Sabtu, 05 Februari 2011

NYA ABBAS AKUB, TUKANG EJEK NOM()R WAHID

NYA ABBAS AKUB, TUKANG EJEK NOM()R WAHID


Pada umur 22 tahun, Nya Abbas Akup menarik perha: tian lewat film Heboh. Dite- ngah - tengah sejumlah komedi konyol gaya sandiwara sebelum perang, Abbas tampil dengan sualu yang baru. la bertolak dari kehidu- pan nyata yang ada di sekitar sesualu yang memang telah men- jadi tradisi PERFtNt (perusahaan Film Nasional yang dirintis Indone- sia) oleh almarhum Usmar lsmail. Heboh mendapat sukses komer- sial diantara lilm-fitm pERFtNl yang mengalami kesulitan pereda- ran, sehingga dapat menolong perusahaan tersebut. Tetapi, Nya Abbas yang sebe- narnya, baru tampil secara seutuh- nya lewat lilm Tiga Buronan (1957). Apa yang masih samar-samar terlihat dalam Heboh, tiga tahun kemudian muncul dengan jelas pada Tiga Buronan.Ini adalah film tentang jagoan yang menghantui sebuah desa kecil. Mat Codet (dimainkan Bing Slamet ), adalah kepala bandit iiu. la garang terha- dap korban-korbannya, galak ter- hadap anak buah, serta cukup awas menghadapi alat negara. Tetapi, jagoan yang satu ini juga seorang manusia biasa. la bahkan jatuh cinta kepada anak salah seorang korbannya. Dan, tali - temali cerita itu semua dengan cara yang amal subtil ditampilkan Abbas yang menulis cerita, skenario dan seka- ligus menyutradarainya. Dengan cara yang tidak dibuat-buat, di akhir cerita, Mat Codet menyerah katah kepada alat negara. Ternyata ia cuma manusia biasa yang takul mati, meski selama ini berselubung di balik topeng kegarangan dan kegalakan.


Nah, itulah ciri Abbas sejak itu : gemar membuka topeng kepalsuan yang banyak dipakai oteh sejumtah besar yang disekeliling kita. Yang menarik semua kegiatan ini di- lakukan Abbas tidak dengan kepahitan atau kebencian. Orang yang diejek dan dibongkar kepal- suannya tetap diperlakukan secara manusiawi. Tidak dihina lebih dari semestinya. Mat Codet yang ternyata juga takut pada potisi, pada akhirnya menimbulkan belas kasihan kita. Nasib yang menimpa Mat Codet sebenarnya nasib yang menimpa banyak diantara kita yang menjadi lupa diri dan berbuat aneh-aneh ketika lagi berkuasa, atau tatkala rezeki datang lebih dari yang kita perlukan. Sesungguhnya tidak ada pe- nemuan luar biasa yang dilakukan Abbas lewat lilm itu kecuali membuktikan bahwa ia seorang sengamat masyarakat yang baik. a tidak "mengarang,,, cerita se_ bagai yang bdnyak ditakukan oteh caoa umumnya pembuatf lilm Komedi kita. yang Abbas lakukan adalah mengangkat kejadian-kejadian nyata yang ditemuinya Dalam hidup di sekitarnya. Nasib yang menimpa Mat Codet bagi saya, hampir tidak berbeda dengan nasib bekas Menlu Subandrio, vang ketika dia jaya bisa berbuat dan berkata apa saja. Di depan pengadilan MAHMTLUB (Mah_ kamah Militer Luar Biasa) ternyata ia cuma seorang manusia kecil yang pernah bisa berbual macam_ macam lantaran suatu kesempatan yang memang tidak semua orano bisa mendapatkannya. Film Tigi Buronan, dengan demikian meru- pakan sebuah lontonan lucu yang juga memberi pelajaran lewat ejekan halus. Ejekan halus itu pun kita temui kembali dalam fitm Mat Dower. Dalam film yang agak kedodoran ini terlalu banyak yang ingin dikata kan Abbas, sehingga kita bisa sedikit bingung. Abbas dengan jelas ingin mengejek, sekatigus mengasihani pahlawan. Tokoh Mat Dower atau Mat Dikipe (dimainkan S. Bagio) sebenarnya tidak lebih dari seorang setengah sinting.

Suatu keadaan tertentu telah membuatnya tiba-tiba jadi hebat dan dipuja. pada mulanya. Mat Dower tidak terbiasa dengan segala puji-pujian itu. Kebiasaan xemudian membuat ia menerima nya, Tetapi justru pada saat ia harus menikmati hasil ..kepah- lawanannya", ia justru dilucuti oleh kepala desa. Mat Dower sebenarnya se- buah tragikomedi. Lewat sejumlah saal-saat yang memacing ketawa 0an sejumlah kenikmalan menyaksikan sejumlah perempuan cantik-juga sualu ciri Abbas lewat film-filmnya kita secara amat subtil dihadapkan pada suatu kenyataan ketika sang,,pahlawan,' begitu saja ditinggatkan di batas desa. Pak Lurah, yang sesung- guhnya tidak punya andil apa-apa dalam menewaskan Sapu Jagad, akhirnya diarak-arak sebagai pahla- wan ketika Mat Dower terlunta- lunta dan terlupakan di luar batas desa. Adakah yang luar biasa di sini? Bagi mereka yang tahu sejarah dan adat dunia, sekali laoi Abbas tidak mengarang yar;g aneh-aneh. la cuma menceritakan semua yang ada di sekitar kita.
Sebagai seorang anak muda yang ikut dalam perang kemerde- kaan sebagai tentara pelajar di Jawa Timur, dan sebagaipengamat sosial dan politik di mana masa awal pemerintahan ,'Orde Baru", soal pahlawan-pahlawan bukan soal yang asing bagi Abbas. Semua kita tahu bahwa semua yang menikmati sebuah perjuang- an adalah orang yang sesung- guhnya berhak untuk itu. pak Lurah yang memiliki lembaga resmi mempunyai kesempatan dan ke siapan yang lebih untuk menikmati hasil perjuangan melawan Sapu Jagad, ketimbang Mat Dower, orang yang sama sekali tidak sengaja menjadi "pahlawan" itu: Maiia diamati dari segi sosio- logis, lilm Mat Dower ini juga bisa dinilai sebagai suatu studi tentang pembagian tugas antara pelopor ke suatu tujuan tertentu dengan mereka yang nantinya kebagian bersibuk dalam situasi yang ber- hasil dicapai itu. Secara halus bisa juga diperoleh pelajaran dan nasihal dari film ini. Mereka yang menjadi pelopor harus bersiap- siap untuk dilupakan jika perjuan- gannya telah berhasil. Mat Dower dengan segala kekurangannya lantaran terlalu terikat pada suatu periode tertentu dalam sejarah politik kita - adalah sebuah ton- tonan yang baik bagi sejumlah "bekas pahlawan" yang kabar"nya kini agak sedikit frustasi.

Nampaknya karena Mat Dower bisa ditafsirkan macam-macam itu, maka film ini tidak banyak kesempatan beredar. Kabarnya karena para pendengar film ngeri kritik tajam yang terlontar lewat film ini. Menurut dugaan saya, yang mengerikan para pendengar itu justru bukan inti ceritanya, tetapi dialog-dialog lepas, yang banyak membuat cerita ini. Adegan-adegan di istana munafik (dimainkan Mansyur Syah) memang amat mengingatkan kita 14 pada suatu periooe politik yang baru saja kita lewati ketika film itu diabuat pada tahun 1959. Bagi saya pribadi, Politik tertentu itu yang mengurangi mutu film ini Abbas kelihatannya tidak bisa menahan luapan kreativitasnya, sehingga keutuhan filmnya jadi rerganggu. Pengalaman pahit dengan para pengedar itu bukannya tidak berbekas pada karya-karya Abbas selanjutnya. Perhatikanlah film Koboi Cengeng yang memperoleh sukses komersial itu. Film Abbas yang ini memang masih tetap yang istimewa lerutama karena keberhasilannya menciptakan sualu cerita koboi yang sama sekali lain dari yang bisa dihasilkan di Hollywood ataupun ltalia. lni sebuah parodi denQan di sana-sini secara halus dan lucu masih menyerempet - nyerempet kea- daan sekitar. tetapi, Abbas yang kita kenal Tiga Buronan dan Mat Dower sudah sulit di temukan dalam film koboinya ini.

Meski demikian film ini toh tetap tidak tergolong komedi konyol yang ketika itu, bahkan hingga sekarang, masih banyak dibuat orang di negeri ini. Dan lucunya pula, sudah konyol, film{ilm yang banyak dibikin itu tidak pula lupa . mencoba memberikan pelajaran moral. Yang terakhir ini tidak kita temukan dalam Koboi Cengeng. Ketika mengomentari film ini beberapa saat setelah memasukisereoaran, saya antara lain -enulis : 'lilm ini, meskipun ada .-ga menyentil dosa di masyarakat Jang suap, amplop), pamrih ";endidikannya" tidak menonjol, selain propaganda buat ha, ha, 'ia. Tampak lebih ada keleluasaan seni melucu di dalamnya. Mungkin ini karena koboi ringan tanpa beban, mungkin pula karena Nya Abbas Akub yang pendiam itu Dunya kecenderungan untuk tidak perlu berteria dalam menggurui ataupun dalam menarik ketawa." Kurang jelas apakah karena situasi politik yang makin ketat dibandingkan dengan keadaan politik pada saat pembuatan Tiga Buronan dan Mat Dower - ataukah memang ada perubahan orientasi pada Abbas, sehingga fitmnya kemudian menampakkan corak yang lain dari film terdahulunya.

Saya melihat perubahan itu terjadi sejak Koboi Cengeng, Abbas memang masih tukang ejek yang setia, tetapi sayangnya sudah berubah kepada yang tebih "aman,' yakni terhadap orang yang tidak mungkin menimbulkan resiko serius bagi sang sutradara dan le- bih ringan cara menyampaikannya
Film Ateng Minta Kawin, misalnya, juga sebuah ejekan yang cukup "sadis" seorang yang jatuh cinta. ketika menonton film ini terbayang oleh saya, bahwa di sebuah sudut Abbas berdiri terkekeh melihat orang yang jatuh cinla tak atang kepalang. kejadian yang biasanya menimbulkan daya khayal seorang penyair untuk menciptakan syair cinta yang hebat, bagi Abbas cuma cukup untuk menimbulkan ketawa geli. Masih datam Ateng Minta Kawin, kepalsuan-kepalsuan manusia yang lazim dilakukan dengan sadar untuk gengsi, secara halus dan lucu tetapi tanpa tedeng aling-ating dibongkar oleh Abbas. Lihatlah, baik ayah Vivi (dimainkan Eddy Sud) maupun ibu Ateng (dlmainkan Titik Puspa), sesungguhnya saling mengingini. Tetapi, lantaran gengsi, macam-macamlah ulah mereka. Ternyata dengan cara yang konyol mereka juga mencari kesempatan untuk saling mendekati. Sampai- sampai Eddy Sud menyamar dan dikejar-kejar hansip. Tidak banyak yang harus diperkatakan mengenai lilm Tiga Cewek Badung. Film ini dibuat ketika serial Five Crazy Boys sedang populer di Indonesia. Tidak bisa disangsikan bahwa Abbas menimba ilhamnya banyak dari film buatan Perancis itu. Tetapi toh film ini memancing ketawa dengan cara yang tidak vulgar. Ini suatu eksperimen Abbas yang nampaknya tidak ia teruskan. Terbukti kemudian ia membuat lnem Pelayan Seksi yang sukses komersial itu. Ketika mengomen-tari lilm ini, saya antara lain menulis : "sebagai tukang ejek nomor satu, Abbas memang mem- punyai pengamatan yang tajam. Dialog dia ditulis dengan pas dan tepat.

Tingkah laku para babu, tuan dan nyonya serta anak-anak mereka digambarkan dengan baik. Bahkan pengetahuan Abbas mengenai sosiologi kabar angin pun patut dibanggakan. Perhatikan adegan nyonya yang sibuk mem- bicarakan kabar perkawinan tuan Bronto dengan babu Inem. Berita itu bersumber pada nyonya Cohro. Melewati sejumlah nyonya yang menyebarkan berita lewat telepon berita yang sarna tiba kembali pada sumbernya. Untuk apa sebenarnya Abbas membuat film Inem ini? Nah, sebagai tukang sindir, yang jadi sasaran Abbas di sini adalah tuan- tuan yang munafik dan nyonya- nyonya yang sok jago. Lihatlah bagaimana Abbas memperolok- olok tuan Cokro (dimainkan Aedy Moward) yang mencuri-curi kesem- patan untuk mengintiP Inem sembari sesekali menjawil pipi sang babu ketika sang nyonya sedang lengah. Dan, itu tuan Bronto. (dimainkan Abdul Jalal), betapa ia diperolok-olok Abbas lewat peng- gambarannya pada adegan sang tuan iatuh cinta pada si babu (dimainkan Doris Callebaut). Lewat lilm itu Abbas sebenarnya ingin juga berkata bahwa babu-babu itu, kalau mendapat kesempatan yang sama, juga bisa sama, juga bisa sama dengan nyonya-nyonya. Te- tapi, pada kesempatan yang sama babu itu jadi sasaran ejekan Abbas ketika bekas babu itu tiba- tiba secara amat bersemangat berpidato mengenai rakyat miskin. wab-h penyakit dan sebagainya. Mendadak jadi nyonya setelah meleoas status babu kebiasaan nyonya-nyonya pun ditirunya. Barangkali Abbas ingin berkata
Wah siapa saja yan.g berstatus nyonya penyakitnya sama saja Film Karminem kelihatannya tidak dibuat dengan serius. Dari film itu ada ketawa, tetapi sum- bernya tidak terlalu dalam. Da- tangnya terutama dari tingkah laku sesaat para pemain yang kebetulan berasal dari sebuah grup lawak. Masih tetap ada pesan tentang seorang yang bosan di kota lalu kembali ke desa. Tetapi, pesan itu seperti dicari-cari saja. Nah, apa boleh buat, blntang besar macam Toshira Miftrne toh lidak selalu bermain dalam film serius karya Akira Kurosawa. Sekali-sekali ia juga "terpaksa" bermain untuk keperluan nonroha- niah, bukan? Abbas juga punya hak untuk berbuat demikian. Saya kira. Lewat film Dracula Mantu, Abbas yang pengamat masalah sosial yang cermat itu tamPil kembali. Kali ini yang jadi sasaran adalah masalah penggusuran. Tahun-tahun terakhir ini, terutama ketika film Dracula itu dibuat, ma- salah penggusuran memang lagi menghantui sejumlah pendudukJakarta. Yang masih hidup mau pun yang telah kembali ke sisi Tuhan. Barang kali untuk meng- hindari sensor yang bisa fatal, Abbas memilih mahluk halus sebagai tokoh-tokoh yang mem- bawakan ceritanya. Lewat pilihan yang demikian Abbas sekaligus mengejek-ejek hobby terbaru kita sebagai bangsa yang lagi gemar dengan yang serba luar negeri. Lewat sejumlah kelucuan lengkap dengan terminologi yang sehari- hari populer. Abbas akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong tokoh-tokohnya yang tergusur itu. Cukup tajam ejekan- ejekan Abbas : Arwah pribumi yang tergusur itu akhirnya cuma bisa diselamatkan oleh dracula yang berasal dari Eropa sana. Bahwa Abbas masih tertarikl membuat film seperli Dracula Mantu yang lucu tetapi dengan sentilan tajam, ini harus ditafsirkan bahwa semangat untuk membuat film komedi dari kenyataan sehari- hari masih tidak mati di hati sutradara kelahiran Malang ini. Di tengah-tengah sensor-sensor resmi yang sangat berhati-hati dan para pengedar film yang punya kebiasaan untuk ngeri, Abbas dengan Dracula Mantu saya kira merupakan pertanda bahwa hara- pan untuk kelahiran lilm yang tampil dengan masalah sehari-hari kita hingga kini belum mati, setelah dimulai oleh almarhum Usmar lsmailpuluhan tahun yang silam. Bahkan Abbas mendapatkan hikmah dari sensor yang ada, terbukti dengan kelihaiannya menyelipkan kritik lewat film-filmnya yang sepintas lalu tidak lebih dari sebuah pancingan untuk sekedar menciplakan kelawa. Ketika hendak mengakhiri pembicaraan ini, tiba-tiba pada saya timbul ketakutan akan di tuduh telah menyiapkan sebuah pujian panjang buat Abbas Akub yang kebetulan sahabat karib saya. Sama sekali bukan demikian maksud saya. Di tengah-tengah pujian terhadapnya, suatu pujian yang saya yakin memang berhak dilerimanya, saya pun sadar akan kelemahan Abbas. Sebagai seorang yang kreatif, bahaya besar yang mengancam atas, adalah kurangnya kontrol terhadap ide- ide yang ingin dikemukakannya. la adalah pengarang cerita, penulis skenario dan sutradara senior. Dalam kedudukan sepenting itu yang bisa memperingatkan cumalah seorang penulis kritik. Sayangnya peringatan dari kritikus baru bisa diperoleh jika film telah selesai. Tidak ada yang bisa dibuat lagipada saat itu. Kelemahan inilah yang mengurangi bobot film Mat Dower. Dan, justru karena adanya kontrol yang rapi itulah maka film Tiga Buronan menjadi sebuah film yang jernih, jelas, fenaka tetapi juga jitu. Fllm Tiga Buronan dibuat Abbas ketika ia masih berusia 25 tahun, ketika ia masih berguru pada Usmar lsmail. dalam umur semuda itu, tatkala ia masih harus membuktikan kebolehannya di tengah-tengah seju mlah sutradara, bisa dibayangkan Abbas amat berhati-hati. Hasilnya memang luar biasa. Jika kini saya diminta memilih film Abbas yang terbaik, tidak ragu saya menyebut Tiga Buronan. Bahkan dengan tidak malu-malu saya memilih film tersebut sebagai film komedi terbaik yang pernah dibuat di negeri kita.
rr
Penulis adalah pengamat tilm, Tulisan ini dipetik dari buku Pantulan Layar Putih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar