Sabtu, 05 Februari 2011

NYAK ABBAS ACUP SUTRADARA SERATUS JUTA

Ria Film No. 241
NYAK ABBAS ACUP SUTRADARA SERATUS JUTA
Sebetulnya, pertama kali Nyak Abbas Acup (campuran Sunda Aceh) membuat film, adalah film serius. Kemudian, dia mulai membatasi diri membuat film film komedi, hingga sekarang. Film komedi yang membuat namanya melambung adalah INEM PELAYAN SEXY, yang mendapat piala khusus sebagai film terlaris di tahun 77 dalam FFI 78 di Ujungpandang beberapa bulan lewat. Untuk rencana berikut, mungkin Nyak mau membuat film serius, tidak film komedi lagi. Dia memang tidak over produktif seperti sutradara lain. Baik Nyak, cukup setahun 2 atau 3 film.

Lewat Film "Inem Pelayan Sexy" ini nama Nyak terkenal sebagai sutradara 100 juta. Padahal, uang sebesar itu adalah pemasukan untuk booker, bukan untuk diri Nyak. Belum lama berselang, di Teater Tertutup TIM diadakan pekan film Nyak. Film film yang diputar adalah mat Dower, Tiga cewek-badung, Inem pelayan sexy, Karminem dan Drakula Mantu. Penontonnya memang melimpah. Kentara nama Nyak merupakan jaminan atas berhasilnya sebuah film yang menyedot penonton.

Ketika ditanya, masuk jenis film komedi mana karya-karyanya, Nyak kalem menjawab: ada farce, pure komedi, black komedi dan sweet komedi. Tapi Nyak menolak keras kalau ada orang yang menggolongkan film komedinya kedalam jenis slapstick (film komedi yang kasar). Film komedi hitam putih karyanya yang berjudul TIGA BURONAN mungkin bisa dimasukkan kedalam black komedi. Maksudnya adalah bukan pada warna filmnya yang hitam putih, sehingga disebut black komedi, tapi pada unsur kekasaran yang ada pada tokoh-tokohnya. Dan kekerasan ini sengaja dibuat secara komedi oleh Nyak. Dia memang maunya main main. Seperti halnya film THE STING yang menurut Nyak bisa digolongkan kedalam sweet komedi. Ada tembakan, tapi dalam bentuk komedi. Memang hampir semua film film komedi Nyak adalah farce (film konyol, tapi tidak sekasar slapstick).

Perhatikan saja film Drakula mantu. Drakula adalah tokoh luar negeri yang tiba tiba diceritakan di Indonesia. Menurut Nyak, keluar negerian pada film ini adalah sebagai sindiran pada negara kita yang menerima banyak bantuan, misalnya dari IGGI atau bantuan untuk gizi. Alhasil, ada relevansi dengan keadaan. Begitu juga pada film Bing Slamet cowboy cengeng. Memang menyindir sesuatu lewat komedi lebih enak dan lebih aman ketimbang secara langsung. Pihak yang terkenapun tidak akan marah, tapi malah tertawa.

Bagi anda, mana film-film anda yang sukses? "Semua menyenangkan dan sukses. Memang film film komedi berlainan karakternya. Tapi kalau disebut sukses komersiil, jelas film Inem (di Surabaya, sudah beredar film Inem Pelayan Sexy seri 2, dan akan segera main di Jakarta) yang untung luar biasa, ibarat mesin jackpot yang berhasil menyedot kocek penonton. Ditambahkannya, bahwa Nyak agak keberatan kalau trade mark INEM--nya dipakai oleh orang/sutradara lain. Ini merupakan preseden yang tidak baik. Diakuinya, sampai sekarang, Nyak belum pernah menonton film INEM NYONYA BESAR. Memang waktu itu, produser Inem Nyonya Besar sudah minta maaf pada Nyak atas kejadian ini. Tapi ternyata Nyak masih rada mangkel juga. Maklum, tokoh Inem adalah tokoh ciptaannya. Sama halnya tokoh si Doel yang khas Syuman Jaya (walaupun Syumanjaya sama memakai nama ini dari judul yang sama novel karya Aman Dt. Mojoindo) atau James Bond yang khas Ian Fleming).

"Kalau nama Ateng, Bing Slamet atau Benyamin ada hak untuk dipakai sutradara lain. Tapi kalau nama Inem atau di Doel, jelas tidak bisa. Kalau nama drakula atau cowboy itu kan cuma bersifat abstrak semata, jadi bebas dipakai dimana saja. Contoh lain, misalnya nanti suatu ketika, saya ingin membuat film dengan judul Tjokro (tokoh dalam Inem)" kata Nyak.

Dan sejarah perfilman Indonesia, film Inem tercatat nomor dua sebagai film yang banyak menghasilkan uang yang dicatat di Philipina.

"Saya lebih senang pada film Mat Dower, karena dalam film tersebut ada pencarian bentuk baru. Omong kosong kalau ada orang sekarang yang ngomong membuat film bentuk baru, karena 10 tahun yang lalu, saya sudah melakukannya. Saya rasa belum ada sebuah film kita yang melompat lompat macam mat Dower.Dari cerita, setting, dialog, kostum, dekor dan lain lain sudah merupakan bentuk baru. Maka kalau mau mencari kepribadian Nasional, Lewat film ini saya memberi andil", kata Nyak mantap.

Lebih jauh, Nyak berkata bahwa janganlah melihat film berdasar 'touching' semata-mata, tapi harus berdasar naluri dan otak kita. Kalau bicara kedaerahan tok, belum perlu secara khusus. Tapi kalau film kedaerahan yang merangsang otak kita (ada latar belakang pengetahuan), boleh dibicarakan. Dengan kata lain, film Nyak ini harus dibicarakan dari segi analisa otak, bukan segi keindahan. memang film Mat Dower di segi pemutaran, kurang berhasil. Tapi Nyak yakin, bahwa suatu ketika, masyarakat kita perlu dibawa ke arah itu. Sebagai orang yang minta banyak, film film sejenis Mat Dowerlah yang harus dibicarakan.

KWALIFIKASI
Beberapa jenis, Pertama : yang mempengaruhi naluri dasar atau rangsang seseorang (violence, sadisme, sex). Jenis berikut adalah film yang digolongkan kedalam flamour, atau yang serba hebat. Film jenis ini banyak yang menonton, karena diwakili masa yang luas. meningkat lagi, film yang merangsang perasaan kita. Ceritanya juga enak dihayati (contoh : film Love Story, Pengantin Remaja). Dan film film yang merangsang otak dan mengajak penonton berpikir. Di Barat, sudah banyak yang membuat film jenis ini. Dan kalau perlu, tahap teratas adalah yang bersifat spirituil. Jarang film beranjak ke arah tahap terakhir ini. Lewat sifat spirituil ini, penonton diajak merenungkan diri bahwa kita ini sebetulnya apa?.

Untuk negara kita, lebih banyak dibuat film film yang merangsang perasaan saja. Angle baik dan cerita yang menyentuh, sudah cukup. Tanpa berusaha membuat lebih atas lagi, yakni yang merangsang otak. Maka, Nyak berusaha semaksimal mungkin membuat film jenis ini.

"Kalau di Eropa mungkin cukup dengan setengah kata dlam membuat film, tapi di sini mungkin baru 3 atau 10 kata, masyarakat baru mengerti. Komunikasi ala Barat dalam pembuatan film sudah diterapkan di sini. yang jelas, saya mengarah ke sana, walaupun dalam bentuk komedi. Film film saya bukan hanya two dimension, tapi saya mau multi dimension. Ini keinginan saya, entah sampai tidaknya". kata Nyak.

Mungkin bagi anda, film film karya Nyak seperti Heboh, Juara 60 (Mang Udel) Dunia belum kiamat (Titiek Sandhora - Muhsin, film musikal komedi), Penyeberangan dsb., masih membekas di hati anda. Dalam perjalannya itulah, Nyak tambah maju dan berkembang terus. (Yanto/Zan Zappha Grup) RIA FILM NO. 241

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar