Jumat, 04 Februari 2011

LOETOENG KASAROENG / 1927

LOETOENG KASAROENG


"Pada kita diwartaken bahwa besok malam film `Loetoeng Kasaroeng` jang sudah lama di toenggoe2 oleh pendoedoek di Bandoeng, aken moelai dimainken dalam Elita dan Orientalbioscoop dan Feestterrein Elita" (Iklan di SK Kaoem Moeda 30 Desember 1926)
.

B
IOSKOP alias gambar idoep memang sudah hadir di Indonesia lebih dari seabad lalu, tepatnya tanggal 5 Desember 1900 di Batavia. Namun, kehadiran bioskop tersebut tidak dijadikan sebagai tonggak awal sejarah perfilman di tanah air. Bukan lantaran alasan politis semata, di mana seluruh properti pertunjukan, mulai dari gedung bioskop, pemutar film, hingga content filmnya semuanya berasal dari luar. Film-filmnya tak lebih dari sekadar gambar propaganda, dokumenter, dan pemandangan.

Jika bicara tonggak sejarah film Indonesia, yang punya peran adalah film "Loetoeng Kasaroeng" yang diproduksi tahun 1926. Sebuah film bisu, hitam putih, dan menampilkan legenda terkenal di masyarakat Tatar Sunda, yang lebih banyak mengumbar pesan, nasihat, dan ajaran moral yang melarang menilai orang hanya dari kulit luarnya. Mengapa "Loetoeng Kasaroeng" dijadikan penanda awal sejarah film kita, padahal film itu dibuat oleh orang asing?

Harus diakui, film "Loetoeng Kasaroeng" yang shootingnya dilakukan di sebuah tempat yang jaraknya 2 km arah barat Padalarang, bukan dibuat oleh orang pribumi asli. Film itu dibuat oleh perusahaan NV Java Film Co. yang didirikan oleh L. Heuveldorp, orang Belanda totok dari Batavia. Dalam pembuatannya, Heuveldorp bekerja sama dengan G. Krugers, seorang peranakan Indo-Belanda dari Bandung, yang bekerja sebagai Kepala Laboratorium Java Film Co. Krugers adalah adik ipar Raja Bioskop Bandung yang terkenal, F.A.A. Buse. Dalam pembuatannya, Heuveldorp yang konon sudah berpengalaman di Amerika Serikat bertindak sebagai sutradara, sedangkan Krugers sebagai kamerawan.


Meski dibuat oleh orang asing, menurut J.B. Kristanto dalam Katalog Film Indonesia 1926-2005, "Loetoeng Kasaroeng" adalah film cerita pertama di Indonesia yang menampilkan cerita asli Indonesia. Perlu digarisbawahi, "Loetoeng Kasaroeng" adalah "film cerita pertama yang menampilkan cerita asli Indonesia". Setelah selesai produksi, film yang seluruh pemainnya asli pribumi, termasuk Martoana, Oemar, dan anak-anak Bupati Bandung Wiranatakusumah V itu diputar selama sepekan, 21 Desember 1926 hingga 6 Januari 1927.


Sayangnya, karena legenda "Loetoeng Kasaroeng" hanya terkenal di tatar Sunda, film tersebut hanya sukses dalam pemutarannya di bioskop-bioskop Bandung. Ketika diputar di luar Bandung, sambutan penontonnya rendah. Sudah begitu, film masih dalam format bisu, sehingga pesan-pesan cerita tak tersampaikan. Heuveldorp sebagai produser pun merugi.


Namun, kerugian itu tak membuat Heuveldorp jera. Ia malah tertantang untuk membuat film kedua yang laku dijual, sekaligus untuk menutupi kerugian yang dialami saat pembuatan "Loetoeng Kasaroeng". Setelah mendapat pinjaman berupa obligasi, duet Hueveldorp-Krugers berhasil merampungkan film "Eulis Atjih" pada 1927. Meski belum sempurna betul, secara teknis film tersebut tak kalah kualitasnya dari film impor. Sambutan penonton Bandung luar biasa. Begitu pula saat diputar di bioskop-bioskop Surabaya. Tiga hari sebelum pertunjukan berakhir, koran Pewarta Soerabaja membuat review yang isinya memuji film "Eulis Atjih".(HM Johan Tjasmadi, 100 Tahun Bioskop di Indonesia).


Film "Eulis Atjih" sukses dalam pemutarannya. Produsernya bukan saja balik modal, tapi juga mendulang laba besar sehingga cukup untuk membayar kembali pinjaman obligasi plus bunga, sekaligus menutupi kerugian dalam pembuatan film "Loetoeng Kasaroeng".



Dari sini, kita mesti memberi catatan tersendiri kepada Hueveldorp. Berkat kejeliannya dalam membaca peluang pasar, ditambah dengan pemilihan tema cerita yang tepat (berasal dari
kultur pribumi yang menjadi pasar filmnya), serta strategi promosi yang mumpuni, Heuveldorp telah berjasa menancapkan tonggak baru yang menjadi cikal bakal bagi perkembangan industri perfilman di Indonesia di tahun-tahun berikutnya. Heuveldorp telah memberi bukti, cerita yang bersumber dari budaya masyarakat pribumi ternyata menjadi komoditi yang laku untuk dijual.

Kejelian Heuverldorp dalam membaca pasar berawal ketika di awal tahun 1920-an bisnis perfilman di Hindia Belanda ditandai oleh kelesuan. Ini merupakan dampak dari tema cerita film yang cenderung monoton dan membuat penonton gampang bosan. Apalagi kala itu film hanya dinikmati kelas atas, orang-orang Belanda yang secara selera pasti punya ekspektasi yang tinggi. Gedung bioskop pun mulai ditinggalkan penonton.


Agar kelangsungan bisnis perbioskopan tetap jalan, para pengusaha bioskop membuat kebijakan baru, menurunkan harga karcis agar lebih banyak penonton kelas menengah ke bawah (masyarakat Tionghoa dan pribumi) tertarik datang ke gedung bioskop. Mereka juga membuat openlucht bioscoop alias layar tancap di Lapangan Deca Park (Gambir), Mangga Besar, Beos (Stasiun Kota), dan Tanah Abang. Tapi, strategi itu tak manjur. Gedung bioskop tetap saja sepi. Orang-orang pribumi tak sudi mengeluarkan duit untuk beli karcis dari film yang berisi propaganda Belanda.


Di mata Heuveldorp ini adalah sebuah peluang pasar yang tak boleh disia-siakan. Heuveldorp melihat ada ceruk pasar yang belum tergarap, yakni penonton golongan menengah ke bawah, yakni masyarakat Tionghoa dan bumiputra. Ia sadar bahwa film dokumenter sudah tak laku dan harus ditinggalkan. Ia harus bikin film cerita dan agar diterima publik pribumi, cerita itu harus dekat dan familiar dengan masyarakat pribumi. Ia pun memilih legenda Lutung Kasarung yang populer di masyarakat Pasundan.


Urusan teknis memang tak ada masalah karena ia bisa menggaet Krugers yang andal dalam bidang kamera. Demikian pula dalam hal penyutradaraan, ia sendiri jagonya. Studio dan laboratorium film, dia sendiri punya di Jakarta. Persoalan utamanya hanyalah masalah dana. Di sinilah Bupati Bandung Wiranatakoesoemah V memainkan peran sangat penting dan menentukan.


Wiranatakoesoemah adalah bangsawan Sunda yang bukan saja berkuasa dan kaya, tapi juga sangat punya perhatian besar terhadap perkembangan seni budaya Pasundan. Tanpa peran Wiranatakoesoemah, sangat mungkin film "Loetoeng Kasaraoeng" tidak pernah ada dan perjalanan film di Indonesia belum tentu bisa seperti sekarang.


Kisah pembuatan film "Loetoeng Kasaroeng" seolah menyadarkan kepada kita, betapa di setiap zaman selalu muncul sineas-sineas yang berani keluar dari mainstream alias arus utama. Yang dengan segala keyakinannya berani tampil beda dan dari perbedaan itulah akhirnya melahirkan sebuah tonggak penting dalam perjalanan industri film. Dalam kasus "Loetoeng Kasaroeng", trio Heuveldorp-Krugers-Wiranatakoesoemah V adalah pemain utamanya. (Shandy AR/pengamat film)***



Film legenda Sunda yang dimainkan oleh orang pribumi dan diharapkan orang Belanda mau menontonnya. Koran De Locomotif menilai film ini adalah tonggak sejarah industri film milik HIndia sendiri. Oleh karena itu film ini perlu disambut dengan perhatian. Dibantu oleh G.Krugers menangani kamera dan laboratorium film. Indo Bandung ini juga sebagai penghubung dengan orang pribumi. Pembuatan film ini mendapat dukungan dan bantuan besar dari Bupati Bandung, Wiranatakusumag V yang menginginkan buday Sunda diangkat, sehingga segalanya bisa berjalan lancar Untuk membuktikan kesungguhan dan kehebatan film ini Hueveldorp mengundang tokoh-tokoh terkemuka dari kalangan pemerintah dan perusahaan untuk menyaksikan pengambilan adegan di lokasi rumah Sunan Ambu diwilayah Bukit Karang sekitar 2 kilometer sebelah barat kota Padalarang. Peristiwa ini terjadi pada minggu 15 Agustus 1926.

Bahkan Dept.Van Oorlog (kementrian Peperangan) ikut membantu meminjamkan truk-truk besar serta kendaraan-kendaraan lainnya. Untuk pembuatan tempat tinggal Sunan Ambu, salah satu tokh dalam kisah ini dibangun pada sebuah lobang dibukit karang yang diciptakan dengan dinamit. Adapun tempat Dewi adalah sebuah bangunan mempesona dengan tataan bambu yang penuh gaya. Pemainnya adalah dari sepupu dan saudara kalangan Bupati. Mereka berpendidikan tinggi dan lancar bicara Belanda. Walaupun dilakukan trik khusus untuk melatih mereka main, karena mereka menganggap semua ini mudah. Dan pemain Lutung hitamnya , Martonana mempesona, karena ia bisa memanjat dan turun dengan posisi kepala di bawah.

Pertunjukan perdana film ini di bioskop Elita Oriental 31 Desember 1926, sedangkan 30 Desember iklannya sudah di muat di koran-koran, dan memberikam bumbu-bumbu. Dalam koran Kaoem Moeda Film Loetoeng Kasaroeng adalh film yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh penduduk Bandung. Dan dalam koran berbahasa Belanda, De Indische Telegraaf tidak terdapat publisiti apa pun, hanya poster saja. Sedangkan di koran lain hanya menuliskan pengambilan gambarnya dilakukan di sekitar Bandung. Pemutarannya di disain sehebat mungkin, tanggal yang dipilih 31 Desember adalah malam tahun baru. Dan bioskop Elita adalah bioskop kelas satu. Dan diiklankan bahwa pertujukan perdana ini di persembahkan untuk yang mulia Gubernur Jendral Hindia Belanda. Sesudah masa putar 6 hari, film ini dijadikan ekstra untuk film serial The Flame fighter. Adapun sesudah diputar film ini dilanjutkan dengan film De Maalstrom den Levens karya sutradara Amerika D.W Griffith. Maka tidak aneh bila terjadi perbandingan mutu yang jauh antara film Loetoeng Kasaroeng dengan film itu. Kesan film Hindia yang pertama ini jomplang dan terkubur begitu saja. Justru orang sibuk membicarakan film asing itu dari pada film Loetoeng Kasaroeng. Menurut majalah panorama, mutu film Loetoeng Kasaroeng jauh dari sempurna dibandingkan film Amerika dan Eropa. Dan rupanya film Loetoeng Kasaroeng ini mendapat banyak kendala terutama dana sehingga ada personil yang tidak di bayar. Dan tidak ada yang tahu hasil pemutaran film ini, dan akan mendapatkan kesulitan dalam segi komunikasi. Karena untuk menikmati budaya tarian dan musik sunda sangat terbatas bagi bukan orang sunda. Apalagi hampir tidak dapat mungkin mendapatkan sejumlah musik gamelan sunda di berbagai tempat di jawa. Karena film ini bisu jadi iringan gamelan sunda berada di samping layar. Pertanyaan muncul, jadi cerita apa yang menarik untuk menyedot penonton di Hindia Belanda ini? Jadi pendekatan apa yang dilakukan untuk menembus dinding-dinding perbedaan banyaknya suku di Hindia ini. Ini yang menjadi pokok masalah saat munculnya film di Hindia ini. Belum lagi maslah dana produksi yang kecil disini dibandikan dengan dana film import itu. Padahal film dipasar harus mampu bersaing dengan film Amerika dan Eropa. Setelah itu mereka membuat film yang ke dua, Eulis Atjih.

Film Loetoeng Kasaroeng menjadi Icon sejarah film Indonesia
Dari "Loetoeng Kasaroeng" hingga "Si Kabayan"

Sejarah perfilman nasional bermula di Bandung. Untuk pertama kalinya film cerita tentang anak negeri dibuat di daerah ini. Sejak itu, Bandung terus terekam dalam sejarah perfilman nasional.

Film pertama itu berjudul Loetoeng Kasaroeng (1926), yang diakui sebagai film yang pertama kali menampilkan cerita asli dari kehidupan pribumi. Film tersebut merupakan tonggak awal industri film di Hindia Belanda.

Pembuatan film yang diproduksi NV Java Film Company itu didukung penuh oleh Bupati Bandung Wiranatakusumah V (1920-1931, 1935-1945). Tidak hanya mendukung pendanaan, dia juga mengizinkan putri-putrinya bermain dalam film ini.

Setahun kemudian, NV Java kembali memproduksi film di Bandung, yang kali ini bukan lagi dongeng, melainkan drama kehidupan rumah tangga modern berjudul Eulis Atjih (1927). Film ini diputar perdana di Orient Theater, Surabaya, dan diekspor ke Singapura.

Dipilihnya Bandung sebagai tempat pembuatan film tidak lepas dari peran kota ini sebagai salah satu pusat industri film dan bioskop pada era 1920-an. Selain NV Java Film, terdapat perusahaan film Kinowerk Carli yang memproduksi film dokumenter Meletusnya Gunung Kelud (1925). Tonggak nasional

Tiga dekade kemudian, Bandung kembali tercatat dalam sejarah perfilman nasional. Kepahlawanan divisi Siliwangi menjadi inspirasi film Darah dan Doa (The Long March) pada 1950. Film yang disutradarai Usmar Ismail ini menceritakan perjalanan pasukan Siliwangi dari Yogyakarta ke Bandung.

Film produksi Perusahaan Film Nasional Indonesia itu dianggap sebagai film nasional pertama yang dibuat dengan modal perusahaan dalam negeri. Dewan Film Indonesia menyatakan hari pertama pengambilan gambar film ini pada 30 Maret 1950 sebagai tonggak perfilman nasional.

Kisah pasukan Siliwangi difilmkan ulang dalam Mereka Kembali (1972) produksi PT Dewi Film. Kodam III/Siliwangi turut menopang pembiayaan film. Penampilan Arman Effendy dalam film tersebut mendapatkan penghargaan FFI tahun 1973 untuk Pemeran Harapan Pria.

Sikap kepahlawanan putra Bandung giliran menjadi inspirasi dalam film Toha Pahlawan Bandung Selatan (1961). Film ini menceritakan M Toha yang berhasil meledakkan gudang mesiu Belanda di Bandung selatan. Adalah Usmar Ismail yang menjadi penulis skenario sekaligus sutradara.

Tahun 1975, giliran Kabayan, tokoh legenda yang hidup di kalangan masyarakat Sunda, difilmkan. Kabayan merupakan sosok yang lugu dan kocak dalam tradisi lisan masyarakat Sunda. Film itu diproduksi PT Tuty Jaya Film dan pemerintah daerah Bandung. Tokoh utamanya diperankan Aom Kusman.

Pada akhir 1980-an, melalui produksi PT Kharisma Jabar Film yang bekerja sama dengan pemerintah daerah Jabar, kembali tokoh itu difilmkan dalam Si Kabayan Saba Kota (1989). Film yang tokohnya diperankan Dedi Petet itu meraih penghargaan sebagai film komedi terbaik FFI 1989 dan meraih Piala Bing Slamet. Dengan kesuksesan itu, dibuat film lanjutannya, yakni Si Kabayan dan Gadis Kota (1989) serta Si Kabayan dan Anak Jin (1991). (NDW/Litbang Kompas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar