Senin, 07 Februari 2011

KABUT SUTRA UNGU / 1979

KABUT SUTRA UNGU

Film terlaris I di Jakarta, 1980, dengan 488.865 penonton, menurut data Perfin.

Miranti (Jenny Rachman) ditinggal mati suaminya yang mengalami kecelakaan sebagai pilot. Hidup menjanda ini yang lalu membawa banyak masalah, dan Sjuman mencoba melukiskan ketegaran seorang janda. Masalah yang mencobanya: keusilan kawan lama, pemuda tanggung maupun kenalan baru. Miranti tetap berusaha hidup mandiri. Kesulitan paling besar datang dari adik iparnya sendiri, Dimas (Roy Marten) yang juga mencintainya. Miranti tak percaya akan cinta Dimas. Kecuali dirinya ragu-ragu, dianggapnya Dimas hanya kasihan padanya. Baru di ujung film yang cukup panjang ini, Dimas dan Miranti bersatu, setelah Miranti yakin bahwa dia juga mencintai Dimas

SUMANJAYA AKTIP KEMBALI
“ Kabut Sutera Ungu” Dibintangi Yenni Rachman


Film “Yang MudaYang Bercinta” karya sutradara Syumanjaya terbaru yang dibuatnya lebih setahun yang lalu, tak begitu lancar keluar badan sensor. Film yang dibintangi W.S. Rendra itu, kabarnya telah mengalami banyak potongan sebelum dibolehkan diputar untuk umum, namun para penggemar Syumanjaya ini masih saja kecewa karena belum melihatnya. Sesudah ituSyuman belum membuat film lagi, kecuali menyilahkan Abrar Siregar membuat film “Ombaknya Laut Mabuknya Cinta” atas nama perusahaannya PT Matari Artis Film. Film itupun juga belum beredar di Jakarta. Kabarnya baru pada bulan haji nanti.

Pada bulan-bulan terakhir, Syumanjaya sering berurusan dengan Rumah Sakit Persahabatan, gara-gara kena serangan lever waktu pembuatan film yang dikerjakan Abrar Siregar itu. Akhir bulan Juli lalu, selama 2 hari, Syuman “nginap” lagi di rumah sakit itu. Tapi kali ini berurusan dengan dokter psikiater. Sesudah diajak ngobrol-ngobrol sejak pukul satu malam oleh dokter, besoknya Syumanjaya diizinkan pulang. Atensi darahnya begitu menurun saat itu hanya karena pikiran saja. Rupanya penyakit lever sutradara terkenal ini sudah dianggap pulih, sekalipun dua buah kaleng biscuit dirumahnya di jalan Kotabumi masih penuh oleh obat-obatan. Seperti tak pernah disentuh.

Bulan lalu Syuman gagal berangkat ke festival film Asia di Singapore, sekalipun semua koper-kopernya telah terbang lebih dulu. Ticket pesawat berikut exit permit telah ditangan, tapi petugas pelabuhan masih menahan Syuman untuk naik pesawat yang telah lama menunggu. Dengan penuh pertanyaan, Syumanjaya kembali kerumahnya. Rupanya semua instansi belum diberi tahu “clearing” diri Syumanjaya, seperti yang telah diperlakukan oleh WS Rendra misalnya. Menurut salah seorang teman dekat Syuman, dia agak menganggap enteng perihal surat “clearing” itu. Karena tidak diurus, petugas pelabuhan tidak tahu, dan akibatnya tidak berangkat.



Kabut Sutera Ungu
Dalam sebuah perjalanan ke Surabaya, di atas kereta api, Syumanjaya ditawari banyak buku novel oleh pramugari kereta api. Dari sekian banyak buku, rupanya Syuman tertarik pada sebuah buku yang judulnya “Kabut Sutera Ungu” karya seorang novelis baru Ike Soepomo.

Sebelum Syumanjaya telah diberi tahu oleh banyak orang, bahwa cerita itu bagus. Karena itu Syuman tertarik dan membacanya sampai habis, rencana pembuatan film “Wali Sanga” seperti yang sedang dijajakinya waktu itu dibatalkannya. Perhatian Syuman mulai tertuju kepada novel “Kabut Sutera Ungu”, sebuah novel tentang kemanusiaan dan kisah cinta.

Menurut Ny. Ike Soepomo kepada Vista yang sempat menemui novelis ini di kediamannya di jalan Prapanca Kebayoran Baru Jakarta, novel perdananya itu telah mengalami cetak ulang sebanyak dua kali hanya dalam masa 6 bulan saja. Cetakan pertama pada bulan September tahun lalu,. Cetakan kedua pada bulan Januari tahun ini dan cetakan ke 3 pada bulan Mei yang lalu seprti yang diketahui, sebelum dibukukan cerita “Kabut Sutera Ungu” telah pernah dimuat dalam sebuah majalah wanita secara bersambung di Jakarta.

Yenni Rachman lagi
Menurut Syumanjaya kepada Vista sejak beberapa hari yang lalu dia sengaja telah mendekati artis Yenni Rachman, Syuman telah mengajak Yenni berdialok, bertukar pikiran, bahkan main kiu-kiu, untuk mengenal lebih dekat lagi kebiasaan dan karakter artis film ini. Menurut Syuman kepada Vista, Yenni Rachman seorang artis yang punya potensi besar. “Jangan biarkan dia selalu memainkan rol gadis-gadis banal. Untuk peran semacam itu Yenni tak perlu acting, itu sudah kebiasaan hidupnya. Saya akan mencoba memberikan sebuah peran yang lain kepada Yenni. Saya yakin Yenni mampu untuk itu”, demikian Syumanjaya.

Tahun lalu untuk mendapatkan roll dalam film “November 1828” yang di sutradarai Teguh Karya, Yenni Rachman telah menolak banyak tawaran main. Rupanya penolakan Yenni Rachman terhadap peran yang telah lama dijatahkan untuknya dalam film “Anak Buangan” karya Ismail Subardjo, dan sebuah peran lagi dalam film “Milikku” bersama A. Rafiq produksi Naviri Film, beberapa waktu yang lalu ada hubungannya dengan ajakan Syumanjaya dalam film “Kabut Sutera Ungu” ini.

Kelihatanya Yenni Rachman adalah satu-satunya bintang film pop saat ini yang berani menolak banyak tawaran main, hanya untuk satu peran yang dianggapnya dapat menaikkan karirnya sebagai seorang pemain film. Melihat film-film karya Syumanjaya sebelumnya, hampir semua mengandung pesan-pesan dan kritik-kritik tajam terhadap situasi pada saat itu. Di samping hal itu yang menyebabkan film-filmnya dibicarakan banyak orang, dilain pihak hal itu pula yang
banyak menyebabkan filmnya tidak lancar memasuki peredaran. “Kabut Sutera Ungu” tidak lebih dari sebuah kisah tentang kemanusiaan dan cinta.

Yang menyebabkan novel ini laku keras adalah, karena kisah itu mengenai kemanusiaan dan cinta itu menarik. Kelihatannya kali ini Syumanjaya tidak mau membuang banyak energi. Barang kali ada juga hubungannya dengan kondisi fisiknya yang mulai banyak gangguan itu. Atas pertanyaan Vista, Syumanjaya mengatakan , bahwa kendati film ini tidak mengandung kritik dan pesan-pesan, pemilihan cerita masih tetap atas keinginan hati kecilnya sendiri. Juga dalam hal pemasangan bintang pop Yenni Rachman itu.

Saat ini Syumanjaya tengah menyelesaikan skenarionya. Habis lebaran nanti, pembuatan film “Kabut Sutera Ungu” dengan kameramen Leo Fioole akan segera dimulai. Atas pertanyaan Vista lagi, Syuman belum dapat mengumumkan para pendukung lainnya. “Sentral figure yang memerlukan pemilihan yang tepat dalam film ini hanya yang dipegang Yenni Rachman itu. Selebihnya tidak ada kesulitan. Saya telah meminta kepada Yenni Rachman, agar dia Men-dubb sendiri suaranya dalam film ini.

Saya yakin peranannya dalam film ini akan memberinya sesuatu untuknya sebagai
seorang artis”, demikian Syumanjaya.

2 komentar:

  1. bagaimana untuk mendownload filem ini?

    BalasHapus
  2. Disini bnukan tempat untiuk mendownload film, walaupun ada anda hanya bisa menontonnya di u tube yang ada terhubung dengan link ini,....U can Wacthing. Tp kalau anda cari di google,...mungkin anda akan ketemu,...kl beruntung....atau ada yang jual, contohnya di jejeakmelodrama

    BalasHapus