Rabu, 23 Februari 2011

Masuk bintang-bintang klise bing slamet


MULANJA hanja main-main, kata Titiek Puspa dengan gaja perawan genit jang main deklamasi. Kali ini ia menempatkan dirinja bukan sebagai isteri Mus Mualim djuga bukan sebagai penjanji si Hitam, tetapi sebagai ketua PAPIKO--Persatuan/Artis Penjanji Ibu Kota. Dengan dandanan jang meradjalela iapun mendjelaskan sedjarah perkumpulannja dimulai ketika para artis menjelenggarakan pertemuan untuk mentjari dana korban bandjir. "Kemudian timbul gagasan untuk membentuk persatuan jang bertudjuan memupuk perasaan saling tjinta-mentjintai antara para artis dan antara artis dengan masjarakat", kata Titiek. "Sekaligus ini membuktikan kebohongan jang menjatakan para artis sukar dihimpun!", teriak Kris Biantoro dengan suara menggelegar menambahkan keterangan ketuanja. Kedjadian ini berlangsung malam minggu pertama bulan Proklamasi ini, di Istora Senajan. Berbeda dengan pertundjukan band AKA dari Surabaja jang lalu, kali ini pengundjung memuaskan, meskipun tidak dapat dipergunakan istilah berdjubel. Sponsor pertundjukan perusahaan Coca Cola, harian Berita Buana dan Pemerintah DCI sendiri, boleh merasa tidak rugi dalam hal ini. Apalagi perentjanaan atjara dan ide-ide penampilan terlihat ditangan kepala jang tidak kosong. Malam jang sekaligus menggabungkan: njanjian, pameran pakaian, dagelan dan djingkrak-djingkrak ini berlangsung setengah malam dengan padat dan lantjar tidak seret seperti pelaksanaan edjaan baru. Bahkan hampir dapat dikatakan, lantaran terlalu padatnja, penonton jang agaknja sudah biasa ditipu dengan pertundjukan-pertundjukan jang lamban dan ala kadarnja--terasa kualahan. Banjak diantara mereka meninggalkan kursi, sebelum pertundjukan usai, sambil menundjukkan wadjah mabok. Teori ekonomi bahwa kebutuhan semakin ketjil tatkala mendapat pemuasan jang terus menerus, terdjadi disini. Artinja mentang-mentang ada seratus bintang "mbok" Titiek Puspa tahan nafsu sedikit, djangan ngumbar semuanja, untuk mendjaga tempo pertundjukan hingga pas - tidak lebih tapi djuga tak kurang. Memang sulit djuga. Tjawat. Deretan penjanji-penjanji darl jang sudah bernama sampai jang hampir bernama, sempat muntjul dengan teratur. Mengenakan pakaian gagasan dari butik ini dan itu. Mereka muntjul dipanggung jang berbentuk huruf "T" sambil menjanji dengan sistim "play" back". Jah, ada sadja mulut jang tidak tepat terbuka dan tertutupnja, mengikuti rekaman suara mereka jang dilakukan di studio Metropolitan. Tetapi, gaja djingkrak maupun sedikit ber-"drama-drama"-an, menarik djuga. Bagaikan berlomba, semuanja menundjukkan aksi jang tidak berbau terasi. Mus Ds, Effendi, Tuty Subardjo plus Onny Surjono, Ellya Khadam, Nji Tjondrolukito, Nunin Sudiar, Anita Tourisia, Dudy Iskandar, Frans Dalomez, A. Rafiq, Kus Hendratmo, Tuty Taher, Tati Saleh Wiwiek Abidin, Benjamin, Junus, Trio Bimbo, The Kings, Lilis Surjani, dan sebagainja muntjul dengan urut-urutan jang rame. Bahkan duplikat Lulu di Indonesia, Ernie Djohan jang sudah lama absen, masih mampu djuga aksi dengan mengenakan kebaja. Sedangkan Sitompoel Sisters bangkit dari kuburnja, menjanji sambil mempertontonkan pakaian, entah apa namanja. Titiek Puspa sendiri muntjul dengan partner Indriasari menjanjikan lagu John Lennon "Oh Yoko" Titiek meniru John sedang Indriasari Yoko-nja. Pertundjukan play back berlangsung 4 babak. Diantara babak tersebut ada life show dari band The Female, band Papiko dan Wandy and the Lady Faces, jang paling belakang ini, meskipun sudah susah-susah datang dari Bandung terpaksa sedikit menderita babak belur, karena penonton tidak sudi mendengarkan terlalu banjak djreng-djrengnja jang keras. The Female sebaliknja jang kala itu sempat menampilkan sebuah lagu Beatles dikeplok rame. Maka dibiarkanlah band wanita ini mengiringi kehadiran Bambang Brothers, sepasang wadam jang tak suka disebut bantji. Pasangan ini memberikan dagelan jang lumajan anehnja. Salah satu Bambang, berhasil menirukan suara Emilia Contessa lengkap dengan lagak lagu mandja plus djatuh bangunnja dikala menjanji. Djuga ditirunja dengan tepat tingkah laku Titiek Puspa jang latah dan bawel. Dan sesudah itu iapun meniru gaja seorang penari strip, mentjopot pakaian satusatu. Ternjata stockingnja berlembar-lembar, sedang dibalik kutangnja terselip bola tenis untuk membuat dada gepengnja menondjol. Pada achirnja setelah tinggal tjawat, ia mengangkat wig mendjadi lelaki sedjati, lalu lari kebelakang dibuntuti teriakan geli para penonton. Klise. Malam telah larut sekali tatkala Bing Slamet cs muntjul. Bing kembali menundjukkan klise-nja jang sudah banjak mendjadi keluhan. Ia muntjul dengan pakaian seorang tante. Teman-temannja Ateng, Iskak dan Eddy Sud djuga tak menundjukkan hasil-hasil baru. Mereka melawak djuga terus dengan tjara-tjara lama: menjanji, memainkan kesalahan bahasa dan memanfaatkan keunikan tubuh. Untunglah atjara ini tak lama. Sebab sepuluh menit lagi tak akan ada jang bisa diketawakan, karena mereka muntjul tanpa persiapan. Mungkin sekali Bing Slamet sudah terlalu banjak main, disamping tak suka lagi menggali kepalanja. Maka Papiko jang pernah "diramekan" dengan pro dan kontra telah berhasil menjelenggarakan pertundjukan pertamanja. Masih mendjadi tanda-tanja adakah mereka akan berhasil dengan pertundjukan-pertundjukan berikutnja. Maklumlah dalam kehidupan jang direndam oleh pepatah: hangat-hangat tahi ajam ini, biasanja sesudah jang pertama kali, kemerosotan adalah normal. Dan disamping itu Papiko agaknja akau lebih berguna kalau lebih serius kepada memikirkan kelangsungan hidup anggotanja, perlindungan kepada tindakan sewenang-wenang, pagar-pagar organisasi jang baik dan--ah, mereka pasti lebih tahu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar