Sabtu, 26 Februari 2011

Jalan bambang dan misbach


MINUS adegan seks yang menyolok serta banyolan Ratmi Bomber, film Bambang Irawan yang baru ini tidak lebih dari pengulangan tema produksi-produksinya terdahulu. Bambang Irawan yang pada setiap produksi Agora menjadi pemain utan dan sutradara merangkap produser, senantiasa menempatkan dirinya sebagai pahlawan, kali inipun, dalam film yang berjudul Hanya Satu Jalan, kesempatan macam itu tidak ia liwatkan. Tentu saja tidak ada peraturan yang melarang seorang produser, sutradara dan pemain sekaligus untuk membuat film di mana ia bebas menokohkan dirinya sebagai seorang jagoan atau bandit yang alim. Pemerasan. Kurang jelas, apakah Bambang (sebagai sutradara) dan Misbach Yusa Biran (sebagai penulis cerita dan skenario) sudah memperhitungkan faktor publik ketika merencanakan dan membuat film ini. Namun yang pasti hasil kerja Misbach dan Bambang cuma sampai pada tingkat penggambaran jagoan macam yang biasa dikhayalkan oleh anak-anak tanggung. Lebih dari itu, jalan cerita Hanya Satu Jalan ini sangat mengingatkan penonton pada film Hidup Cinta dan Air Mata, yang dulu dibuat oleh Bambang Irawan sendiri. Di sana dikisahkan Bambang sebagai bekas tahanan yang ingin melanjutkan hidupnya dengan cara damai dan tenang. Tapi bekas teman sebanditnya memaksa dia untuk melanjutkan hidup lama yang penuh dengan kekerasan, pemerasan dan darah. Melalui berbagai kekasaran itu -- baik terhadap dirinya maupun terhadap korban dan teman-temannya - Bambang akhirnya keluar dari dunia yang dibencinya. Jalan cerita seperti ini juga dengan jelas tertemukan dalam film baru yang segera beredar itu. Bedanya barangkali cuma sedikit: kali ini yang disebut sebagai penulis cerita dan skenario adalah Misbach Yusa Biran, dan Bambang keluar dari penjara tidak melalui pintu, melainkan liwat kawat berduri yang ia terobos. Adapun soal teknik pembeberan cerita, kalau tidak malah makin kabur, total jenderal sama saja. Rahasia Benny. Memang ada yang istimewa dalam filml ini: dua buah mobil sport dikorbankan dalam adegan kejar-kejaran antara para bandit dan Bambang. Tapi karena dasar dari soal kejar-kejaran itu kurang jelas - peranan hostes Leila -- maka kejar-kejaran itu dapat dinilai sehagai suatu pertunjukan tersendiri dengan biaya yang tidak murah. Kalau saja lebih diperlihatkan peranan Leila (dimainkan oleh pendatang baru Tina Djuhara) sebagai perempuan yang banyak tahu rahasia Benny (Aedy Moward), maka usaha Burhan (Marsito Sitorus) untuk memanfaatkan Bambang menggoda Leila barangkali akan lebih terasa artinya. Jangankan peranan Leila, soal pertentangan Burhan dan Benny saja tidak diperlihatkan dengan sepantasnya, sehingga peperangan yang seru antara kedua belah fihak kurang mempunyai alasan dan tekanan Burhan kepada Bambang untuk menggoda Leila menjadi kehilangan arti sama sekali. Keadaan ini menjadi lebih parah lagi oleh permainan Tina Juhara yang sungguh bagaikan orang bingung yang sama sekali tidak memperlihatkan kesan sebagai perempuan malam yang dipercayai oleh penjahat besar macam Benny. Kalau ada pemain yang harus disebut tidak dalam barisan yang menambah kegagalan film ini, barangkali cuma Masito Sitorus. Aedy Moward terlalu sedikit kebagian celuloid, sedang Sandy Suwardy entah untuk apa ia ikut lari dan tertembak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar