Sabtu, 05 Februari 2011

LAKI-LAKI PILIHAN / 1973

LAKI-LAKI PILIHAN

Suara Azan, cahaya subuh, taluk beduk, kesibukan menyembelih hewan kurban, semua itu adalah kesibukan Haji Anwar (Nico Pelomonia) pada suatu pagi di Idul Adha. Inilah dia cerita tentang kisah jagoan dari Banten, bekas pejuang, pengusaha kaya, dan bapak bagi family, bekas anak buah maupun teman-teman sekampungnya. Sebagai orang Banten dengan latar belakng islam yang kuat, pada diri Anwar berakar kesalehan, tetapi hidup yang selalu mudah selepas revolusi tidak sanggup menghindarkannya dari keterlibatannya dalam dunia keras, pahit dan kadang berdarah. Disat suasana lebaran Idul Adha itu, dimana semua tamu sedang menikamati makanannya, datang pengaduan suami-istri yang anak gadisnya diperkosa beberapa pemuda. Walaupun hakim sudah memutuskan, tetapi suami istri tidak puas akan keputusan hakim itu. Haji Anwar punya Deden SH (Ami Priyono) seorang anak angkat yang banyak hidup bersama Haji Anwar. Sedangkan yang lain ada Akil (Dicky Zulkarnaen) anak asuh H.Anwar juga yang memiliki temperatur yang keras. Konflik dalam keluarga besar ini terletak pada anak asuh H.Anwar yang memiliki banyak kewatakan mereka. Kemauan dan cita-cita. Contohnya produser Film (Kris Biantoro) yang melakukan aksi sepihak terhadap anak angkat H.Anwar yang bernama Fuad (Achmad Albar) harus meraung-raung setelah menemukan ayam aduannya mati tersembelih. Dan Anak muda yang ingin merencanakan pembunuhan pada H.Anwar akhirnya babak belur oleh tangan Akin. Akin akhirnya mati ditangan Bandit Murtado (Ruslan Basri) disaat dengan mudah ia dipancing keluar rumah oleh Murtado. Pertikaian antara Akil dan Mochtar (Dady Djaya) adiknya. Mochtar seorang anak lebih menikmati melaut dari pada hidup dikeluarga itu. Berkali-kali ia menolak ajakan bapaknya untuk memegang peranan dalam kegiatan keluarga. Tetapi ketika gerombolan Murtado melakukan aksi berdarah, tidak ada pilihan lagi terlibat dan membalas dendam. Tragisnya pula, kebrutalan Murtado bermula pada anak angkat Haji sendiri, Piet (Franky Rorimpandey) yang terlalu cepat ingin kaya dan memusuhi bapanya yang menolak terlibat dalam perdangan narkoba. Perang Haji Anwar dan Murtado pun terjadi hingga ke kampung. Cerita ini teringat oleh Godfather novel, entah kenapa sama. Kehidupan Don Corleone (Marlon Brando) sama seperti H.Anwar. Corleone juga punya anak bertemperament panas bernama Sonny, H.Anwar punya Akil, dan kedua anak muda itu mati dengan jalan yang sama. H.Anwar tidak pernah mengucapakan ini kepada Ahli Hukum "Seorang pengacara dengan tasnya dapat mencuri lebih banyak uang dari yang dapat diperoleh seratus orang bersenjata." dan ini juga sama dengan film Godfather. Yang jelas perbedaanya adalah suasana dan maksud yang ingin disampaikan. Tetapi Laki-Laki Pilihan mulai dari pakaian, penataan ruang, penyusuanan dialog, pengaturan pemain, iringan musik, semua itu secara bersamaan telah menciptakan suatu film yang sederhana tetapi hidup dan memancarkan kemesraan yang dikenal orang Indonesia. Cacat yang paling besar dari film ini adalah kelalaian menyebutkan nama Mario Puzzo (pengarang Godfather) dalam credit title. NB: Film ini jadi teringat akan banyaknya organisasi masyarakat (ormas) yang ada di Indonesia ini. Bahkan film ini lebih Indonesia sekali bila ingin menggambarkan tentang premanisme yang bernaung dalam sebuah ormas. Ada yang berdasarkan nasionalis, pancasila, hingga ke Agama. Itu yang nyata dalam negara Indonesia. Sosok Pak Haji di film ini adalah gambaran yang jelas tentang ormas islam yang ada di Indonesia ini. Ini jauh lebih baik dari pada ke bule-bule'an atau ke mafia-mafian Italia'an seperti film gengster Bule. Film ini sangat khas Indonesia sekali gambarannya. Saya jadi iri akan kebebasan cerita film saat itu. Bagaimana bisa mungkin kita membuat film seperti itu saat ini.?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar