Kamis, 10 Februari 2011

KUGAPAI CINTAMU / 1977

KUGAPAI CINTAMU

Widuri (Lenny Marlina) adalah tipologi gadis desa Jawa yang tak berani mengutarakan cintanya dan pasrah. Irawati (Jenny Rachman), gadis manja dan agresif, yang dituruti semua kemauannya oleh orangtuanya yang pengusaha, karena sudah diramal tak berumur panjang. Dua-duanya mencintai Tody (Cok Simbara), tokoh mahasiswa yang peragu dalam cinta hingga sering berkonsultasi dengan sahabatnya, Anton (Roy Marten), mahasiswa psikologi. Widuri yang mencinta dalam diam, kalah dengan Irawati. Meski demikian, Irawati seolah belum puas. Saat Tody berKKN ke desa Widuri, Irawati mengerjai Widuri. Widuri diperkosa kawan-kawan berandalan Irawati, hingga hamil dan pulang ke desa. Tody, yang mendapat surat dari orangtuanya bahwa tak sanggup membiayai sekolahnya lagi, lalu bekerja pada orangtua Irawati. Saat menolong teman yang butuh duit dengan uang perusahaan dan gagal dikembalikan, Tody ditodong mengawini Irawati yang hamil akibat pergaulan bebasnya. Ia tak bisa mengelak, tapi lalu pergi bekerja di tempat lain. Irawati yang merengek, tak dihiraukan. Tody tetap mencintai Widuri. Ia menyusul Widuri ke desanya, mengajak kawin dan menyuruh cerai dengan suaminya yang bajingan.Widuri tak mau. Dalam keadaan kalap ia pulang dan mengalami kecelakaan, sementara Irawati juga meninggal saat melahirkan. Semuanya menggapai cinta





News

Sutradara: wim umboh pemain: roy martin, jenny rahman resensi oleh: salim said. (fl)
KUGAPAI CINTAMU Cerita: Ashadi Siregar Skenario: Arifin C. Noer Sutradara: Wim Umboh.
INI film disutradarai oleh Wim Umboh. Di sini ia betul-betul cuma sutradara, bukan pengarang cerita yang sekaligus penulis skenario. Dan Wim, dengan bantuan Arifin C. Noer (skenario) membuat film berdasarkan novel populer Ashalli Siregar. Tapi berlainan dengan Ashadi yang bercerita secara kronologis, susunan cerita yang dihasilkan Arifin memulai perjalanannya dari ziarah kuburan yan dilakukan oleh Anton (Roy Marten ke kuburan dua tokoh utama yang telah tiada. Seluruh cerita menjadi sekedar kenangan Anton yan terduduk di depan nisan kedua temannya. Barangkali untuk mengingatkan penonton akan hal itulah maka di tengah-tengah cerita, beberapa kali adegan Anton menabur bunga di kuburan itu diperlihatkan. Keberanian bercerita macam ini memang patut dipujikan, tapi bukan tanpa risiko. Paling tidak risiko mengerutkan kening penontnn. Mungkin akan lebih lancar jalannya cerita jika pemunculan Anton di kuburan disederhanakan dengan menyisakan bagian awal dan penutup. Adapun tentang kisahnya, karya Ashadi Siregar yang amat populer ini nampak masih juga bersibuk dengan impian-impian pengarangnya mengenai dunia kemahasiswaan sebagai yang diperlihatkannya dalam Kampus Biru. Anton-dalam Kampus Biru juga dimainkan oleh Roy Marten - masih merupakan tokoh kesenangan Ashadi. Cerdas sebagai penuntut ilmu, hangat dalam pergaulan, Anton juga jago dalam bercinta. Ini amat berlainan dengan Farai Tody (Cok Simbara). Serius dalam kegiatan kemahasiswaan, Tody yang mengaku selalu dikecewakan oleh wanita itu, penampilannya angker dan dingin di tengah sejumlah gadis. Yang terakhir ini tokoh yang dinasib -murungkan sang pengarang. Barangkali karena itulah dengan segala cara, Tody akhirnya dijebloskan ke liang lahat setelah menderita berbagai tekanan batin. Irawaty Yang Itu Juga Yang juga berakhir di liang lalat adalah Irawaty (Jenny Rahrnan), puteri orang kaya yang gemar rmortin dan pergaulan bebas. Bagi para penonton tetap film Indonesia, tokoh ini bukan tokoh yang asing disayangi oleh orang tua secara berlebihan sedang pengawasan tidak memadai, morfin dan sex bebas merenggutnya. Dan matinya Irawaty pun haruslah dilihat dalam moralitas massal yang mendominasi cerita pop dan film-film kita. Bertahannya Widuri (Lenny Marlina) terhadap maut, meski mendeita lahir batin, juga sebaiknya dilihat dalam moralitas van sama. Lalu apa sebenarnya yang ingin dikemukakan oleh Ashadi di sini? Di dalam lampus Biru -- meski percintaan Anton dan dra Yusnita agak berlebihan -- tidak urung terasa menyentuh juga impian sang pengarang. Dengan membandingkan Anton dan Tody, soalnya menjadi lain. Paling tidak cara menggambarkan Tody dalam film ini tidaklah sepadan bagi "hukuman" yang akhirnya dijatuhkan padanya dengan kematian itu. Tody bukanlah tokoh yang kontras perwatakannya dengan Anton. Meski cukup berbawa sebagai ketua panitia masa perkenalan ia toh bisa bercinta dengan gadis "centil" Irawaty di Kaliurang. Perbedaannya dengan Anton bukanlah perbedaan diametral melainkan dalam tingkat. Yang satu lebih lincah, lebih hangat, yang satunya - lantaran pengalaman lebih berhati-hati dan berperhitungan. Barangkali saja kesan ini timbul lantaran karya Wim berusaha sesetia mungkin pada novel Ashadi. Arifin C. Noer kelihatannya kurang keberanian untuk mengembangkan karya Ashadi itu menjadi sebuah skenario yang lebih kaya meski memang harus sedikit "melampaui" novel aslinya. Tapi kesan yang paling keras adalah bahwa Wim Umboh tidak mengemukakan tafsirannya terhadap cerita yang difilmkannya. Wim hanya memfilmkan novel Ashadi tanpa dirinya sendiri terlibat. Ini bisa terlihat pada mengalirnya cerita tanpa usaha memberi tekanan untuk maksud tertentu dari sang sutradara. Tapi film ini mungkin menarik juga untuk ditonton. Selain untuk melihat - sekli lai -- keterampilan Wim Umboh serta hasil kerja kamera Lukman Hakim Nain, dengan menyaksikan film ini orang toh berkesempatan mengikuti cerita Ashadi tanpa harus bersusah payah berjam-jam membacanya. Seluruh film ini dibuat di Yogyakarta, suatu hal yang menycbabkannya pemandangan baru di layar setelah film-film kita berputar di berbagai plosok Jakarta. Wim Umboh juga mengedit filmnya sendiri. Sebagai editor terbaik dalam FFI 1977, di dalam karyanya ini pun Wim tampil dengan keterampilannya itu. Gerak yang dinamis memenuhi film ini. Begitu dinamisnya sehingga kadangkadang mengejutkan. Keinginan Wim bercerita dengan cara memintas memang patut dipuji, tapi tidak pada adegan pertemuan antara Tody dan ayah Irawaty (Umar Kayam) atau pada peralihan dari adegan perkelahian di penjual gudeg ke adegan menerima surat di dalam kampus. Yang pertama menimbulkan pertanyaan mengenai mudahnya jadi manajer perusahaan (dalam naskah aslinya, pekerjaan itu diperoleh karena katabelece sang dekan), sedang pada yang kedua menimbulkan kecurigaan akan kekurangan imajinasi si pembuat film. Di bagian terakhir, ketika menjelang ajal Tody, editing yang teramat lincah -- pergantian close up Tody dan patung kecil bunda Maria -- tidak berhasil menciptakan suasana sendu yang memukau. Perhatian penonton terampas dan kematian lolos dari tangkapan. Film ini memang suatu langkah baru bagi Wim dalam hubungannya dengan novel. Dalam keadaan demikian, tidak sepantasnya diminta terlalu banyak dari padanya. Ia tidak berhasil menimbulkan keharuan, bahkan tidak sempat secara saksama menempa pemainnya. Tapi Kugapai Cintamu ini toh merupakan salah satu karya Wim yang jelas ujung pangkalnya, paling tidak, jika dibandingkan dengan Cinta atau bahkan Sesuatu Yang Indah. Salim Said

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar