Kamis, 24 Februari 2011

Nyoo Han Siang Dan Perfilman Indonesia

Oleh Hardo Sukoyo

Minggu, 22 Januari 2006
Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) lewat Festival Film Indonesia (FFI) 2005 kembali memberikan penghargaan kepada produser film yang paling banyak memanfaatkan jasa teknik film dalam negeri sepanjang tahun, dengan menganugerahkan piala khusus Nyoo Han Siang. Pada FFI 2005 ini piala Nyoo Han Siang diberikan kepada PT. Kharisma Starvision. Piala Nyoo Han Siang untuk pertama kali diberikan kepada Miles Production, pada FFI 2004.

Nyoo Han Siang lahir 31 Agustus 1930 di Yogyakarta, berpulang pada 30 September 1985 di Jakarta dan dimakamkan di Semarang, telah dianugerahi Satyalencana Wira Karya oleh Pemerintah sesuai dengan Keppres No.016/TK/ Tahun 2004 tertanggal 13 April 2004, sebagai penghargaan atas dharma bhaktinya terhadap Negara dan Bangsa Indonesia di bidang perfilman. Tetapi kemungkinan bagi generasi muda ada pertanyaan, siapa sebenarnya Nyoo Han Siang? Dan apa andilnya dalam perfilman di Indonesia selama ini?

Dalam bukunya "Hidup Boleh Berakhir, Semangat Tetap Berlanjut" (1990), Syarif Hidayat, mantan wartawan Tempo, dalam kata pengantar di antaranya menulis; "Saya kenal Nyoo Han Siang ketika sebagai wartawan. Salim Said redaktur film majalah Tempo memberi tugas untuk wawancara dengan Nyoo Han Siang sehubungan dengan peresmian studio dan laboratorium film berwarna pertama di Indonesia, International Cine & Studio Centre (disingkat Interstudio), pada 16 Maret 1976, di Jalan Raya Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Saya tidak tahu siapa Nyoo yang sebenarnya. Yang pasti saat itu pikiran saya dipenuhi dengan permasalahan perfilman yang menyangkut antara idealisme dan komersialisme. Apakah Nyoo seorang yang idealis, ataukah ia komersialis?

Ternyata ia seorang idealis. Pernyataan-pernyataannya dalam wawancara itu menunjukkan bahwa ia sangat rindu untuk membesarkan perfilman nasional. Ia prihatin atas tema film yang mengabaikan segi-segi idiilnya

Sebelum Interstudio didirikan oleh Nyoo Han Siang, sepanjang sejarah perfilman Indonesia, dalam catatan kita, film-film berwarna Indonesia terpaksa diproses di luar negeri. Dan dengan adanya laboratorium film Interstudio itu, para pembuat film Indonesia, selain bisa berhemat juga dapat mengurangi ketergantungan Indonesia pada laboratorium film di luar negeri, dan kreatifitas pun diharapkan lebih berkembang. Jika sebelumnya sebuah film yang dibuat di Indonesia dan di proses di Jepang, misalnya, menghabiskan waktu beberapa bulan, dengan hadirnya Interstudio, bisa diproses dengan waktu kurang dari separuhnya.

Bahkan, film yang disyuting hari ini, dua hari kemudian sudah dapat dilihat hasilnya. Kenyataan ini, merangsang para sutradara untuk lebih kreatif. Dengan itu Hyoo Han Siang sudah membuktikan bahwa ia seorang pengusaha idealis. Semasa hidupnya, keinginan untuk memajukan perfilman Indonesia yang berkali-kali diucapkan selalu diupayakan dapat terealisir. Dan Interstudio adalah wujud nyata dari keinginannya itu.

Masuk ide keluar film, begitulah gagasan Nyoo Han Siang untuk Interstudio. Ide digarap, diproses menjadi film secara utuh di dalam negeri dengan kualitas prima. Jadilah film yang bukan hanya menjadi kebanggaan karyawan, artis, dan produser semata, tetapi juga mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia, karena merupakan karya utuh bangsa.

Untuk membantu menemukan pemain film baru sekaligus membekali mereka dengan pengetahuan seni peran, Nyoo Han Siang telah mengadakan kursus seni peran di bawah pimpinan Wahyu Sihombing dan Tati Maliati Sihombing, yang antara lain telah melahirkan aktor dan aktris film Ray Sahetapi dan Ida Leman.

Sebagai seorang produser film, Nyoo Han Siang memiliki kejelian dalam memilih tema-tema cerita yang hendak diproduksinya. Ide-idenya menjangkau persoalan sosial budaya bangsa Indonesia yang multi kompleks, yang terkadang belum pernah dipikirkan oleh produser lain. Hal itu terlihat adanya berbagai variasi tema film yang pernah ia produksi.

Untuk mewariskan nilai-nilai kepribadian yang kokoh dibuatnya film Tokoh (Wim Umboh, 1971). Kemudian mempelopori "pembauran" di Indomnesia diproduksilah film Mey Lan Aku Cinta Padamu (Pitrajaya Burnama, 1974). Sebagai perwujudan cinta kasih keluarga dibuat film Chicha (Eduart P. Sirait, 1976). Untuk menggambarkan kesamaan harga diri antara pemuda kaya dan pemuda miskin dibuat film Duo Kribo (Eduart P. Sirait, 1977). Tema perjuangan dan patriotisme juga diangkat, dengan memproduksi November 1828. ( Teguh Karya, 1978). Untuk mengangkat nilai-nilai budaya tradisional dibuatlah film Rembulan dan Matahari (Slamet Rahardjo, 1979). Untuk mendorong gairah mengabdi di daerah terpencil dibuatlah film Dr. Siti Pertiwi Kembali ke Desa (Ami Prijono, 1981). Remaja putus sekolah yang mampu menghadapi rintangan film Usia 18 (Teguh Karya, 1981). Tema legenda film Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari (Bay Isbahi, 1982).

Untuk membangkitkan semangat pemuda agar berbakti pada bangsa dan negara dibuat film Bersemi Di Lembah Tidar (Frank Rorimpandey, 1982), dan film Secangkir Kopi Pahit (Teguh Karya, 1985) merupakan perwujudan gagasan bagi seorang mahasiswa drope out.

Film-film yang diproduksi dengan harapan agar dapat menjadi tuntunan di samping sebagai tontonan, beberapa di antaranya bahkan telah mendapat penghargaan. Antara lain, film Chicha meraih piala Akhnathon di Festival Film Kairo. Film November 1828 meraih piala Citra sebagai film terbaik bidang musik, sinematografi, editing, dan penata artistik FFI 1978. November 1828 juga mendapat penghargaan sebagai The Most Outstanding Historical Presentation di FFAP 1979, Singapura.

Itulah perkembangan Interstudio. Sebagai. studio dan laboratorium film yang kualitas processing negative dan positive filmnya menurut Motion Imaging Technical Centre Kodak pada tahun 1995, telah mencapai tingkat A /Exsellent, telah membantu melahirkan film-film nasional yang berkualitas secara utuh di dalam negeri. Di antaranya film Di Balik Kelambu (Teguh Karya) sebagai film terbaik, dengan tata suara terbaik, FFI 1983. Film Kembang Kertas (Slamet Rahardjo) sebagai film terbaik dan tata suara terbaik, FFI 1985. Film Ibunda (Teguh Karya) sebagai film terbaik, tata gambar, tata suara, dan musik terbaik FFI 1986. Film Dua Tanda Mata (Teguh Karya) sebagai film dengan tata gambar dan tata musik terbaik FFI 1985, juga film terbaik dan tata gambar terbaik pada FFAP 1986 di Seoul, Korea Selatan. Dan film Pacar Ketinggalan Kereta (Teguh Karya) sebagai film terbaik dengan tata suara terbaik FFI 1989. Film Ramadhan & Ramona, film terbaik FFI 1992 atau FFI terakhir sebelum diadakan kembali pada tahun 2004.

Keinginan BP2N lewat FFI selalu memberikan piala Nyoo Han Siang bagi produser yang paling banyak memproses film secara utuh di dalam negeri sepanjang tahun itu, rasanya tidak mengada-ada bila dikatakan sebagai keputusan yang cerdas. Karya nyata Nyoo Han Siang terhadap perkembangan perfilman Indonesia selama ini, sudah terbukti dan sulit untuk dibantah. Apalagi wujud optimesme Nyoo Han Siang yang karya dan kontribusinya terhadap dunia perfilman Indonsia telah banyak mendapatkan apresiasi dari insan film di Indonesia maupun di manca negara.

Sudah selayaknyalah bila nama Nyoo Han Siang kemudian diabadikan sebagai nama piala khusus yang diberikan dalam FFI, kepada produser yang lebih memilih memanfaatkan jasa teknik film dalam negeri secara maksimal, sesuai amanat bangsa Indonesia yang tertuang dalam UU No. 8 tahun 1992 tentang Perfilman.

* Penulis adalah wartawan senior,
tinggal di Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar