Jumat, 04 Februari 2011

NAGA BONAR / 1986

NAGA BONAR

BEST FILM FFI 1986



















Banyak yang menilai hubungan Asrul Sani dengan Chairul Umam harmonis sering memfilmkan skenarionya saat itu, kenapa skenario film ini tidak jatuh ketangan Chairul Umam. Dan bagaimana seandainya skenario ini di filmkan oleh Chairul Umam, apakah akan menjadi lebih baik atau sebaliknya. Beberapa orang menganggap akan sama saja, ada yang menilai bahwa Chairul Umam terlalu sibuk dengan film lainnya, tidak ada waktu dan sebagainya.


Tokoh Naga Bonar (Deddy Mizwar), adalah seorang pencopet yang mendapatkan kesempatan menyebut dirinya seorang Jenderal di pasukan kemerdekaan Indonesia pada saat pasukan pendudukan Jepang mundur pada tahun 1945 dan Belanda berusaha kembali menguasai daerah yang ditinggalkan tersebut.
 
Pada awalnya Naga Bonar melakukan ini hanya sekedar untuk mendapatkan kemewahan hidup sebagai seorang Jenderal, akan tetapi pada akhirnya dia menjadi tentara yang sesungguhnya, dan memimpin kemenangan Indonesia dalam peperangan.

Tidak habisnya saya salut terhadap film ini, Film ini hadir disaat film Indonesia sedang suka-sukanya cerita tentang anak muda cosmopolitan, lalu muncul film ini. Dulu saya sempat nonton film ini 2 kali di bioskop. Awalnya saya tidak tahu kalau ini adalah Film Indonesia, karena posterfilmnya kerudung ibu Nagabonar lebih dominan dari pada yang lain. Dari jauh tampak kerudung itu seperti rambut wanita bule/karena putih. Sedang topi Naga adalah topi yang kurang umum di Indonesia, sehingga terkesan itu film asing, apalagi judulnya. Ternyata ini film Indonesia. Entah skenariona yang dasyat atau sutradaranya? atau keduanya kah? Kalau cerita ini untuk menyindir para Jendral karbitan (asal punya pangkat) saat itu bisa dibilang film ini cukup berani saat itu, maklum tahun itu Soeharto sedang jayanya. Bahkan digambarkan, orang inteleklah yang mencuri/korupsi beras dalam karakter Lukman, dia juga yang menghamili anak gadis orang juga. Orang yang pintar dalam sekolahan sebenarnya menggunakan kepintarannya untuk membohongi orang,  Bujang yang berjuang digaris depan, tidak mendapatkan pangkat berarti, sedang Lukman yang orang sekolahan tidak ikut berperang, korupsi dan punya pangkat lebih tinggi dari Lukman. Cerita tentang pangkat ini sangat menarik, apa definisi pangkat? Naga sendiri masa bodoh, karena mau berunding itulah, mereka membuat pangkat.
Waktu kuliah Pak Bustal Nawawi adalah dosen produksi film, di sempat bilang saat film itu dibuat, sangat alot diskusi adalah membuat tokoh Naga ini jelek, hingga pembahasan yang lama adalah sumpelan mulut naga agar tterlihat jelek. Maksudnya adalah, bagaimana tokoh yang sebenarnya jahat, ia mencopet, keluar masuk penjara, enggak mandi, pokoknya jeleklah untuk ukuran percintaan, sosok dan karakter tidaklah harus idola gadis. Tapi Asrul memasukan unsur yang membuat semua penonton lupa kalau dia itu jahat dan jorok. Yaitu memasukan unsur sisi baik si tokoh yang sangat sayang ibunya. Tidak ada Jendral yang bisa diperintah, kecuali ibunya. Ini yang membuat nilai sangat tinggi dalam karakter NagaBonar, selain sisi kejujurannya dalam berjuang.

Jendral yang mencopet alroji Jendral Belanda saat berunding, Jendral yang menangis bagai anak kecil ketika kematian Ujang, menggendong ibunya sendiri untuk mengungsi (ini adegan saya suka, sebelumnya seorang tentara menggendong ibunya, tapi tiba-tiba diludahi ibunya karena ia bau kambing, lantas Naga sendiri yang menggendongnya. Kebanyakan orang menonton film ini lucu, saya juga pendapat demikian. Tapi ini bukan hal baru saat itu. Ada film juga yang dihasilkan Tamu Agung (Usmar Ismail 1955 dan Kejarlah Daku Kau Ku Tangkap -Charul Umam 1986). Film-film itu adalah komedi, komedi yang tanpa bintang lawak, seperti yang sedang ramai saat itu.

Saat penonton ketawa nonton Naga bonar, sadar atau tidak, kelucuan itu bersumber pada penggambaran yang jujur dan polos, karena itu tawanya adalah tawa simpatik , yang kita tertawai adalah diri kita sendiri dalam waktu silam. Film ini tentang revolusi Indonesia, tanpa banyak gangguan sensor resmi maupun tidak resmi. Padahal dulu sempat dialami oleh film Darah dan Doa (Usmar Ismail 1950).

























NEWS

Naga Bonar: Kembalinya Harta Karun

Jenis film: Komedi/Drama
Pemain: Deddy Mizwar, Nurul Arifin, Afrizal Anoda, Wawan Wanisar, Piet Pagau, Roldiah Matulesy, Yetty Mustafa, Nico Plemonia, Kaharuddin Syah
Sutradara: MT Risyaf
Penulis skenario: Asrul Sani
Produser: Bustal Nawawi
Produksi: Prasidi Teta And Citra Sinema
Dua puluh dua tahun pita seluloid film Naga Bonar arahan sutradara MT Risyaf itu tersimpan di ruangan Sinematek. Kini, lewat perjuangan yang keras, film yang skenarionya ditulis secara bernas dan cerdas oleh mendiang budayawan Asrul Sani itu, akhirnya dihadirkan kembali kepada masyarakat.

Itu sebuah kerja keras yang perlu diapresiasi. Ia hadir untuk setidaknya memaknai momen seabad Kebangkitan Nasional.













Kehadiran kembali Naga Bonar, seperti dituturkan Deddy Mizwar, salah satu pemain yang menggagas pemutaran kembali film tersebut, diharapkan bisa memberi ruang bagi masyarakat untuk mengambil pelajaran darinya tentang nilai-nilai perjuangan dalam rangka memaknai momen 100 tahun Kebangkitan Nasional.

Tak mudah memang untuk bisa menghadirkan kembali Film Terbaik Festifal Film Indonesia 1987 (FFI 1987) ini dengan kualitas di atas rata-rata. Namun, berkat kegigihan Deddy dan sejumlah rekannya, film ini bisa dinikmati lagi dengan kualitas gambar dan sound yang sangat layak.
Meski tidak sedikit adegan terpaksa dipotong lantaran tak bisa diselamatkan dari jamuran, itu tak berarti membuat Naga Bonar kehilangan ruhnya. Seperti yang pernah dilontarkan mendiang Asrul Sani tentang skenario yang ditulisnya itu, ia ingin menyuguhkan sebuah cerita yang bisa menumbuhkan rasa persahabatan, kesederhanaan berpikir, dan memiliki nilai-nilai patriotisme.




































Ya, meski film ini telah melewati zamannya, ruh yang dibangun dalam ceritanya masih terasa relevan dengan suasana kebangsaan saat ini. Lewat Naga Bonar, Deddy, peraih Citra untuk Pemeran Utama Pria Terbaik FFI 1987, memang berharap nilai-nilai yang ada dalam film tersebut menjadi hal yang bisa direnungkan kembali untuk kita bangkit menjadi bangsa yang besar dan dihargai. Dan, tema perjuangan, persahabatan, dan kasih sayang dalam film itu berhasil diracik lewat pendekatan komedi yang cerdas.

Naga Bonar, tokoh rekaan Asrul Sani, menjadi simbol dari tiga tema besar tersebut. Dikisahkan, Naga Bonar bukan sosok yang terpelajar. Ia hanya seorang mantan copet yang tergerak maju ke medan perang demi mempertahankan Tanah Air dari usaha pendudukan kembali pasukan penjajah. Ia mendaulat dirinya menjadi seorang Jendral untuk memimpin pasukan kemerdekaan Indonesia di wilayah Sumatera Utara. Dengan pangkat jendral itu, awalnya ia berharap bisa menikmati segala kemewahan. Tapi, kenyataan justru lain. 

Naga Bonar boleh saja terlihat tampak bodoh. Tapi, di balik itu semua, ia sosok yang memiliki nilai-nilai hidup yang luhur. Kecintaannya terhadap Mak-nya (Roldiah Matulesy), persahabatannya dengan si Bujang (Afrizal Anoda), dan ketulusan cintanya pada Kirana (Nurul Arifin)--perempuan yang jadi tawanannya semasa bergerilya--merupakan gambaran betapa ia memiliki nilai-nilai tersebut.












Sosok Naga Bonar pada akhirnya diharapkan bakal menjadi jembatan bagi generasi muda untuk memahami siapa sebenarnya Naga Bonar, yang berhasil mencuri perhatian generasi MTV lewat film Naga Bonar Jadi 2, yang disutradarai dan dimainkan oleh Deddy.

Rentetan cerita yang disuguhkan dalam Naga Bonar Jadi 2 memang tak terlepas dari film pertamanya yang disutradarai MT Risyaf. Pertemuan Maryam dan Naga Bonar dalam Naga Bonar Jadi 2 bukan tanpa alasan. Adegan tersebut menjadi bagian yang mengharu biru, tentu saja bagi mereka yang pernah menonton versi pertamanya. Generasi MTV tentu saja menganggap pertemuan itu tak ubahnya sebuah reuni biasa. Tapi, jika anda termasuk mereka yang berkesempatan menyaksikan film pertamanya, tentu saja anda akan sangat berbeda memahami makna pertemuan tersebut.

Pada akhirnya, kehadiran kembali Naga Bonar, film yang nyaris terkubur itu, pantas diberi acungan dua jempol. Terlebih butuh usaha ekstra untuk bisa menghadirkannya kembali ke masyarakat melewati sebuah perjuangan yang panjang.

Diakui Deddy, tidak gampang untuk bisa mengumpulkan ulang para pemainnya demi melakukan proses pengisian suara atau dubbing kembali, mengingat kualitas film terdahulunya sudah dalam kondisi kurang prima. ''Menyamakan suara yang tentu saja berbeda dengan suara 22 tahun itulah yang paling sulit,'' ujar Deddy.

Belum lagi usaha melakukan restorasi yang tak gampang. Banyak seluloid yang telah berjamur dan membuat sejumlah scene tidak bisa diselamatkan.

Usaha keras juga dilakukan dengan mengajak kembali Franky Raden, music director, yang pada FFI 1987 meraih Piala Citra untuk ilustrasi musik, agar bisa terlibat kembali dalam proses penggarapan ulang film itu. Franky sengaja didatangkan dari AS untuk melakukan supervisi ulang penggarapan musiknya. Hasilnya? Ya, bangsa ini patut bersyukur karena harta karun tersebut kini telah kembali untuk dijadikan bahan perenungan atau mungkin sekadar bernostalgia

 






































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar