyek politik bisnis lainnya. Kemudian terjadilah kemerosotan grafik riwayat hidup Nyoo yang telah terurai di atas. Ketika Yayasan Prasetya Mulya lahir tahun 1980 Nyoo telah agak invalid, kehilangan penglihatan dan kelumpuhan mulai menyerang dirinya. Praktis sejak tahun 1981 itu kesibukannya hanyalah berobat dan berobat, melanglang buana dari Chicago sampai Tokyo, Eropa dan Hongkong kembali ke Jakarta dalam kondisi yang stagnan dan memburuk. Tapi ia tetap mempunyai ambisi dan selalu bertekad untuk berprestasi sehingga karier sebagai produsen dan pemilik laboratorium film berwarna di Indonesia juga di manfaatkan untuk merangsang arus baru film Nasional.

Thema kepahlawanan seperti November 1828 serta thema-thema kemanusiaan, perjuangan yang mengungkapkan dedikasi, pengabdian tulus dari manusia Indonesia di tengah kemelut pembangunan telah memberikan banyak piala Citra bagi film yang diprakarsainya. Terakhir yang belum tercapai adalah rencananya mengabadikan biografi Chairil Anwar :"Aku Ingin Hidup 1000 Tahun Lagi".

Nyoo Han Siang hanya diberi 56 tahun untuk hidup di bumi Indonesia di mana sepersepuluh harus menyelesaikan panggilan terakhir profesinya sambil bergelut melawan kelumpuhan dan kebutaan. Hanya manusia kaliber tokoh sanggup mengatasi cobaan hebat itu. Pada saat berkabungnya segenap aliran masyarakat dari segala lapisan, dari pelbagai profesi, tidak hanya keturunan Cina tapi juga pribumi yang merasakan kehilangan besar bagi masyarakat Indonesia. Nyoo Han Siang adalah satu dari sekian banyak warga negara Indonesia ke turunan Cina yang tidak perlu ganti nama tapi dapat membuktikan bahwa dedikasi dan idealismenya diterima oleh masyarakat secara wajar dan sepadan.

Pelajaran

Komplikasi politik dan bisnis merupakan sebab dan akibat menanjak dan merosotnya karir Nyoo Han Siang. Akan tetapi penampilan pribadinya mengalahkan "kekejaman iklim politik", disegani dan dihormati kawan dan saingan. Pada masa-masa yang akan datang ini akan sulit mencari tokoh semacam Nyoo Han Siang yang unik.

Kita melihat ada tokoh tokoh non pribumi yang non bisnis "non-economic animal", yang "pure social animal" seperti Dr. Lie Tek Tjeng, Dr. Thee Kian Wi, Dr. Mely Tan, Mr. Yap Thiam Hien tapi kita jarang melihat orang bisnis yang aktif dan prihatin dengan soal-soal intelektual.

Nyoo Han Siang unik, sebab ia bisa mengkombinasikan antara "economic animal" sebagai bankir, dengan "social animal" sebagai dermawan dan cendekiawan yg pandai bergaul dengan seniman walaupun perbendaharan kata dan bahasanya memang tidak memungkinkannya menjadi "full-intelectual" seperti Sinduhata atau Junus Jahya:

Pada generasi non-pribumi yang akan datang barang kali akan sulit ditemukan tokoh atau pribadi seperti Nyoo Han Siang yang mampu ber-dwi-fungsi seperti itu. Kebanyakan masyarakat non-pribumi sangat takut berpolitik, akibat trauma Baperki dahulu. Mereka hanya ingin hidup tenang, tidak berpolitik dengan siap risiko dituduh hanya mencari uang mencari uang melulu dan tidak berjiwa sosial. Sebabnya dapat diuraikan bahwa mereka politik-phobie karena memang takut atawa di paksa takut

Yang bisa berpolitik dan mampu menembus hutan rimba politik Indonesia setelah Orde Baru bisa dihitung dengan jari tangan, dan yang bisa dikatakan itu-itu juga. (*minimal mampu menjilat dan punya watak budak kepada sang Penguasa tampa mesti repot-repot perjuangken ia punya kaum)

Yang seperti Nyoo masih belum diketemukan dan dalam konteks ini masyarakat yang mendambakan pembauran kehilangan seorang tokoh dan pribadi yang dapat menjadi sumber inspirasi dan panutan dalam bergaul, berbaur, bersahabat, bersetia kawanan dengan tidak menjadikan keturunan sebagai hambatan. Selamat jalan Nyoo Han Siang. Pribadi langka seperti Anda memang jarang tapi kami yakin Tuhan juga akan tetap mewarisi bangsa ini dengan semangat kesetia-kawanan seperti yang telah diperlihatkan oleh Anda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar