Kamis, 10 Februari 2011

MAMA / 1972

MAMA










Film ini menggunakan ukuran 70mm, kamera Panavision, dan suara stereo 6 jalur.
Sebuah percobaan Wim Umboh-Sjumandjaja yang penulisan skenarionya bersamaan dengan saat shooting berlangsung. Hasilnya: sebuah gaya penuturan yang tidak sederhana. Apalagi tampak ada dua alur cerita yang seolah tak saling bertaut. Alur pertama berputar pada Sanca (Andi Auric) dan Anani (Sukarno M. Noor). Alur kedua berkisar pada percintaan Ulli (Tanty Josepha) dan Pandji (Rachmat Hidayat), sedang di antara dua alur tadi ada alur ketiga yaitu yang bertalian dengan Ulla (Gaby Mambo), pelacur yang tetap rajin beribadat dan kakak Ulli, dan Suwaka (Aedy Moward). Sanca adalah prototipe pemuda gelisah karena lingkungan yang dihadapinya serba hitam, hingga merindukan kedamaian. Kedamaian itu berupa kenangan manis akan Mamanya yang sudah tiada, dan yang jadi obsesinya. Ayahnya, Sarman Sastradilaga, penggede yang korup dan licik, tak pernah mau menjawab pertanyaan anaknya tentang sang mama. Jawaban datang dari ibu tirinya, Sonia (Tutie Kirana). Sang mama dibunuh ayahnya karena kedapatan serong. Sanca malah mencurigai Midun (Ami Prijono), pembantu yang sangat dominan perannya dalam keluarga itu. Pertemuan Sanca dengan istri Anani, Anari (Rima Melati) membuahkan hembusan lain. Anani pernah membunuh istri orang yang tak setia, padahal yang diincar adalah suaminya, karena menjinahi istri Anani. Akibatnya Anani masuk penjara. Keterangan ini semakin membingungkan Sanca, yang malah jatuh ke pelukan ibu tirinya. Sarman meledak melihat ini. Sanca lari ke Bali. Midun, Sonia, Sarman mengejar. Di Balilah Sanca mengetahui bahwa Sarman pembunuhnya. Percintaan "murni dan malu-malu" Ulli dan Panji terpotong, karena Anani membunuh Ulli yang disangkanya istrinya sendiri

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar