Rabu, 09 Februari 2011

NEWS-NEWS of USMAR ISMAIL

Di Saat Usmar Ismail Tak Lelah Menghadapi Kekaburan Birokratis 1991
Sikap tidak proposional pemerintah pada saat itu, sehingga perfilman nasional mengalami kesulitan dalam peredarannya. Konsep ideal yang diselipkan Usmar Ismail, film yang dibuat harus merupakan ekspresi kesenian dan intelektual agar film Indonesia memiliki kepribadian. Usmar Ismail tak lelah menghadapi kekaburan birokratis dan mengumumkan perang di dua front, disatu Front berhadapan dengan selera pasar pembuat film nasional disisi lain harus menghadapi tantangan film-film produksi Barat yang segalanya sudah lebih canggih

Filem-filem Usmar Ismail dengan sutradara "Tempo Doeloe", belum bisa disaingi oleh orang2 filem masa kini 1987

Meskipun tokohnya dusah lama tiada, dan lambang "Banteng Ketatonnya" sudah pudar, tetapi kebesaran PERFINI yang didirikan oleh Usmar Ismail pada tanggal 30 Maret 1950 bersama teman seperjuangannya, masih tidak bisa dilepaskan dengan kebesarn Usmar Ismail. Dua nama yang lebur menjadi satu dalam lingkungan filem nasional, dan pembaharu yang melatarbelakangi sejarah perjuangan filem tempo doeloe dan masa kini.Pekan Filem Produksi PERFINI memutar sembilan buah filem yang disutradarai oleh Usmar Ismail, D. Djajakusuma dan Nya Abbas Acup, merupakan retrospeksi bagi karya bermutu, yang pernah menghebohkan para pecandu filem nasiona, disaat situasi krisis menghadapi bombardir filem-filem Hollywood, yang saat itu merajalela di tanah air. Namun Usmar Ismail tidak memperdulikan hal itu, ia dan kawan tetap berjalan ever onward no retreat. Usmar Ismail terus mencari sesuatu yang bisa disumbangkan kepada bangsa dan negaranya. Usmar dan kawan-kawan menunjukkan kepada kita semua bagaimana sesungguhnya bekerja untuk filem, walau dengan peralatan sederhana namun mampu melahirkan filem berbobot.Dibandingkan dengan produksi masa kini, filem-filem Usmar dan sutradara lainnya di PERFINI masih tampak di atas.

Interview dengan Usmar Ismail : Tentang Festival Film Asia Ke-V di Manila 1958
Berdasarkan hasil kunjungannya ke Festival Film Asia Ke-V di Manila, Usmar Ismail sangatlah menyayangkan sikap Indonesia yang tidak mempergunakan kesempatan untuk mengirimkan film maupun utusan ke festival tersebut. Festival Film ini sebenarnya dimaksudkan untuk mempererat hubungan antara negara-negara pembuat film di Asia dan juga memberikan dorongan kepada negara-negara yang hadir agar dapat membuat film yang lebih baik mutunya dari yang biasa dibuat. Dengan berdirinya Federation of Motion Picture Producers in Asia diperoleh manfaat bertambahnya usaha kerjasama antara berbagai negara Asia dalam rangka joint-production. Dalam Festival Film Asia ke-V ini ada 8 negara yang ikut serta dengan 22 buah film dan Hong Kong sebagai pemenangnya melalui film "Our Sister Hedy".

Mengenang kerja keras Usmar Ismail : Usmar terkadang galak soal disiplin nomor satu 1991
Syamsul Fuad assisten sutradara terakhir alm. H. Usmar Ismail berbicara tentang kesan-kesannya selama mendampingi alm. Usmar Ismail disaat menangani film Ananda. Kesan-kesan tersebut antara lain akan merasa beruntung bisa diajak bekerjasama dengan Usmar, kepemimpinan Usmar sebagai sutradara dapat mewujudkan kerjasama yang kompak diantara para karyawan PERFINI sehingga segalanya berjalan lancar, Usmar juga tidak pernah mengekang pada para pemainnya untuk berinisiatif menentukan blocking, hasil terpaan tangan Usmar Ismail berhasil mengorbitkan sederetan nama-nama artis kondang seperti Bambang Hermanto, Sukarno M. Noor, Mieke Widjaja, Lenny Marlina, dan lain-lain, Usmar memberikan petunjuk kepada para pemainnya secara jelas, terperinci, dan penuh kesabaran, dan hanya satu hal yang tidak disenangi oleh Usmar Ismail yaitu bila menghadapi pemain yang tidak disiplin. Ada juga satu kebiasaan bila Usmar sedang marah, dia akan menghendus-henduskan hidungnya, kemudian berjalan kiri-kanan sambil kedua tangannya merogoh kantong celana. Film Ananda adalah karya terakhirnya setelah dia kemudian meninggal 2 Januari 1971.

Pakar Film Indonesia Segala Zaman : untuk kesekiankalinya : Usmar Ismail 1989
Ledakan film Si Kabayan didelapan bioskop yang diserbu penoton dan berdecak kagum, terpukau oleh kebolehan El Badrun menciptakan sulapan-sulapan ajaib dalam karyanya bersama sutradara Imam Tantowi, Pesangrahan Kramat dan serial Saur Sepuh, mengingatkan kembali film Tiga Dara sebuah komedi karya Usmar Ismail. Sukses komersilnya mungkin tidak sehebat Si Kabayan. Namun menurut ukuran jamannya film yang dimainkan oleh Rendra Karno, Citra Dewi, Mieke Wijaya dan Bambang Irawan itu sebuah komedi yang sukses baik mutu maupun komersil pada jamannya.
Usmar Ismail sutradara yang dikenal sebagai wartawan, dramawan dan penyair bukan saja dihormati dinegaranya, juga di mancanegara. Film-film yang mendapat penghargaan seperti "Pejuang" dengan Bambang Hermanto sebagai aktor terbaik dalam Festival film di Moskow, Rendra Karno dinobatkan sebagai aktor pembantu dalam festival film Asia di Taiwan dan penghargaan lainnya. Sineas kelahiran Bukittinggi ini boleh dikatan serba bisa, jenis film apapun pernah digarapnya. Film perjuangan seperti, Enam Jam di Yogya, Darah dan Doa, Toha Pahlawan Bandung Selatan dan Anak anak Revolusi, dan Usmar Ismail membuat juga film-film komedi dan drama.

Penjelasan Pitradjaja Burnama : Usmar Ismail Mewariskan Cita-cita dan Dedikasi 1977
Pitradjaja Burnama menjelaskan tentang maksud dari tulisan `Momok Usmar Ismail` yang termuat dalam VISTA adalah idealisme yang Usmar Ismail pegang teguh dalam perfilman nasional, untuk sebagian produser film nasional sekarang ini, seolah-olah hanya berpegang pada masalah komersiil saja. Usmar Ismail sebagai tokoh dan guru dalam dunia perfilman nasional, yang mewariskan idealisme dan cita-cita luhur, khususnya terhadap perkembangan perfilman nasional. Dan tugas kita untuk melanjutkan cita-cita tersebut.

Pidato Usmar Ismail Dalam Musyawarah Nasional Pembangunan
Usmar Ismail mengungkapkan pandangan umum tentang perfilman Indonesia, beliau dianggap mengetahui masalah seluk beluk perfilman Indonesia dan memperjuangkan film Indonesia secara keseluruhan dengan mengingat pentingnja dunia perfilman, dunia film dalam maupun luar negeri, bagi masyarakat dan negara kita. Dalam hal-hal tertentu tentu saja dia akan mendahulukan film nasional dari pada film asing yang manapun juga. Film dalam negeri tak mungkin akan maju tanpa adanya pemasukan film asing yang baik. Usmar Ismail mengusahakan supaya dalam menyusun rencana pembangunan 5 tahun, para pemimpin dan pembesar Indonesia tidak melupakan film sebagai alat komunikasi dan pembangunan kebudayaan

Saat-saat terakhir bersama Usmar Ismail 1991
Setiba dari Italia untuk mengurus copy Film Bali, hasil kerjasama Perfini dengan UGO Film dari Italia, Usmar Ismail merasa ditipu dan dia berpesan bila ingin membangun kerjasama dengan Italia harus jelas, terperinci dan zakelyk. Setelah itu dia terkena musibah lagi yang sangat memukul perasaannya, yaitu dilikwidirnya PT Ria Sari/ Miraca Sky Club yang dibangunnya sejak tahun 1967 dan harus mem-PHK karyawannya. Lewat Miraca Sky Club ini Usmar Ismail mendapat penghargaan sebagai warga teladan dari Pemda DKI, karena telah membantu Pemda dalam menarik arus wisatawan. Acara tutup tahun 31 Desember 1970 di Miraca Sky Club adalah terakhir kalinya Usmar Ismail berkumpul dengan segenap kerabat, handai tolan dan karyawan yang dikenal sangat akrab dan bersahaja, karena esok harinya dia diboyong ke rumah sakit karena pendarahan otak disusul kematiannya subuh jam 5.20 tanggal 2 Januari 1971. Usmar Ismail meninggalkan kita disaat tenaga dan pikirannya dibutuhkan oleh dunia perfilman Indonesia.

Tjeramah Usmar Ismail : Pembentukan dana film : beri harapan perusahaan-perusahaan film nasional
Usmar Ismail selaku Ketua Persatuan Importir Film Nasional menyatakan bahwa perusahaan film Indonesia sedang mengalami kendala-kendala antara lain masalah keuangan. Untuk itu dibentuk suatu Dana Film. Dana Film tersebut dikeluarkan oleh pemerintah berupa kredit sebesar 50 juta rupiah yang diberikan kepada para produsen film dan para penguasaha bioskop. Kredit tersebut dapat diharapkan dapat membantu perkembangan perindustrian film nasional

Tokoh Film Bulan Ini : Usmar Ismail 1955
Film Krisis produksi Perfini yang disutradarai oleh Usmar Ismail merupakan puncak atas daya kreasi dari dunia film Indonesia. Usmar Ismail adalah salah seorang sutradara Indonesia terbaik yang dicetak pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Pria kelahiran Bukit Tinggi, berotak pandai dan suka menulis ini tamat A.M.S bagian kesusasteraan pada usia 21 tahun. Di masa revolusi ia membentuk gerakan `seniman merdeka`, berpidato, menyanyi, main musik, agitasi, yang membangkitkan semangat patriotisme dan revolusi kemerdekaan rakyat Indonesia. Kemudian Dia juga menjadi redaktur surat kabar `Harian Rakjat`, lalu di Yogyakarta menerbitkan majalah bulanan, mingguan, dan harian yang merupakan isi jiwanya sebagai seorang putera Indonesia yang sedang berevolusi. Usmar seorang mayor Tentara Nasional Indonesia, sebagai sastrawan, dan sebagai wartawan. Setelah dia keluar dari kedinasan tentara, bersama dengan S. Sumanto dan yang lainnya mendirikan Perusahaan Film Nasional yang terkenal dengan nama Perfini. Gelar BA didapatnya dari University of California atas bea siswa dari Rockefeller Foundation untuk belajar drama dan cinematography. Selain sebagai sutradara, ia adalah presiden direktur perusahaan film nasional Indonesia. Usmar Ismail masih seorang putra Indonesia yang penuh rasa patriotisme diatas dasar nasionalisme yang besar, segenap jiwa dan pikirannya dicurahkan untuk nusa dan bangsanya.

Usmar Ismail angkatan 45 (1951)
Banyak orang yang menggolongkan bahwa Usmar Ismail merupakan sastrawan angkatan 45. Hal ini didasarkan atas karya-karya Usmar Ismail pada jaman penjajahan Jepang. Saat jaman pendudukan Jepang Usmar Ismail bersama teman-temannya mendirikan mingguan Tentara, Harian Patriot dan Majalah Kebudayaan Arena yang merupakan wadah tempat para seniman-seniman muda pada waktu itu. Setelah berlangsungnya aksi militer pertama Usmar Ismail menjadi wartawan Antara yang membawanya menghuni penjara dikarenakan tuduhan menjalankan gerakan bawah tanah oleh pihak Belanda. Setelah keluar dari penjara Usmar Ismail membuat film pertama dengan judul Harta Karun dan Tjitra. Berdasarkan pembuatan film inilah Usmar Ismail membuat perusahaan sendiri dengan nama Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini). Film pertama yang dibuat Perfini adalah Long March of Siliwangi (Darah dan Doa). Seiring dengan banyaknya film-film yang diproduksi oleh Perfini pada waktu itu dibandingkan dengan perusahaan film yang lain, membuat film-film produksi Perfini tersebut dapat dikatakan menjadi film yang sudah sempurna.

Usmar Ismail : tragedi sang seniman 1988
Artikel ini mengingatkan kita semua bahwa cita-cita menjadikan film Indonesia sebagai tuan rumah di negerinya sendiri tidak selayaknya dilakukan dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang malah mematikan semangat. Pernyataan yang mengesankan semangat orang yang kalah, kalau boleh pinjam ungkapan seorang pengamat film. Seperti yang terdengar belakangan ini yang ironisnya datang dari mereka yang dianggap paling tahu masalah perfilman nasional. Untuk itulah perlunya mempelajari perjuangan dan konsep pemikiran Usmar Ismail yang barangkali bisa dijadikan pedoman wajah perfilman nasional yang sebenarnya.
Kita tidak boleh terjebak oleh pendapat yang belum pasti nilai kebenarannya. Sebab ada kalanya apa yang tertulis berbeda jauh dengan kenyataan yang ada di lapangan. Hingga hari ini masih jadi tanda Tanya apakah benar masyarakat Indonesia kurang menyenangi film buatan bangsanya sendiri. Belum ada satupun studi atau penelitian yang komprehensif mengenai hal ini. Begitu pula bagaimana sebenarnya pengaruh film Barat terhadap aspek cultural, pranata-pranata sosial dan psikologis masyarakat Indonesia. Pada umumnya pendapat orang yang memojokkan film nasional hanya berdasarkan prasangka dan kesan selintas yang kurang bisa dipertanggungjawabkan.
Mengkaji ulang perjalan hidup dan pikiran-pikiran Usmar Ismail kita merasakan getar daya hidup yang tak pernah berhenti dari sang seniman yang bernasib tragis ini. Sebaiknya tulisan ini kita akhiri dengan mengutip Asrul Sani, teman dekatnya: “Usmar adalah seorang tokoh yang tragis. Ia berdiri sendiri di tengah-tengah masyarakat yang mempunyai selera yang lain tentang film, selera yang dibentuk oleh berpuluh-puluh tahun pengalaman menonton film impor yang disajikan tidak lebih dari sekedar hiburan, yang sama sekali tidak menyadari kaitan antara kenyataan dan film.

Usmar Ismail dan Soerjosumanto Tokoh Perfilman Indonesia 1998
Presiden Soeharto memberikan anugerah Bintang Mahaputra Utama kepada Usmar Ismail dan Soerjosumanto atas jasa-jasa beliau memajukan perfilman di Indonesia. Usmar Ismail mendirikan suatu perisahaan film pertama yang memproduksi film-film Indonesia. Perfini (Perusahaan Film Nasional) berdiri pada tanggal 30 Maret 1950 lahir pada saat syuting pertama film yang diproduksi Perfini yaitu Darah dan Doa. Selanjutnya hari tersebut dijadikan sebagai Hari Film Nasional. Soerjosumanto lebih dikenal sebagai pemimpin Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) yang berdiri pada tahun 1956. Soerjosumanto dikenal sebagai Bapak artis karena berkat jasanya PARFI terhindar dari PKI

Usmar Ismail Gigih Perjuangkan Legitimasi Film Nasional 1991
Sejarah perfilman di negeri ini tak perpisahkan dari sejarah kehidupan dan perjuangan Usmar Ismail. Almarhum bukan hanya sebagai peletak dasar perfilman Indonesia, tetapi juga seorang kreator berjiwa nasionalisme yang kental. Simbol-simbol kebangsaan selalu mewarnai gerak kehidupannya, baik dalam bidang sosial maupun kebudayaan. Sikap ini dipertahankannya hingga ia menekuni film. Itu sebabnya, Usmar Ismail adalah sineas pertama yang memperjuangkan dengan gigih diakuinya film nasional, kendati ia harus berhadapan dengan pemilik-pemilik bioskop yang diantaranya warga asing. Ia telah memancangkan tonggak terpenting dalam sejarah perfilman nasional, dengan menunjukkan tekadnya bahwa orang pribumipun mampu menjadi “tuan rumah di negerinya sendiri.
Dari karya-karya film yang dibuatnya, sangat jelas betapa besar andilnya Usmar Ismail dalam merintis perfilman nasional, terutama dengan memanfaatkan semua potensi yang dimiliki sineas pribumi. Usmar, tentu saja ingin menunjukkan kepada dunia bahwa putra-putri Indonesia juga mampu membuat film yang berkualitas. Idealisme dan dedikasi Usmar yang dilandasi semangat nasionalisme, kiranya penting diaktualisasikan dalam proses kreatif sineas kita pada masa kini. Film bagi Usmar adalah bagian kebudayaan, yang harus dibuat dengan landasan moral dan tanggung jawab. Usmar juga seorang sineas yang meletakkan film inhern dengan bidang kebudayaan, bahkan dengan revolusi Indonesia. Pemikiran dan gagasan Usmar Ismail pada beberapa tulisan betapa ia dengan sangat gigihnya memperjuangkan legitimasi film nasional yang mampu menjadi alternatif bagi kemajuan manusia Indonesia. Dan menghendaki karya film Indonesia dapat menyumbangkan nilai-nilai positif bagi pembangunan bangsa dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Usmar Ismail ke Amerika Serikat Hollywood 1955
Tanggal 15 September 1955 Usmar Ismail Ketua PPFI sekaligus juga Presiden Direktur Perfini telah berangkat ke Amerika Serikat untuk mempelajari ilmu organisasi theater dan perusahaan film selama 3 bulan di Hollywood

Usmar Ismail pun pernah menggugat peredaran film 1991
Usmar Ismail pun pernah menggugat peredaran film asing pada dasawarsa 60 an. Film-film impor Amerika mendominasi masa putar sebagian besar gedung-gedung bioskop di seluruh Indonesia. Pada masa itu nasib perfilman Indonesia masih jauh dari upaya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tidak ada kebijakan pemerintah untuk melindungi karya anak negeri, film Indonesia pun harus bersaing keras dengan film-film impor asal India, Malaysia, dan Philipina. Pengembangan kreativitas Usmar Ismail terhalang oleh sensor yang asal gunting, iklim politik pada masa itu merupakan kendala terberat baginya dan kecaman-kecaman dari Lembaga Kebudayaan Rakyat menjadi daftar keluhan Usmar Ismail sampai akhir hayatnya

Usmar Ismail tentang kesenian nasional : kegairahan untuk mentjipta harus di-kobar2kan lagi 1966
Kesenian yang diselenggarakan oleh Front Kebudayaan Revolusioner dimana pendirinya adalah Usmar Ismail bertujuan untuk menciptakan suatu gerakan yang bersifat nasional untuk mengembangkan kesenian daerah yang ada di Indonesia. Untuk itu diperlukan adanya organisasi kebudayaan yang bersifat nasional agar kesenian daerah dapat berkembang. Organisasi tersebut harus bersifat luwes, tidak ada paksaan di antara berbagai golongan agar kesenian dapat berkembang serta dapat membangkitkan semangat para seniman untuk menciptakan karya-karya seninya

Usmar Ismail, jatuh dan bangunnya 1982
Dalam usia yang relatif muda Usmar Ismail berhasil menjadi penggerak dalam berbagai organisasi di dunia teater antara lain Ketua Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI), Sandiwara Ganesha, Sandiwara Penggemar Maya. Selain di bidang teater Usmar Ismail juga aktif dalam dunia wartawan dan militer hingga dunia politik. Karirnya jatuh pada saat Usmar Ismail mengembangkan usaha hiburan yang mendapat protes dari kalangan pemerintah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar