Senin, 07 Februari 2011

LEWAT TENGAH MALAM / 1971

LEWAT TENGAH MALAM


Ini adalah film Pertama Sjuman, dibuat sangat selera Rusia sekali, kritikus film, media dan teman-teman seprofesinya menyatakan hal itu. Film ini bergerak dengan tempo ala film When the Cranes Are Flying 1957. Banyak yang bilang di film ini Sjuman sangat ingin memberitahukan pada penonton, karena apa yang ada dalam tokoh utamanya sendiri yang dimainkan oleh Rachmat Hidayat itu adalah diri Sjuman sendiri. Sedangkan dalam hidup kanak-kanak Sjuman yang mengalami revolusi fisik, dan sepulang lulus sekolah film di Moskow 1965 ia menemukan masyarakat Indonesia tumbuh dengan cita-cita yang menggerakan revolusi. Dan lewat film ini (karya pertamanya) seakan ia ingin memberontak dengan suatu perampokan yang terorganisir yang mencuri dan menggerogoti pembesar yang korup. Hasil rampokan digunakan untuk usaha sosial, semacam Robin Hood modren. Hal ini tidak lepas dari ideologi negara Rusia saat itu. Maka yang diambil olehnya adalah sosialisme Rusia.

Seorang bekas pejuang, setengah baya, cacat badani dan kira-kira juga berjiwa, hidup membujang dengan rumah mewah serta villa bagus di Bali. Tokoh ini dihadapkan pada kenyataan yang bertentangan dengan cita-cita yang mendorongnya bersama banyak temannya berjuang bagi kemerdekaan; Korupsi dan penyelewengan. Tentang orang inilag Sjuman melalui film Lewat Tengah malam nya ingin bercerita. sekali ini tidak hanya menulis skenario, tetapi cerita dan penyutradaran sekaligus juga ditanganinya.

Bekas pejuang itu bernama Lono (Rachmat Hidayat). Masa kecilnya direnggut kehidupan melarat, masa remajanya habis di jaman revolusi, masa peka itu meninggalkan kenangan emosional yang pahit, selain kakinya yang cacat, semua anak buahnya mati dalam perang. masa damai tidak bisa menentramkannya. Ia sudah terbiasa dengan romatik revolusi, dan teman-teman lainnya sempat menikmati kehidupan merdeka atas kerugian negara. Dalam keadaan itulah Lono menjadi patriotik, cukup romantis namun melanggar undang-undang. Yang tidak dilanggarnya hanya prinsip yang diciptakan sendiri tentang korban yang harus digarap itu. Dengan cara tersendiri Lono bisa bebas masuk kerumah-rumah mereka yang menikmati kemerdekaan atas kerugian negara. Dari sana ia mengeluarkan emas, permata dan uang. Sebelum pergi dari medan operasinya, sepasang sarung tangan hitam selalu ditinggalkannya sebagi tanda. Sang korban tentu selalu melapor pada polisi, tetapi laporan tidak pernah lengkap, karena korban tidak pernah melaporkan hasil kekayaan yang banyak itu ke pada polisi. Karena harta itu dari menikmati kemerdekaan diatas kerugian negara alias korupsi. Karena harta itu di ambil secara korupsi, mala Lono juga mengambilnya secara itu juga.

Meski pun bekas pejuang itu hidup mewah dengan mobil bagus Alfa Romeo (kono di Indonesia hanya ada 2 mobil merek itu), tetapi hasil rampokan itu tidak pula dihabiskan untuk kenikamatan pribadinya. Untuh bekas anak buahnya ia mengusahakan proyek penggiling beras dan pabrik gula serta daerah selatan yang tandus tidak pula terlupakan.

Sementara proyek sosial Lono dikerjakan, polisipun berusaha keras menemukan pencuri bersarung tangan hitam ini. Joko komandan tim anti bandit (Soekarno M) ternyata kakak kandung sang buron. Tetapi yang memastikan Lonolah yang mereka cari, adalah Sukma ( Rima Melati) seorang sarjana hukum. Ia putri pensiunan yang cacat ditabrak mobil oleh orang yang menentang usaha orang tua itu untuk memberantas korupsi. Sukma menemukan Lono sebagi suatu kepribadian yang memikat. Lono memang tertangkap polisi, tapi Sukma sempat tercuri cintanya oleh Lono.

Ternyata sifat romantisme, dan kerinduan masa lalu Sjuman muncul dalam film ini juga, saat flashback di villa mewah Bali, disaat minum sampanye, flashback masa lalu muncul, mengenang masa pahit perjuangan, memang suatu ironi pada masa itu dengan stting villa mewah dan minum sampanye. Tetapi sejumlah kritikus film menilai hal ini kurang meresapi penonton atas arti romantisme masa lalu dengan minum sampanye, karena sebelum flashback itu muncul, diawali dan minum sampanye dulu, sehingga apakah dia memang mengenang masa manisnya atau karena pusing minum sampanye. Maksud Sjuman jelas sekali ingin menggambarkan ke kontrasan dengan minum sampanye tidak sembarang orang bisa minum kalau dia tidak kaya raya, di tengah villa mewah di Bali pula. Tetapi gambar falshbacknya sangat rapi sekali, seolah tidak ada emosi didalamnya sehingga dimaksudkan hal itu romatisme yang mengenang, masa pahit perjuangan dengan apa yang didapat tokoh itu saat ini, kemewahan. Kalau Sjuman membuat dengan adanya unsur emosional kekecewaan dengan diawali romatisme indah dengan diiringi sampanye dengan tenang dulu, lalu seemosional dia meminum sampanye, flshbackmnya tidak seindah diawal hingga hancur berantakan dan drama minum sampanyenya juga semakin kacau sesuai apa yang dia flashbackan, ini mungkin jauh menari. Tetapi ini bukan gaya Rusia, tertapi mungkin unsur ada sedikit emosional diakhir flashback lebih baik, hal ini untuk menghindari cara verbal artificial yang sering terjadi dalam film-film Sjuman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar