Senin, 07 Februari 2011

KERIKIL-KERIKIL TAJAM / 1984

KERIKIL-KERIKIL TAJAM

SUMBER : SUARA KARYA MINGGU, 21 Juli 1985

Romantisme Syuman Dengan Wanita Desa.


Wanita bukan obyek, kok, tapi subyek”, kata Sjuman Jaya. Lalu dia menyelenggarakan seminar sehari dengan judul “Nasib Wanita Desa Menuju Eksistensi Diri di Tengah Gejolak Pembangunan”. Pembicara utamanya dia sendiri. Mungkin anda segera berseru: “ah klise!” Tapi nanti dulu, Sjuman tidak berbicara lisan. Dia sebagaimana profesinya berbicara lewat media ekspresi yang namanya film. Judul seminar yang panjang itupun disesuaikan menjadi “Kerikil kerikil Tajam” Kehadiran film ini menjadi penting artinya karena Sjuman berani menjabarkan ide tentang wanita yang klise itu, lebih-lebih dengan embel-embel pembangunan, menjadi puitis. Bahkan dengan meresapi ide yang terkandung dalam film ini, sekaligus kita resapi visi pribadi Sjuman, khususnya tentang wanita-wanita di orbit pengamatannya. Siapa tahu, kita sendiri atau istri atau anak kita termasuk diantaranya.

Hidung belang di mana-mana
Wanita-wanita yang dimaksud Sjuman dalam film ini adalah Retno (Chistine
Hakim) dan Inten (Wenty Anggraini). Kakak beradik yang saling menyanyangi ini berasal dari keluarga sederhana, di desa kecil dipinggir pantai. Namun demikian mereka berkesempatan bersekolah. Retno bahkan hampir tamat SMA. Gadis ini merencanakan menikah setelah lulus kelak. Pacarnya yang setia, Ganjar (Ray Sahetapy) juga berasal dari keluarga sederhana. Sementara itu pembangunan yang diprogramkan pemerintah telah memasuki desa mereka. Hiruk pikuknya proyek pembangunan menimpali debur ombak. Putra-putra daerah yang kebagian proyek itupun menjadi cermin keberhasilan hidup. Contohnya Gatot, kakak Ganjar. Karena bekerja di pabrik semen, dia mampu membeli televisi dan video yang menyajikan gambar-gambar lebih menarik daripada tontonan setempat yang tradisional. Joko yang bekerja di kota mampu mondar mandir dengan mobil mengkilatnya. Kota menjadi daya tarik. Sebab di sanalah sumber pembangunan. Karena itu Retno dibujuk oleh ayah dan ibunya untuk segera pergi ke kota mencari penghidupan yang lebih layak. Karena desakan itu, Retno dengan mengajak adiknya, mengadu nasib ke rantau orang. Kebetulan Joko menawari mereka pekerjaan yang katanya menarik. Tapi yang menarik itu ternyata menyakitkan. Retno dan adiknya cuma dijual kepada majikan Joko. Retno semakin sakit hati ketika Joko mengatakan bahwa dia dan adiknya dibeli dengan harga mahal dari orang tua mereka. Karena itulah Retno memutuskan untuk tidak kembali desa, tapi menurutkan hati ke mana pun pergi. Di kota pertama pelarian itu, Retno dan Inten berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan rumah makan. Di sini kembali Retno mendapat cobaan. Seorang nyonya asal metropolitan mempermalukannya didepan umum dengan tuduhan mencuri perhiasan. Selesai urusan itu, Retno nyaris diperkosa oleh anak si empunya rumah makan.

Akibatnya Retno memilih pergi. Tujuannya adalah ibu kota yang penuh harapan. Kakak beradik itu mendapat tempaan pengalaman yang “lumayan”. Dari berjualan koran disekitar lampu lalu lintas, terkena razia bersama wanita-wanita tuna susila, sampai masuk panti rehabilitasi para wts. Keluar dari sana bekerja sebagai tukang binatu pada akeluarga Santoso. Tapi karena Santoso punya bakat hidung belang, kembali Retno dan Inten minggat. Oleh Masful (Roy Marten) seorang wartawan lepas, keduanya dibantu sehingga berhasil mendapat pekerjaan di pabrik makanan. Ujian belum selesai, Retno dan adiknya terbentur pada kasus perburuhan di pabrik tempat mereka bekerja. Beberapa pegawai wanita itu dirusak “kehormatannya” oleh orang-orang yang tidak jelas. Retno berusaha menolong teman-temannya. Usaha itu terutama untuk menolong nasib adiknya dan dirinya sendiri. Cirinya? Dia harus mau tidur dengan pimpinan pabrik itu. Dalam kemelut perang batinnya,Retno melarikan diri. Terakhir dia menggantungkan harapannya pada Amangku (Deddy Mizwar), seorang pengacara, orang terakhir yang diharapkan mampu menolong nasibnya. Kali ini mau mempertaruhkan kehormatannya pada pria itu.

Selama pelarian Retno, selama itu pula Ganjar berusaha mencari kekasihnya. Di kota besar yang “keras” itu, pengalaman menempa remaja-remaja asal desa tersebut, secara lahir dan batin. Bahkan, mereka kemudian besepakat memilih desa kembali, sebagai tumpuan harapan.


Pendidikan tak hanya di kota

Pengalaman Retno dan Inten, mengingatkan kita pada cerita wayang episode Pergiwa-Pergiwati. Ada persamaan ide dasar dan falsafah. Pergiwa dan Pergiwati adalah kakak beradik putrid asal padepokan yang sepi. Karena rindu kepada ayah dan ingin memperbaiki nasib, keduanya pergi ke kota, mencari ayahanda mereka. Raden Arjuna yang telah lama tak jumpa. Namun banyak cobaan selama perjalanan dari padepokan ke Kadipaten Madukara. Cantrik Janaloka, sang pengantar menyalahgunakan kepercayaan mereka dengan memaksakan kehendaknya untuk memperistri Pergiwa. Kedua putri itupun melepaskan diri. Lepas dari satu hidung belang, jatuh kehidung belang lainnya. Di rimba raya yang buas itu, mereka menjadi buruan para Kurawa. Raden Lesmono putra pimpinan Kurawa, berminat pula memperistri Pergiwa. Malang tak dapat ditolak dalam pelarian itu. Pergiwa dan Pergiwati terjatuh kedalam jurang. Tapi mereka menjadi terbebas dari kebuasan para kurawa. Lebih penting lagi Syuman ingin mengatakan bahwa pembangunan di desa mempunyai arti penting. Bukan hanya fisik desa itu saja yang berubah, tapi juga mental masyarakatnya. Khususnya tentang Retno, harga dirinya yang tinggi sangat menonjol.

Dalam mempertahankan kehormatannya, tidak hanya sekedar karena nurani (seperti pada kebanyakan orang-orang yang kurang pendidikan), tapi dengan perhitungan. Sikap semacam ini hanya dilakukan oleh orang-orang berpendidikan cukup. Contohnya, pada waktu ia memutuskan untuk menemui pimpinan pabrik tempatnya bekerja. Tujuannya adalah “kalau aku berhasil, teman-temanku akan selamat dan adikku pun terhindar dari nasib buruk”. Juga tangisan Retno terhadap kecurigaan pimpinan rehabilitasi wts. Retno dengan marah mengatakan “Saya terbiasa bekerja keras. Dan yang terpenting saya adalah seorang pelajar”. Sikap seperti itu diperlihatkan Retno sebagai bukti bahwa dia berani karena benar. Bahkan sejak semula keberanian itu telah nyata, yakni ketika ia memutuskan untuk tidak kembali ke desanya, tapi menciba lari ke kota besar. Keberanian disini adalah cermin kemandirian. Sebab tak semua orang, lebih-lebih wanita yang mampu melepaskan diri dari lingkungan yang mapan. Seandainya mampu dan berani perlu waktu untuk beradaptasi dengan keadaan. Tapi Retno tak memerlukan itu. Sementara Inten yang mengekor kakaknya terseret begitu saja mengikuti arus yang membawa pokok tempatnya bergantung.

Namun, motivasi kepergian Retno dan Inten dari desanya agak kabur. Mengapa Retno dan Inten yang masih sekolah dan belum lulus itu harus cepat-cepat meningalkan desa? Bukankah mencari pekerjaan bisa ditunda bila Retno lulus SMA? Toh dikeluarga mereka tak terjadi apa-apa yang mendesak kedua gadis itu pergi ke kota. Agaknya, logika tergeser oleh tuntutan ceritera.

Romantisme Syuman
Meja bilyard yang menjadi “fore ground” (latar depan) pada adegan Retno dan Inten diserahkan kepada majikan Joko adalah sebuah gambaran bahwa orang kaya bisa “mengatur dunia”. Dia bisa membeli nasib seseorang dengan kekayaannya. Ketika majikan itu mengambil bola putih dan menggelindingkannya sampai masuk kedalam lubang, adalah symbol dari kekuasan itu. Contoh lain yang lebih gamblang adalah benturan social budaya barat dan timur lewat kesenian tradisional “ledek” (tari tayub) yang dihadirkan secara “parallel cutting” dengan tarian modern oleh penari bule berpakaian minim lewat pesawat video.

Pada suatu saat musik disko yang hingar bingar itu menutup suara gamelan. Dari sana tersirat pertanyaan, benarkah kebudayaan barat telah mengalahkan budaya tradisional? Bahkan tokoh utamanya sendiri. Retno dan Ganjar lebih suka menonton video itu daripada banyolan-banyolan yang dilantunkan penari “ledek” dan badutnya. Idiom-idiom sinematik semacam itu tidak”vulgar” tapi terasa menggigit. Bahkan romantisme Syuman juga dimunculkan lewat tokoh Amangku. Pria setengah umur tanpa isteri yang menyimpan lukisan naturalis seorang wanita cantik adalah symbol sepotong cinta dan kekaguman terhadap keindahan. Syuman memang pengagum wanita dan dia mau menghargai wanita itu lewat kekagumannya. Paling tidak hal itu relevan dengan keadaannya dewasa ini. Setelah dia memperisteri seorang artis baru yang berbakat. Rupanya Syuman merasa telah mapan. Agak berbeda dengan film-filmnya terdahulu, irama film “kerikil” terasa lebih lincah. Dalam arti, frame demi frame dirangkai dan disunting dengan cermat dan efisien. Misalnya, gambar adegan orang tua Retno menyerahkan anaknya untuk bekerja di kota disambung langsung dengan gambar adegan Retno dan Inten diantara Joko menghadap majikan yang kaya “membeli” orang. Demikian pula dari adegan Retno dan Inten terdampar di Purwokerto, langsung keadegan Retno dan Inten. Nani Wijaya adalah nama yang “menjanjikan” paling tidak jaminan kelarisan. Keunggulan Syuman adalah dia tidak mengadu acting artis-artisnya, karena kelebihan masing-masing itulah, mereka justru saling mengimbangi. Karena itu tak ada artis yang menonjol termasuk Christine Hakim yang biasanya demikian. Hanya saja Christine sangat beruntung dengan perannya kali ini. Setelah sukses memerankan wanita tua pada film “Ponirah Terpidana”, Christine mendapat kesempatan memerankan gadis muda di “kerikil”. Jarang sekali artis Indonesia yang punya kesempatan membawa peran bervariasi seperti itu.

Pembaharuan sikap
Bagi Syuman pribadi, nampaknya film ini merupakan pembaharuan sikapnya. Kalau pada film Si Doel Anak Modern tahun 1976. Syuman menertawakan dan mengejek para urban, di sini “kerikil” Syuman justru bersimpati pada para urban. Selamatnya nasip Retno dan Inten adalah indikasi yang jelas. Demikian pula bila kita bandingkan dengan film Syuman tahun lalu yang berjudul “Budak Nafsu”. Di sana tokoh wanitanya abis-abisan menderita dan sengsara. Di “kerikil”, Retno dan Inten selalu dihindarkan dari puncak derita. Memang ide dasarnya berbeda. Budak Nafsu berdasar novel, sedangkan “kerikil” adalah ide Syuman sendiri. Di film ini bahkan Syuman sama sekali tak menyajikan adegan buka pusar atau paha seperti pada Budak Nafsu. Agaknya Syuman ingin meralat, bahwa tanpa eksploitasi seks, film bisa menarik. Lebih dari itu tersirat juga pandangannya tentang wanita. Bukan hanya yang berasal dari kota, wanita desapun punya harga diri dan mandiri. Di tengah hiruk pikuk pembangunan dan akses-aksesnya, wanita bisa menyesuaikan diri. Retno dan Inten kembali ke desa dengan selamat. Hubungan Retno dengan Ganjar yang terputus sesaat tersambung kembali. Seperti nasib Pergiwa-Pergiwati. Mereka juga selamat keluar dari hutan rimba belantara. Mereka jumpa dengan Ayahanda yang dirindukan, bahkan Pergiwa menemukan jodohnya kesatria perkasa. Raden Gatotkaca. Dan seminar sehari tentang martabat wanita itupun menjadi bahan renungan kita.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar