Sabtu, 26 Februari 2011

INSAN KESEPIAN / 1986

INSAN KESEPIAN

Erna (Renny Fox) kematian suaminya dalam kecelakaan pesawat. Ia kerap bertemu dengan Robby (Bambang Irawan), yang istrinya Rini (Renny Asmara), tak menghargai kerja suaminya dan senang disakiti dalam hubungan seks. Inilah insan-insan kesepian yang terlibat dalam banyak adegan ranjang. Erna main dengan Robby, dan Rini mau main dengan adik Robby, tapi gagal karena keburu ketahuan Robby, hingga Robby memukuli adiknya. Dan seperti film-film Bambang Irawan yang menerjemahkan dengan mentah faktor komersial sebuah film, ada juga tokoh pemuda brandal dan pelawak. Pokoknya lengkap, meski yang jadi korban adalah keutuhan cerita dan keutuhan film itu sendiri. Tugas pemuda brandal tadi adalah mengganggu Erna, yang lalu ketahuan oleh Robby, hingga terbunuh dan Robby masuk rumah sakit. Erna lalu menyadari keadaannya dan sendiri lagi.


INILAH Bambang Irawan kembaii, sebagai sutradara dan sekaligus djagoan: ia memakai nama Robby, pelukis, insan kesepian No. 1. Ia bertemu dengan insan kesepian No. 2, Erna (dimainkan Renny Fox). Dan sebagai lajaknja film-film Bambang lawan jang lain, kedua insan kesepian itu dengan tjepatnja mendjadi insan tempat tidur. Alasannja: insan kesepian No. 2 ditinggal mati suaminja, dan insan kesepian No. 1 memang suka tjewek, meskipun ia sudah punja bini, jaitu insan kesepian No. 3 (dimainkan Renny Asmara). Supaja seram dan makin madju setelah film Indonesia mempertontonkan lesbianisme, ditjeritakanlah bahwa hubungan insan kesepian No.I sebagai suami dengan insan kesepian No. 3 sebagai istri adalah hubungan sadisme. Dengan kata lain, insan kesepian No. 3 suka dipukuli hingga bilur-bilur oleh insan kesepian No. 1. Karena menderita, insan kesepian No. 3 mentjoba bermain tjinta dengan insan kesepian No. 4, jakni adik Robby. Tapi gagal: insan kesepian No. I memukul habis insan kesepian No. 4, meskipun antara insan kesepian No. 3 dengan No. 4 belum sempat terdjadi apaapa - mungkin karena previlege untuk mempertontonkan adegan tempattidur jang lebih leluasa (meskipun kemudian dipotong sensor) ada ditangan insan kesepian No. 1, sang sutradara. Didalam film jang tanpa suasana kesepian tapi jang berdjudul Insan Kesepan ini ada pula 3 anak brandal berambut gondrong menaiki HD ugalugalan. Dan seperti film-film Bambang sebelumnja (dan djuga film Indonesia lainnja), tak dilupakan nightclub, ago-go, banjolan kuno djaman komedi stambul dan tentu sadja rumah bagus & tante girang. Adapun tugas para pemuda brandal itu selain untuk mernbumbui film dengan unsur-unsur jang itu-itu djuga, pun nampaknja mereka dikontrak buat membikin penjelesaian jang seru. Bambang Irawan mendjelang achir tjeritanja berkelahi dengan mereka -- dan rupanja dia bisa karate hingga seorang dari pemuda brandal itu terbunuh di W.C. (tak didjelaskan mengapa harus disitu). Film dengan gampangnja berachir: insan kesepian No. 2 berdjalan disebuah trotoir rumah sakit jang sunji, sementara Idris Sardi mendengingkan lagu jang, jah, itu-itu djuga suasananja. Boesje. Perlu diketahui bahwa film ini merupakan tjerita Motinggo Boesje jang untuk kesekian kalinja bekerdjasama dengan Agora Film-nja Bambang Irawan. Imadjinasi Boesje kabarnja boleh djuga, hanja tidak djelas disini sampai berapa djauh Bambang Irawan mempergunakan imadjinasinja sendiri. Melihat bagaimana tokoh pelukis diperlihatkan disana, betapapun eksentriknja bisa menjebabkan orang tertawa dalam perut -- sebab jang terlihat dilajarputih adalah chajalan anak ingusan tentang djagoan serba hebat: pakai topi Djanggo, pandai dengan gampang meniduri wanita (entah berapa djumlahnja), lihai berkarate dan berdjotos, kaja, dan berbadju serba mewah. Hanja lukisannja buruk, walaupu didinding rumahnja ada djuga tergantun lukisan bagus. Pendeknja tidak ada kepaduan sama sekali -- dan begitu pula djalannja tjerita. Apa sebenarnja jang dlmaui Bambang Irawan dengan tjerita ini selain mempertontonkan sex dan kekerasan tidak djelas, mungkin karena memang tidak ada. Melihat bahwa dari segi teknis film ini, misalnja editingnja, lumajan, terbuktilah bahwa keluhan-keluhan teknis sekarang ini di Indonesia tidak berdasar. Jang dibutuhkan ialah lebih banjak akal sehat dan selera lebih baik dalam membuat film - biarpun untuk mentjari duit. Tanpa itu, prestasi tjuma pertundjukan kedodoran. Lampu kuning, atau mungkin sudab hampir merah, sudah perlu dinjalakan buat pembikin film Indonesia sekarang. Dua atau tiga lagi film seperti Insan Kesepian ini dibuat, bisa diramalkan para produser film nasional akan meraung lagi: "Film Indonesia harus djadi .uan dirumahnja sendiri". Mengapa? Karena siapa tahu film impor akan djaja kembali, sementara film-film Indonesia ditinggalkan penonton jang mual. Film jang konjol djangankan djadi tuan rumah, djadi tamu-pun sangat mengganggu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar