Rabu, 16 Februari 2011

Khaerul Umam Jingkrak0jingkrak untuk Ramadhan

KHAERUL Umam tak berjingkrak ketika ~akhir pekan lalu tampil di panggung Sasono Langen Budoyo TMII. Ketika menerima penghargaan tertinggi sebagai sutradara terbaik dalam malam puncak Festival Film Indonesia 1992, sutradara Ramadhan dan Ramona itu berucap dengan suara bariton, "Mudah-mudahan benda-benda ini tak membuat saya takabur, tapi lebih mendorong saya berprestasi lebih baik lagi." Wajah Mamang, begitu panggilan akrabnya, juga biasa-biasa saja ketika tampil di panggung menerima Piala Citra untuk kedua kalinya karena filmnya, Ramadhan dan Ramona, dinyatakan sebagai film terbaik. Malam itu juga merupakan malam kejutan buat Jamal Mirdad, penyanyi yang dinobatkan sebagai aktor terbaik di film itu. Bukan saja itu merupakan film yang diproduserinya sendiri, tetapi istrinya, Lydia Kandou, juga memperoleh Citra sebagai aktris terbaik. Ini Citra kedua untuk Lydia Kandou setelah tahun lalu menggaet penghargaan tertinggi itu dalam film Boneka dari Indiana. Memang tak seorang pun menduga Jamal bakal menang. Lydia sendiri, yang ditunjuk membacakan nama-nama unggulan pemeran utama pria, kaget. Ketika membuka amplop pemenang, matanya membelalak. Dengan ragu-ragu, suaranya lirih dan pelan membaca, "Ah, masa...Jamal...." Dan akhimya ia pun berteriak, "Jamal Mirdad dalam film Ramadhan dan~ Ramona...." Khaerul Umam pun terkesima. Ketika Ramadhan dan Ramona muncul sebagai salah satu di antara lima unggulan FF~I 1992, ia hanya mengunggulkan Lydia Kandou sebagai pemeran utama wanita terbaik. Ternyata film itu mendapat lima Piala Citra, selain yang sudah disebutkan tadi masih ditambah dengan skenario terbaik untuk Putu Wijaya. Untuk diketahui, lima film unggulan yang diumumkan seminggu sebelumny~a adalah Bibir Mer (sutradara Arifin C Noer), Kuberikan Segalanya (Galeb Husin), Ramadhan dan Ramona (Khaerul Umam), Nada dan Da'wah (juga Khaerul Umam), Plong alias Naik Daun (Putu Wijaya). Para pengamat film hampir tak ad~a yang menjagoi Ramadhan dan Ramona. Yang dijagoi adalah Kuberikan Segalanya Plong, dan Bibir Mer. Ternyata, Kuberikan Segalanya, film yang dianggap sebagai loncatan besar Galeb Husin, mampu memenangkan Piala Citra untuk pemeran pembantu pria (Deddy Mizwar~) dan penata musik (Idris Sardi). Juga mendapat penghargaan khusus dari Dewan Juri untuk pemeran utamanya, yaitu Nihayah Abubakar. Sedangkan Plong hanya memperoleh Piala Citra untuk penata fotografi (FES Tarigan). Adapun Bibir Mer bisa memperoleh Citra untuk pemeran pembantu wanita (Jajan~g Pamontjak) dan penyunting (Karsono Hadi). Terpilihnya film Nada dan Da'wah sebagai salah satu film unggulan, juga Rhoma Irama dan KH Zainuddin MZ masing-masing sebagai salah seorang unggulan pemeran utama pria dan pemeran pembantu pria, menimbulkan tanda tanya. Soalnya, semula komite seleksi hanya memunculkan delapan film unggulan, "karena hanya delapan yang berkualitas baik", seperti dikatakan seorang anggota komite seleksi. Tapi ada ketentuan SK Menteri Penerangan Nomor 151/1988, yakni jumlah film unggulan paling sedikit harus 11 dan palin~g banyak 19. Maka tiga film pada peringkat di bawahnya dian~gkat. Karena ada beberapa anggota komite seleksi yang bersikeras tetap mempertahankan jumlah delapan, keputusan pun terpaksa diambil dengan pemungutan suara. Ini berakibat masuknya film Nada dan Da'wah sebagai salah satu film yang berhak dinilai tim juri FFI, dan bahkan kemudian dinyatakan sebagai film unggulan. Rhoma Irama dan Zainuddin MZ yang membintangi film ini juga mendapat unggulan. Terpilihnya dai kondang KH Zainuddin MZ sebagai salah seorang unggulan pemeran pembantu pria juga menimbulkan pro-kontra. Sejumlah ulama mengajukan protes. Tapi, bagi ketua Dewan Juri, Tatiek Maliyati, hal itu tidak mempengaruhi keputusan juri. Katanya, bahkan tukang becak pun bila bermain film akan dinilai permainannya. Zainuddin belakangan mengundurkan diri sebagai unggulan pemain pembantu pria. "Tapi meski mengundurkan diri ia tetap bisa dinyatakan sebagai pemenang," kata Tatiek kepada Niniek Muji Karmini dari TEMPO. Untunglah dai ini tidak menang, sehingga tidak membuka polemik berkepanjangan. Toh Nada dan Da 'wah juga memperoleh Piala Citra, yakni dari cerita asli atas nama Asrul Sani dan penata suara yang digarap oleh Edi S. Pramono. Budiman S. H~artoyo, MD Adjie

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar