Sabtu, 26 Februari 2011

HANYA SATU JALAN / 1972

HANYA SATU JALAN

Dua pengusaha saling berlawanan, maka salah satunya menyewa Joko (Bambang Irawan), bekas penjahat yang akan bertobat. Ia diminta Burhan (Masito Sitorus) untuk menyelidiki pengusaha lawan, Benny (Aedy Moward) yang sebenarnya partner usaha juga tapi licik, lewat Leila (Tina Juhara), pramuria langganan Benny. Ternyata Joko dan Leila jatuh cinta sungguhan. Maka skenario berjalan lain. Terjadi keributan. Dan Leila tertembak peluru nyasar yang dilepaskan Joko. Sang pengusaha yang menugaskan Joko mati dalam kecelakaan mobil, sedang lawannya lari ke luar negeri. Alasan permusuhan Burhan-Benny tak begitu jelas, begitu juga peran Leila yang banyak tahu rahasia Benny.

ADA iklan dari Departemen Keuangan -- tentang pelelangan harta milik 11 perusahaan. PT Agora Film Corp, antara lain, yang telah berdiri sejak 1963, dinyatakan gulung tikar. "Kenapa harus malu," kata Ade Irawan isteri Bambang Irawan. "Dalam dagang, untung atau rugi sudah lumrah. Dalam hal ini kita rugi. Itu risiko dagang. Uang itu toh bukan untuk foya-foya atau judi." Sekitar 1972, Bambang Irawan meminjam uang dari Bank Bumi Daya sebesar 24 juta rupiah. Bambang -- yang dalam Agora Film jadi direktur di samping sutradara --menggarap film Hanya Satu Jalan. Film selesai dibuat menurut jadwal, "tapi peredarannya tertunda-tunda," kata Bambang. "Film masuk bioskop sudah lain dengan selera penonton." Artinya, tidak mendapat pasaran. Agora sebenarnya telah menggarap banyak film. Antara lain Aku Hanya Bayangan, Lembah Hijau, Di Ambang Fajar, Fajar Menyingsing, Janda Kembang, Sopir Taksi dan beberapa lainnya. Menurut pengakuan Bambang, sebelum tahun 1970, film-film garapannya cukup mendapat pasaran. Tapi sesudah 1970, ketika film luar negeri masuk secara bebas, film-film Bambang mulai terpukul. "Barangkali saya kualat dengan Hidup, Cinta dan Air Mata," kata Bambang pula. Itu adalah film seks Bambang yang pertama dan yang memuat adegan cukup berani. "Tigapuluh hari setelah beredar, kredit SK '71 sudah bisa lunas. Apa ini tidak hebat? Modal 15 juta bisa kembali 60 juta," kata Bambang lagi. Setelah itu, nyali Bambang untuk bikin film semakin berkobar. Banyak berproduksi. "Duit mengalir tak henti-hentinya, tapi yang keluar juga kayak air. Pokoknya, ada saja cara uang itu keluar." Lantas ia sakit untuk beberapa bulan. Film-filmnya banyak yang tidak kembali pokok, dan berakhir dengan penyitaan rumahnya. "Tapi saya masih bersyukur," ujar Bambang lagi, "keluarga dan anak saya tidak terganggu. Malah ada anak saya yang jadi juara kelas. Saya masih bisa cari uang lagi kok." Umur Bambang Irawan kini 46 tahun. Kurus, kumis masih gemuk dan rambutnya sudah mulai memutih. Dia mulai main film di tahun 1950. Tahun 1955, dia dikontrak dengan Perfini hingga tahun 1960. Kemudian dia main film apa saja, pokoknya asal ada yang mau memakainya. Ketika Agora Film banyak membuat film, sering Ade -- isterinya -- dan beberapa orang dari anaknya, main juga dalam film tersebut. Nyaris jadi film keluarga saja. Kini, masih juga dia main film, tapi dalam peran kecil-kecil saja. "Nama saya nggak tercantum karena nama saya nggak komersiil. Nggak kayak dulu lagi. Itu harus saya sadari," katanya. Kini, Bambang Irawan dan keluarganya mondok di rumah saudaranya yang juga tinggal di Grogol. "Maunya saya, hasil lelang itu ya pas saja deh dengan hutang saya yang sudah berlipat dua," kata Bambang lagi. "Rumah itu saya buat mulai dari fondasinya. Sedikit demi sedikit saya bangun," tambahnya lagi, "tapi kemudian saya sadar, itu memang bukan hak saya." Lantas mengapa dulu dari bintang film kok kepengin jadi sutradara dan bahkan produser? "Saya belajar tentang film di Perfini," ujarnya "dan saya selalu berangan-angan: kapan ya, saya bisa bikin film kayak Usmar Ismail?" Angan-angan Bambang terwujud, tapi berantakan sepotong jalan. Kata Bambang lagi: "Tapi kalau ada yang tawarin modal, saya masih okey kok."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar