Selasa, 08 Februari 2011

nama yang cukup banyak

Nama komplitnya adalah H.Tjut Djalil. Tetapi film yang dibuatnya sangat banyak menghumbar wanita, sexy dan sex dari sudut wanita. Baik film laga, tetapi tetap mengacu pada wanita sexy, film action nan sexy juga, comedi nan sexy juga, horor nan sexy juga. Semoga gelar Haji pada namanya sudah tidak membuat film begituan lagi. Karena banyak pemain dan sutradara Indonesia yang dulunya membuat film panas dan dimasa tua mereka taat beribadah. Gito Rollis contoh yang paling mudah. Tidak bisa menyalahkan mereka dalam membuat film seperti itu. Karena dasarnya mereka mencontek film Amerika. Dan dasarnya adalah film Amerikalah yang menampilkan hal itu semua. Kenapa harus ada wanita nan sexy dalam semua gandre film. Dan kenapa harus ada adegan ranjang dalam setiap film Amerika, minimal ciuman. Dasarnya pembuat film kita mencontek film Amerika yang laku keras, sehingga mereka meniru ramuan tersebut. Tetapi entah kenapa, kalau melihat film asing nan sexy dan panas, kita sebagai orang Indonesia tidak protes, tetapi kalau kita melihat dalam film kita,...selalu protes. Ternyata kita malu berkaca pada diri kita yang sebenarnya. Malu akan kejelekan kita yang ada pada kita. Sungguhpun realitanya itu terjadi, dan di sukai oleh rakyat kita. Tapi kita malu menyatakan diri kita yang sebenarnya. Sutradara yang satu ini cukup unik juga, tetapi biar bagaimana pun film dia dilirik oleh pasar International.

TJUT DJALIL, sutradara yang filmnya lima tahun lalu menghebohkan, Pembalasan Ratu Laut Selatan. "Film Indonesia sekarang sudah murni barang dagangan," kata lelaki berusia 62 tahun ini. Tjut termasuk orang film yang bicara blak-blakan. Coba dengar pendapatnya tentang film Indonesia belakangan ini. "Film Indonesia? Itulah film yang dibuat dengan biaya semurah mungkin, harus laku dijual, tak peduli segi artistik dan alur cerita. Pokoknya, ada adegan cumbu-mencumbu, cium-mencium, polos-polosan, lalu ah-eh-oh." Ia pun tak ingin sok-sokan membuat film horor atau film laga berbumbu seks, karena harus mengeluarkan ongkos untuk adegan-adegan tipuan yang biayanya mahal. Menurut pendapatnya, dunai film Indonesia kini dikuasai oleh produser. Dulu, misalnya, pengedar masih ikut menentukan artisnya. Malah kala itu produser menyetujui saja usul pengedar. Sekarang zaman sudah berbeda, kata Tjut, "produser yang punya duit yang menentukan segalanya. Dari soal cerita sampai bintangnya...." Sutradara tinggal menjalankan apa maunya produser. "Maka, kalau mau jujur, saya membuat film semata karena urusan perut," kata ayah sembilan anak itu, yang mengaku honorariumnya sebagai sutradara kini sekitar Rp 10 juta bersih. Orang Aceh yang pernah menjadi pegawai negeri lalu menjadi wartawan di Medan ini, awal tahun 1960-an, pindah ke Jakarta. Setelah diterima menjadi asisten sutradara, tahun 1974 film pertamanya lahir, Benyamin Spion 025, sebuah film komedi satir. Melihat sosok Tjut, sulit membayangkan bahwa dari tangannya lahir film-film merangsang.

Tjut, yang berambut lurus, bertubuh ceking, adalah haji yang rajin salat. Meski dia yang mengarahkan artis untuk membuka ini-itu, ia mengaku tak pernah tergoda. "Mending perempuan desa, asli dan sederhana, jauh dari polesan rias wajah atau manipulasi keseksian karena operasi," katanya. Ia kini menunggu saat "pensiun". Ia mengaku mengalami konflik batin tiap membuat film panas. "Saya punya anak yang bekerja sebagai guru SMA," tuturnya. Itulah salah satu yang menyebabkan konflik batin itu, dan karenanya ia ingin bisa cepat berhenti dari dunia film. RAAM SORAYA, produser yang sudah bikin 50 film, demi film Indonesia mengaku pernah langsung meminta Badan Sensor Film melonggarkan guntingnya. "Saya minta supaya ada pancingan buat penonton, supaya mereka mau masuk bioskop yang memutar film Indonesia. BSF setuju. Dan bioskop luber lagi, bioskop kelas bawah tapi," tuturnya. Raam tidak membantah, filmnya banyak menampilkan adegan seks. "Tapi itu cuma bumbu," ujarnya. Dialah produser Pembalasan Ratu Laut Selatan. Dalam sebelas hari, sebelum terjadi protes dan ia menarik film itu dari peredaran, sudah 500.000 karcis terjual. "Karena film itu diributkan, orang malah penasaran dan mencari film itu," katanya kepada Rihad Wiranto dari TEMPO. Ada yang disayangkan Raam, bahwa film-film sekarang bebas ditonton semua umur. Mestinya itu cuma untuk orang dewasa, katanya. Bahkan film komedi Warkop, menurut dia tak cocok ditonton anak-anak, karena banyak adegan buka dada dan paha. Jebolan Institut Teknologi Surabaya ini masuk dunia film dengan menjadi distributor film di Jawa Timur, tahun 1973, terlebih dahulu. Baru tahun 1987 ia mendirikan PT Soraya Intercine Film.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar