Kamis, 24 Februari 2011

Ia "menodai" musik simfoni ?

28 Agustus 1976

PENONTON bertepuk riuh. Di tengah bisik dan gumam para pengagumnya, tampaknya ia belum menyadari, malam itu adalah tangga pertama karirnya. Itulah penampilannya yang pertama depan publik, 1949, dalam sebuah konser yang pertama kali diselenggarakan oleh Akademi Musik Indonesia (AMI) yang belum setahun berdiri di Yogyakarta. Ketika ia tampil kembali di Gedung Negara, untuk kesekian kali penonton antri menyalami violis 10 tahun bercelana pendek itu yang dikenal dengan si Idris Kecil. "Suatu kali saya tampil lagi di Gedung Negara. Tiba-tiba muncul ayah di tengah orang-orang yang menyalami saya. Tentu saja saya kaget",kata Idris Sardi, kini 37 tahun. Ia lahir di Jakarta, 6 luni 1939. "Rupanya setiap kali saya ikut konser, ayah diam-diam hadir. Bahkan tak seorang pun di antara saudara-saudara ayah yang tahu. Ayah menginap di hotel" tambahnya. Dua tahun sebelumnya, ia sudah belajar menggesek biola pada Nicolai Vorfolomeyeff, musikus Rusia yang sejak Revolusi Oktober 1917 lari ke Jakarta dan menjadi salah seorang gembong Radio Orkes Jakarta. Ketika itu RRI masih disebut Neerland Indiesche Radio Omroep (NIROM). Ketika Nicolai membuka AMI di Yogya, 1949, Idris pun diterima kuliah di sana meski baru kelas 3 SD. Anak sulung dari 8 bersaudara ini memang lahir dari keluarga seniman. Kakek buyut dari garis ayahnya, dulu konon pemain musik di Kraton Yogyakarta. Ayahnya sendiri, M. Sardi, yang meninggal 23 tahun lalu, pada zamannya dulu juga dikenal sebagai violis kawakan. Kecuali menjadi anggota Orkes Studio Jakarta, almarhum adalah orang Indonesia pertama yang membuat ilustrasi musik untuk film-film sekitar tahun 30-an. Antara lain Rencong Aceh yang dibintangi oleh Tan Tjeng Bok dan Hadidjah -- isteri almarhum alias ibu kandung Idris Hadidjah, merupakan satu di antara 25 seniman tua yang belum lama ini mendapat penghargaan dari DKI. Mondar-mandir Sementara Hadidjah, sejak suaminya masih hidup sudah mengundurkan diri dari dunia film, ibu dari orang tua tersebut yang kini sudah 80 tahun justru masih kerap muncul di layar putih. Itulah Mak Bibah. Meski di tengah keluarga seperti itu, pada mulanya karir Idris tidak dengan sendirinya gampang naik. Padahal di rumahnya jalan Ketapang Utara, dulu juga ada piano dan biola. Tapi manakala ia mengek minta belajar salah satu instrumen itu, sikap sang ayah dingin saja. Baru setelah Idris suka bawel dan ngambek, ayahnya jadi lunak. Umur 6 tahun ia mulai belajar menggesek biola. Disiplinnya keras. Dan Idris sendiri tekun. Selama setahun melulu teori: menulis dan membaca not balok. Belakangan Idris menyadari bahwa ayahnya ingin menanamkan pengertian: ia tak boleh kepalang tanggung. Namun sebelum sempat menyaksikan perkembangan puteranya lebih lanjut, tahun 1953 Sardi meninggal. Seminggu setelah musibah itu, Idris pun menghilang dari Yogya dan muncul di RRI Jakarta -- menggantikan kedudukan ayahnya sebagai pemain biola pertama. Meski ketika itu baru 14 tahun, ia juga merangkap sebagai pimpinan konser. Maka dapat difaham, kalau almarhum pernah mendapat honor Rp 1.250, Idris menerima Rp 150 lebih besar dari pendapatan ayahnya. Bukan hanya mengoper tugas dibidang musik, Idris juga mengambil-alih kewajiban ayahnya sebagai kepala keluarga. Menjadi 'ayah' sebelum cukup dewasa, tentu saja cukup berat baginya. Seusai latihan, tak jarang ia melupakan kegelisahannya dengan menghabiskan waktu -- mondar-mandir naik oplet Jatinegara- Jakarta Kota, sampai larut malam. "Dan baru pulang kalau ibu dan ke-7 adik-adik saya sudah tidur" katanya. Barangkali juga karena beban inilah, semangat Idris terus membara. Sementara untuk pengetahuan umum ia mengambil les privat (seperti halnya ketika masih di Yogya), dalam hal musik ia berguru pula kepada Hendrik Tordasi, guru biola pada Yayasan Musik pimpinan Frans Szabo di Pegangsaan. Tahun 1955 datang kesempatan baik. Pemerintah bersedia mengirimnya belajar ke Eropa, meskipun tanpa jaminan mengurus keluarga yang ditinggalkan. Untunglah ada satu kebijaksanaan: perkara keluarga, diurus oleh satu keluarga yang kebetulan menyanggupinya. Dengan hati lega, Idris pun berangkat. Di luar negeri, ia sengaja mempelajari hal-hal yang praktis. Maksudnya agar lebih banyak bisa berhubungan dengan guru. Dan lebih cepat rampung, sebab ternyata ingatan Idris pada ibu dan adik-adiknya di tanah air sering mengganggu. Satu setengah tahun di luar negeri, ia sempat mengunjungi berbagai negara di Eropa serta beberapa tempat di Timur Tengah. Sampai di tanah air, keluarganya sangat prihatin. Rumah peninggalan ayahnya di Ketapang Utara sudah terjual. Tahun 1964 dan 1974 ketika bersama rombongan misi kesenian ia melawat ke AS, keluarganya sudah lumayan. Ketika itu antara lain ia main di hotel Hilton, New York. Sekarang, selain adik bungsunya yang masih gadis, semua adik-adiknya sudah berumah-tangga. Dan Idris sendiri pun tahun 1968 menikah dengan Ita Zerlyta, kemenakan Bing Slamet. Ibu Ita adalah kkak nyonya Bing: Ita sendiri suka musik, favoritnya antara lain lagu-lagu klasik ringan yang manis-manis seperti punya Manthovani dan Paul Mauriat. Kisahnya dimulai sejak Ita masih SD, 1962. Ketika itu Idris sering main ke rumah almarhum Bing. Bersama almarhum dan 5 pemusik lain (Benny Mustafa, Ireng, BJ Supardi, Kibot dan Mus Mualim), dibentuklah Band Eka Sapta.Inilah satu-satunya band di mana Idris bergabung, selain di RRI (1953-1961) dan sejak Juni kemarin pada Orkes Simfoni Jakarta. Idris yang belum 25 tahun ketika itu, karirnya memang sudah menanjak. Popularitasnya sebagai violis nyaris tiada duanya. Dan ketika baru beberapa bulan Ita kuliah di FSUI jurusan Arkeologi, tahun 1968, mereka pun menikah. Kini anaknya 3 orang. Santy, yang sulung, gadis 7 tahun yang suaranya sudah mulai pula populer. Anak kelas I SD Budi Waluyo Kebayoran Baru ini, kaset pertamanya berjudul Ke Sekolah. Adiknya, Lukman, 5 tahun, kelas nol besar Taman Kanak-kanak. Yang terkecil 2 tahun, karena lahir 21 April, namanya pun Ajeng Tria -- mengenang nama Raden Ajeng Kartini. Meski kaset Santy yang kedua segera pula beredar, namun Idris tak berharap betul menggali 'dana' dari suara anaknya. "Nyanyi sekedar hobi boleh. Lebih dari itu jangan", ujar ayahnya. Katanya, Idris sendiri tak pernah mengajari Santy nyanyi. Ibunya pun tidak. Menurut pengakuan Santy, gurunya adalah Titik Puspa. Ihwal Santy main film pun, kata Idris juga bukan lantaran dorongan orang tuanya, meski dalam film Senyum Di Pagi Bulan Desember Santy berhasil meraih gelar pemain cilik terbaik dalam FFI 1975 di Medan. Bersama orang tuanya, Santy memang kerap nonton. Di rumah, ia sering menirukan tingkahlaku pemain yang ia lihat. Itulah sebabnya, ketika Wim Umboh sering mengurus ilustrasi musik ke rumah Idris, langsung tertarik pada gadis cilik ini. Piala Khusus Juga lantaran film itulah Idris mendapat Piala Citra. Sebelumnya, berturut-turut sejak tradisi FFI, 1971, Idris selalu unggul dari tahun ke tahun: Pengantin Remaja (1971), Perkawinan (1973), Cinta Pertama ( 1974). Idris juga pernah mendapat hadiah nasional sebelum tradisi FFI berkat film Petir Sepanjang Malam (1968). Dan dalam Festival Film Asia 2 kali ia menang: Bernafas Dalam Lumpur (1970) dan Di Mana Kau Ibu (1974). Tapi tak berarti Idris puas. Menurutnya, illustrasi musik yang pantas menang seharusnya bukan Senyum melainkan Dikejar Dosa. Mengapa? "Dikejar Dosa, tanpa musik tak ada apa-apanya. Sedang Senyum, tanpa musik pun masih bisa ditonton. Ceritanya bagus", katanya. Ilustrasi musiknya, kebanyakan untuk film jenis drama. "Saya juga ingin berkesempatan membuat corak yang lain", ujarnya, meski yang sejenis komedi pun sudah ada. "Tapi cuma ada beberapa biji, misalnya Bing Slamet Koboi Cengeng" Selain FFI 1975, hasil FFI 1974 juga tak dimengerti oleh Idris. Ia menjagoi austrasi musik film Tokoh. Tahu-tahu yang keluar Cinta Pertama. FFI bulan Mei lalu di Bandung pun lebih tak dimengertinya lagi. Ia mendapat Piala Khusus dan bukannya tak berterima kasih. "Tapi apa arti piala itu, saya tidak mengerti", katanya. "Kalau saya tak perlu menang, ya tak perlu dikasih piala. Jangan repot-repot mengeluarkan Piala Khusus. Toh argumentasinya tidak ada". Tapi apa pun piala itu, bahkan Piala Citra sekali pun, baginya "bukan merupakan ukuran buat keberhasilan". Memang tak apa. Sebagai penata musik untuk film ia tetap laris. Dihitung-hitung, sejak Jakarta By Pass (1961), ia sudah mengisi musik lebih dari 100 film. Meski Jakarta By Pass adalah film pertamanya, tak berarti baru dengan film itu ia berkenalan dengan dunianya yang satu ini. Sejak awal tahun 50-an ia sudah ambil bagian dalam tata musik film bersama Orkes Studio Jakarta pimpinan Saiful Bachri. Sekarang, untuk sebuah film ia mendapat Rp 2 juta, jumlah yang lebih besar ketimbang yang biasa diterima oleh pemusik lain. Barangkali itulah sebabnya ia boleh dibilang makmur. Sebab selain dari film, ia juga sering menerima dari klab malam, panitia pertunjukan atau perusahaan kaset. Juga masih bersedia dipajang sebagai penghias kalender.... Menurut pengakuan Idris, honor ilustrasi musik yang diterimanya tak begitu besar, meski ia menyebut jumlah Rp 2 juta. "Sekian itu tidak semuanya buat saya", katanya. Tapi juga untuk beli perlengkapan, sewa studio, transpor dan honor pemain". Sewa studio paling tidak seminggu, Rp 100 ribu per hari. Empat hari rekaman dan 4 hari editing. Selanjutnya membeli pita rekaman 4 dan 8 track Rp 800 ribu, belum lagi transpor dan honor pemain-pemain musik lainnya. Ada kesan, Idris tidak menyesal. Meskipun "karena perkembangan film kita sekarang ini sudah lumayan", katanya. "Tapi dibanding dengan honor pemusik di Jepang, mereka jauh lebih tinggi. Dan India lebih tinggi lagi" Itu tak berarti ia tak butuh duit. Dalam sejarah hidupnya, ia lebih sering 'ngamen' sana-sini. Meski ia jarang tampil depan publik, kalau ada yang minta tak akan ditampiknya. "Tapi pertunjukan itu tak boleh kepalang tanggung", katanya. Harus betul-betul pertunjukan musik. Soal honor, saya tak bisa mengajukan tarif. Pokoknya tarik saja ukuran standar dengan penyanyi yang memang sudah punya ukuran tertentu, seperti misalnya Titik Puspa", katanya. Awal Juli kemarin, untuk pertama kalinya ia muncul di Teater Terbuka TIM bersama kelompok jazz-rock Jopie Item. Ia menyandang biola listrik warna biru metalik. Maka mendesinglah Es Lilin dari dawai-dawai biolanya. Penonton tepuk. Juga ketika ia membawakan Jali-Jali, Feeling dan Black is Black. Teakhir tampil dengan konser lagu-lagu perjuangan di TVRI 18 Agustus kemarin dan sebelumnya bulan Juni lalu. Di jalan Ganefo II Tebet Jakarta, rumah Idris mentereng. Perabotannya serba mahal. Ada satu set peralatan sistem suara klas satu di kamar kerjanya di sayap kanan rumah. Kamar kerjanya memang istimewa: lantai berlapis permadani hijau tahi kuda. Meja & kursi kerja mewah di pojok kanan dalam, berhadapan dengan 2 kursi empuk. Di sebelahnya ada sofa. Di dinding terpampang foto-foto dokumentasi, antara lain foto ibunya dan foto Idris menggesek biola ketika masih 9 tahun. Ada pula sebuah biola mini, 30 sentimeter. Sejumlah piala dan piagam penghargaan dan sederet buku musik yang tebal-tebal. Itu bukan satu-satunya milik keluarga Idris. Selain rumah di jalan Ganefo yang dijadikannya tempat tinggal tetap keluarga, masih di Jakarta ada pula 2 rumahnya yang lain. Satu di Pancoran untuk kantor pribadi dan satu di Duren Tiga yang ditinggali ibunya. Mobilnya Honda Civic cat putih nomor B 1100 LA. Di Tebet pun masih ada pula satu mobil Mercedes Benz 350 SEL, yang sejak beberapa lama nongkrong tertutup terpal. Ia enggan menggunakannya. Kabarnya hadiah Robby Cahyadi tatkala Idris mengisi ilustrasi musik untuk film Tiada Jalan Lain yang a.l. dicukongi penyelundup tersebut. Menarik, bahwa isteri maupun anak-anaknya, jarang mengendarai mobil pribadi yang mana pun. Sang isteri, kalau bepergian naik taksi. Santy yang sekolahnya jauh, sehari-hari diantar pembantu naik bus kota. "Terus terang hidup saya tidak susah. Tapi toh badan saya tetap saja begini. Kerempeng'?, katanya. Rambut yang mengombak tak jarang kelihatan kusut. Wajahnya kadang-kadang tampak pucat. Berat badannya yang tak sampai setahun lalu sempat 53, sejak Juni merosot menjadi 49 kilogram. Bukan itu saja. Sejenis penyakit sering pula mengganggunya. Kenapa? Kejiwaan? Idris sejak 1968 sering melakukan apa yang disebut 'latihan kejiwaan' di Wisma Subud (Susila Budhi Dharma) di Cilandak. "Saya ini suka kesel", kata isterinya pekan lalu. "Misalnya seminggu lalu. Dalam seminggu ia cuma tidur 3 jam. Rupanya ia sibuk menyiapkan 12 aransemen untuk Ansamble Jakarta untuk acara 17 Agustusan. Saya khawatir ia sakit". Dan Idris memang selalu sibuk. Juga di rumah. Justru kalau lagi bekerja di rumah, ia menjadi 'angker'. Tak seorang boleh mengganggu. Yang bisa mendekat cuma segelas besar air teh kental dan sesisir pisang sereh. Kalau Idris lagi latihan atau membuat rekaman di salah satu studio, ini lebih gawat lagi. Sampai beberapa hari terkadang tak pulang. Maka tinggallah sang isteri yang menjenguk membawa pakaian ganti. Idris memang sering kerja tanpa kenal waktu. "Saya pernah lihat Idris di Jepang, 2 hari 2 malam tidak tidur. Bahkan tidak keluar sama sekali dari kamar studio", kata Gani, produsir Surya Indonesia Medan Film. Menurut isterinya, tak sekali sebulan Idris dan keluarganya rekreasi. "Kalau pun ada waktu, paling-paling nonton di Kartika Chandra atau berenang di Ancol", ujar Ita Zerlyta. "Soalnya saya tak mau memanjakan keluarga", kata Idris menimpali. Oleh drs. Soemadi, Dirjen Radio, Televis, dan Film, sejak Juni lalu diangkat sebagai konduktor tamu Orkes Simfoni Jakarta bersama Prabowo, Suka Hardjana dan Frans Haryadi -- di samping pimpinan tetapnya Adidharma. Idris punya acara setiap Senin akhir bulan memimpin pergelaran lewat TVRI studio Jakarta. "Yang saya hadapi sekarang cukup berat", katanya. "Kemampuan tehnis para pemain payah sekali sementara perkembangan musik sudah begitu maju". Loyo Meski baru 2 bulan memimpin orkes tersebut, hampir semua pemainnya sudah ia kenal sejak tahun 50-an. Menurut dia, dulu mereka itu kuat-kuat, tapi sekarang ternyata loyo. Tak lain menurut Idris lantaran "pengaruh lingkungan yang sangat komp]eks". Maksudnya: sementara umur mereka sudah semakin tua --berkisar antara 50-an-honor sebagai Tenaga Kesenian Honorair RRI memang sedikit sekali. Berapa persisnya, Idris kurang jelas. "Karena sosial-ekonominya lemah, mereka lebih berbuat seperti tukang yang senantiasa terikat waktu ketimbang sebagai seniman yang jika perlu harus lebih mempertimbangkan segala-galanya buat karir", kata Idris. Lebih celaka lagi, "gangguan tehnis yang sering muncul di studio. Kadang-kadang studio dipakai acara lain, atau lampu mati sendiri". Idris lantas meremajakan tenaga pemain, di samping mencoba menjajagi kemungkinan peningkatan honorarium. Lalu berkompromi dalam hal pemilihan repertoar yang akan dimainkan. Sikap Idris sudah jelas: ia memandang orkes simfoni tak melulu buat jenis musik klasik -- sebagaimana, katanya, pendirian banyak orang. Meski begitu, kalau ia sudah siap dengan satu aransemen belum tentu lantas bisa berhasil minta anak buahnya memainkannya dengan baik. Untuk itu ia berkompromi lagi. Kalau perlu pada waktu latihan itu juga ia mempermak aransemen, disesuaikan dengan kesanggupan pemain-pemainnya. Itu tak berarti, menurut pengakuannya, ia mengorbankan nilai untuk sesuatu yang asal jadi. Juga tidak, lebih-lebih, untuk uang. "Memang benar bahwa dengan musik saya bisa makan. Tapi juga dengan musik saya menyampaikan perasaan-perasaan saya". Barangkali itulah sebabnya akhir-akhir ini ia agak sedih karena orkes simfoni tidak laku di negeri ini. "Minat anak-anak muda terhadap musik sebenarnya menggembirakan. Improvisasi mereka pun kuat", ujar Idris. "Toh mereka lebih senang dengan grup kecil yang cuma 3-4 orang. Kemauan belajar membaca not balok dan minat pada simfoni sangat kurang". Tapi memang ia agak dongkol juga sedikit pada "musikus-musikus" yang mengaku pernah bersekolah musik". Mereka ini, agaknya kelewat suka ngomel terhadap apa yang selama ini diperbuat oleh Idris. Terhadap mereka, Idris cuma bilang: "Saya tahu musik yang baik. Saya tahu pula bahwa apa yang saya kerjakan selama ini belumlah bernilai apa-apa". Ke alamat mereka pula, Idris ada menyarankan untuk lebih banyak riset dan mencipta musik Indonesia. "Musik Cina atau India, bisa dikenali dengan mudah. Tapi apa sih musik Indonesia? Yang ada cuma musik daerah: Jawa, Sunda, Minang, Bali dan sebagainya. Yahg Indonesia belum ada", katanya. "Inilah sebenarnya yang harus menjadi perhatian akademikus-akademikus tadi". Akan halnya ia sendiri, kepenginnya mengangkat musik Bali hingga mengesankan sebagai musik Indonesia. Atau barangkali karena musik Bali sudah lebih dikenal orang dan karenanya ada kemungkinan komersiil? "Bukan begitu. Tapi musik Bali itu lebih dinamis. Dan kelak saya bisa bilang: inilah musik saya", katanya. Sejak kecil ia terdidik mencintai musik klasik. Juga sampai sekarang. Mengaku bahwa pendidikan musik klasiknya merupakan dasar yang kuat, bulan Oktober mendatang ia bermaksud tampil dengan konser musik klasik. Dengan maksud menarik minat anak-anak muda itulah, ia lantas mencoba menampilkan lagu-lagu pop atau daerah dalam setiap pergelaran simfoninya. Maksudnya agar anak-anak muda terpancing, sementara generasi tua (yang menganggap orkes simfoni melulu untuk jenis musik klasik) tidak merasa 'tertelanjangi'. Ia memang berusaha berdiri di tengah. Alih-alih ada reaksi atau ada sambutan gembira dari golongan tua. Ternyata ada juga yang menuduhnya seolah 'menodai' musik simfoni. Kata Idris "Orang-orang yang memberikan reaksi negatif itu sebenarnya tak punya pertimbangan musikal". Dan Idris sendiri -- yang gesekannya mirip gaya Helmut Zacharias, violis pop mancanegara yang terkenal itu -- dasarnya memang agak 'keras kepala....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar