Kamis, 24 Februari 2011

Idris sardi: jenggot franki terbakar?


RUPANYA seseorang, paling sedikit mesti keluaran Wina -- lengkap dengan repertoir abad ke-19 -- baru boleh menangani sebuah orkes simponi. Atau kalau tidak lihatlah Idris Sardi, sebagaimana ditulis oleh Franki Raden (TEMPO, 31 Juli): penampilannya hanya suatu lawakan, sembrono dan serba kekurangan lainnya. Saya sungguh kaget membaca artikel tersebut, karena bukan demikian kesan yang saya peroleh. Penyajiannya, dengan aneka ria musik berbagai daerah dan yang digarap dengan tekun serta bersungguh-sungguh, menurut saya nyaman menyegarkan. Satu jam acara telah berlalu dengan cepat tak terasa. Peduli apakah musik itu seni atau hiburan, keberanian Idris Sardi menggunakan medium yang 'angker' untuk menghayatkan musiknya pantas diberi semangat. Tapi rupanya telah membakar jengot Franki, penulis kritik tersebut. Memang harus diakui bahwa penampilan Idris belum mulus betul. Musiknya pun belum sinkron dengan gerak, karena siaran tersebut adalah hasil rekaman. Beberapa instrumen juga masih harus mencari posisinya agar lebih harmonis sekalipun hal ini tak terlalu penting. Soalnya ini hanyalah merupakan proses bagi Idris sebagai konduktor, yang tentu saja meminta waktu lama. Sungguh mustahil untuk mencap jerih payah salah seorang pemusik terbaik kita sebagai 'lawakan' dan 'badutan'. Lalu bagaimana seharusnya seorang dirigen'? Georg Solti, pemimpin Simponi Chicago dan salah seorang dirigen terbaik di dunia, suatu saat mau main di pusat pertokoan. Secara pribadi, ia mendatangi kampus-kampus, mengajak para mahasiswa nonton konser. "Boleh datang dengan bikini'?" tanya seorang mahasiswi. "Selama engkau diam dan mendengarkan", jawab Solti. "Kami memberi publik apa yang mereka suka", demikian manager Simponi San Francisco. Tapi Antal Dorati menimpali: "Bukan urusan mereka untuk mengetahui apa yang mereka suka. Itu adalah urusanku". Dan Pierre Boulez pun, direktur musik New York Philharmonic mengambil risiko dengan memainkan musik abad ini, dan dianggap berhasil. Sederetan konduktor-konduktor muda muncul mengajak penonton menikmati musik masa kini . Concerto for Amplified Violin and Orchestra, tampil dengan biola yang dipasangi amplifier. Bunyinya meraung-raung, dimainkan oleh Paul Zukofsky, penggesek biola yang cemerlang. Tapi dengan dirigen Michael Tilson Thomas yang tak kurang bakatnya, tampaknya mereka masih harus menunggu sampai bisa diterima oleh publik yang ternyata kemudian bersungut-sungut usai pergelaran. Standar repertoir mereka: oke Siapa yang tidak mendambakan Mahler di tangan Solti Berliotz oleh Seiji Ozaha atau Brahms dibawakan oleh William Steinherg? Pemusik bule memainkan repertoir bule, toh masih menunggu sampai publik tak lagi bersungut-sungut. Padahal pemainnya pun yahud. Akan tetapi di sini, mengapa pula kita masih membanding-bandingkan, kemudian meributkan dan mempertanyakan tentang seorang pemusik pribumi dengan repertoir pribumi, yang lagi memimpin sebuah orkes simponi sebagai sesuatu yang tak pantas? Sungguh mencengangkan! Dengan jujur saya mesti bilang bahwa pergelaran Idris Sardi menyenangkan dan menarik -- tanpa ruwet memikirkan karyanya akan termasuk dalam kategori apa. Para snob kita pasti mempunyai banyak waktu untuk memikirkannya. Sementara itu, sebagai ilustrasi boleh dikutip pernyataan Charles Wourinen, komposer muda yang paling berhasil: "Jurnalis dan kritikus musik. sebenarnya tak tahu apa-apa". Dan untuk Idris, barangkali galaknya saja yang perlu ditambah, seperti kata Herbert Von Karayan "tentu saja saya tiran -- good conductor mana yang tidak....". B. SONDAKH Perumahan Wartawan, Cipinang Muara Blok I, Jakarta Timur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar