Senin, 14 Februari 2011

Kemajuan dalam berperan tampak

01 Juli 1978
DI bawah cahaya taram-temaram di ruang makan Victoria Hotel, Ujungpandang, larut malam tanggal 10 Mei 1978, setelah nama para pemenang Festival Film Indonesia (FFI) 1978 diumumkan, di meja agak menyendiri duduk Maruli Sitompul. Lagi bercakap-cakap dengan Teguh Karya, Roy Marten, Ami Priyono, saya bangkit dari kursi menuju tempat Maruli. Saya salami dia: "Saya telah berusaha keras mendorong, agar saudara dapat piala Citra, tapi tidak berhasil. Buat saya saudara seorang versatile actor. Tapi yah, Dewan Juri memutuskan Masito Sitorus yang dapat Citra. Mudah-mudahan lain kali saudara yang dapat." Maruli tidak berkata apa-apa. Matanya menatap saya, seolah-olah di situ tercampur cengang dan senang. Mengapa pula saya pakai bahasa Inggeris untuk memuji dia? Tetapi itulah perkataan yang spontan datang guna menyatakan bahwa Maruli Sitompul aktor berbakat banyak, memiliki kecakapan dalam berbagai-bagai lapangan acting. Para anggota juri telah memajukan namanya untuk dipertimbangkan sebagai pemeran pembantu terbaik, mulai sebagai bapak Sonny dalam film Yang muda yang bercinta, sebagai Genggong dalam Kembang-kembang plastik, sebagai kakek dalam Raasia seorang ibu hingga sebagai pater Donggo dalam Gersang tapi damai. Karena terpencar-pencar dalam berbagai ragam peranan tadi, akhirnya dia tidak mencapai angka seperti yang diperoleh Masito Sitorus dalam Jakarta, Jakarta yang mendapat dukungan massif dari para anggota Dewan Juri. Permainan Masito Sitorus sebagai montir Albert Silitonga meninggalkan kesan yang begitu kuat pada Dewan Juri sehingga tiada keraguraguan buat menyatakannya sebagai the best. Namun tak dapat disangkal orang nomor dua yang menyusulnya dalam nominasi ialah Maruli Sitompul. Permata Alit Ada beberapa pemeran pembantu lain yang menarik perhatian Dewan Juri. Permainan Alam Surawijaya sebagai pensiunan Pak Salam dalam Istriku sayang, istriku malang bagaikan batu permata alit yang indah. Aktor-aktor angkatan lama seperti A. Hamid Arif, Darussalam dan Awaluddin yang ketiganya bermain dalam Pembalasan si Pitung Jiih menunjukkan kemampuan membawakan peran yang daripadanya generasi muda aktor sekarang masih bisa belajar banyak. Dewan Juri memberikan penghargaan khusus kepada Awaluddin yang bermain sebagai Babah Bong. Ada sebuah kalimat dialog yang diucapkannya dengan lidah cina tepat dan mempertinggi kadar acting-nya yang berbunyi: "Main sikitt lha .... " Pemeran pembantu yang mempunyai potensi untuk berkembang, tanpa dia harus mengucapkan banyak dialog, tapi cukup dengan hanya mengisi layar putih dengan kehadiran fisiknya, ialah Rachman Arge yang bermain dalam Jumpa di persimpangan. Bukan karena dia ketua PWI cabang Ujungpandang, jadi boleh dibilang termasuk "c.s" saya juga, namun saya pribadi berkata "Rachman Arge adalah Charles Bronson Indonesia," artinya kalau dia mau betul-betul jadi aktor. Di kalangan pemeran pembantu wanita, Nani Wijaya mendapat piala Citra untuk perannya sebagai ibu dalam Yang muda yang bercinta. Tetapi yang mendapat perhatian besar Dewan Juri ialah juga permainan Rae Sita sebagai Tante Saartje dalam Gaun hitam. Ully Artha sebagai Yayuk dalam Kembang-kembang plastik pun dicatat masuk dalam nominasi oleh Dewan Juri. Malahan dalam katagori pemeran utama wanita Ully Artha hampir dapat piala Citra untuk perannya dalam Direktris muda, akan tetapi akhirnya penilaian angka menentukan piala Citra harus diberikan kepada pendatang baru Joyce Erna dalam Suci Sang Primadona. Seorang anggota Dewan Juri menilai permainan Joyce sebagai "kapabel merefleksikan berbagai corak suasana perasaan." "Gigling" Bagaimanakah penilaian Dewan Juri tentang bidang akting dalam film-film yang berlomba dalam FFI 1978? Juri berkata: "Dalam berperan (akting) jelas ada kemajuan pada lebih banyak pemeran. Kekakuan dan "kematian" berkurang, diganti oleh kebebasan dan kelonggaran yang wajar. Kecengengan juga berkurang. Tapi giggling, ketawa-ketawa nervous tetap ada. Beberapa pemeran yang di masa lalu tidak berarti, kini tiba-tiba maju pesat, dan kepada mereka kita perlu beri pujian khusus. Mudah-mudahan mereka akan menjadi pendorong bintang-bintang lain. Sebaliknya, aktor-aktor paling laris sudah menjadi hampir semuanya aktor-aktor tehnis belaka. Dalam segala situasi dan peran, acting-nya dari film ke film sama saja. Produser dan sutradara perlu memberi saluran-saluran lain kepada mereka agar kreativitas-mereka bangun segar kembali. Janganlah mereka dlbenamkan dalam type casting. Rasanya Dewan Juri tidak perlu memperinci dan mengeja semuanya, sebab apa yang dikatakannya tadi nicaya dimaklumi oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Tinggallah hanya pengharapan agar sesudah ini benar-benar menyusul usaha mengubah dan memperbaiki. Buku teks menyatakan, aktor ialah kekuatan kreatif yang paling besar dalam drama. Sedangkan tugas sutradara ialah merangsang cetusan bunga api kreasi dan mencetak hasil-hasil yang dinamis ke dalam suatu kesatuan tunggal yang dinamakan produksi. Apakah uraian buku teks tadi juga berlaku dalam film Indonesia? Saya mulai takut memastikannya. Sebab misalnya saja mengenai soal dubbing yang banyak dihebohkan dalam kasus Kaharuddin Syah, aktor dalam film Letnan Harahap sudah terdengar rupa-rupa pendapat. Satu bilang kalau menurut ketentuan drama dan dunia teater, aktor dan aktris itu harus menggunakan suara sendiri. Yang lain bilang, film ikut tehnologi yang berkembang senantiasa, after recording sudah menjadi umum, dan tidak perlu aktor/aktris itu memakai suara sendiri. Konon kata seorang sutradara, begitu sutradara meneriakkan CUT kepada juru kamera, maka selesailah aktor berperan, dan apakah kemudian dia gunakan suaranya sendiri atau suara dubber, itu tidak penting. Jadi apatah lagi yang dapat saya bilang? Cuma menegaskan Dewan Juri FFI 1978 menilai ada kemajuan dalam berperan. Dan setelah itu saya pun tinggal berperan meneriakkan: CUT ....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar