Kamis, 24 Februari 2011

Kesibukan idris sardi


"SAYA anjurkan orang yang mengeritik musik klasik mau turun sendiri. Jangan saya dan Orkes Simfoni Jakarta hanya dilihat waktu penampilan di teve saja. Tapi tengoklah kehidupan pemainanya. Dengan rumah bilik, lantai tanah kemarin seorang pemain biola saya meninggal dunia", demikian kata-kata Idris Sardi. Yang meninggal adalah Soeroto, anggota Orkes Simfoni Jakarta. Nasib Idris Sardi (37 tahun) memang tidak seburuk Soeroto almarhum. Jauh dari itu. Bagai dikejar-kejar waktu, Idris sering melalaikan kesehatan. Juga lupa makan. Tubuhnya tidak pernah gemuk (kini berat badannya cuma 49 kg), mukanya pucat dan pipinya tambah cekung. "Anak-anak saya masih kecil-kecil", ujarnya, "dan mau bagaimana lagi?" Ketika penyakitnya parah sekali (berak darah), Idris pernah bermukim di sebuah rumah sakit. Itu di bulan Desember 1974. "Selama disuruh istirahat, saya merasa tersiksa", katanya. "Saya tidak bisa disuruh diam. Perkembangan musik dalam sehari cepat sekali. Dan saya dikejar waktu". Dan Ita Zerlyta, isterinya - ibu dari tiga orang anak sering jengkel. Sering kalau melihat Idris bekerja dalam keadaan sakit, Ita berkata: "Kau ini cari duit buat siapa?" Januari kemarin, setelah berhasil menyelesaikan ilustrasi musik film Sesuatu Yang Indah, Idris mendekam lagi di rumah sakit. Sebuah gitar ditaruhnya dalam lemari di situ. Setelah minta izin kepada pasien lain satu ruangan, Idris memetik gitar, mencoba menciptakan komposisi. Setelah mendekam dua minggu di rumah sakit, ia kabur. Dan hingga kini belum juga mau kembali ke dokter yang mengobatinya. Idris Sardi awal bulan ini meraih piala Citra untuk ilustrasi musik dalam Sesuatu Yang Indah.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar