Rabu, 09 Februari 2011

MADJU TAK GENTAR / 1965

MADJU TAK GENTAR

Perintah yang datang dari markas besar tentara mengharuskan pasukan pimpinan Amir (Turino Djunaidy) menggulingkan sebuah kereta yang mengangkut tentara Belanda. Operasi yang berhasil itu dilakukan anak buah Amir, Wati (Sri Redjeki) dibantu kurir markas besar yang lalu bergabung dengan pasukan Amir, meski tetap ada korban dan terbukti adanya pengkhianatan Tatang (Hadisjam Tahax), anak buah Amir juga. Tatang inilah yang lalu membocorkan tempat pasukan Amir, hingga diserbu Belanda. Belanda kalah dan Tatang mati di tangan Wati.

Dalam film revolusi pada umunya perempuan hanya tampil dalam palang merah saja. (darah dan Doa), Kurir bagi gerliya yang berada di luar kota (Enam Jam Di Jogja), sebagai medis yang merawat gerliya yang tertinggal pasukannya (debu revolusi), sebagai gadis yang menjadi Embun yang menyejukan hati. Tapi dalam film Madju Tak Gentar wanita menjadi bagian dari pasukan tempur. Bahkan komando yang masuk kota menghancurkan mata-mata musuh. Wati (Sri Rejeki) dalam film ini digambarkan bagaikan Wander Woman yang memainkan peranan jauh lebih hebat dari pria. Selain memimpin pasukan komando. lengkap dengan pisau yang diikat di paha, ia juga memimpin penghancuran rel kereta api yang membawa pasukan dan suplai musuh.

Tetapi tema ini kemungkinan adalah pada masa orde lama masa menyaksikan banyaknya film buatan negara sosialis yang berkisah tentang perang dunia 2 di Eropha dan peranan kaum partisan dalam perang tersebut. Banyak diantara film-film tersebut menampilkan wanita sebagai tokohnya. Pengaruh film asing inilah mungkin melahirkan film Madju Tak Gentar. Dan hanya di film ini lah yang menampilkan adegan natal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar