Sabtu, 05 Februari 2011

Hampir Semua Film Humor Yang Digarap Suaminya Adalah Idea Dari NATHALIA ABBAS ACUP

Sumber : Terbit Minggu, 20 Januari 1980
Hampir Semua Film Humor Yang Digarap Suaminya Adalah Idea Dari
NATHALIA ABBAS ACUP


Orangnya Humoris Dan Senang Berkelakar Dengan Teman2
Masih ingat film seri Inem Pelayan Sexy? Masih ingat Koboi Cengeng? atau Heboh? Tiga Buronan? Kalau masih ingat, tentu akan ingat nama Nyak Abbas Acub yang kokon merupakan sutradara termahal saat sekarang dengan honornya yang Rp 100 juta itu. Lantas apa hubungannya Nyak Abbas dengan wanita ini?

Memang kehidupan pribadi Abbas Acup agak misterius. Karena tak pernah dia ungkapkan seperti halnya dia mengungkapkan wanita lain dalam film-film arahannya. Masyarakat tidak banyak tahu bahwa sutradara Aceh Madura ini mempunyai keluarga dengan lima anak yang sudah dewasa. Bahkan sudah bercucu seorang. Masyarakat juga tidak mengetahui bahwa Nyak Abbas yang banyak mengorbitkan artis-artis cantik itu juga mempunyai isteri yang tidak kalah menariknya. Bahkan isterinya itu adalah bekas primadona dalam film Heboh yang merupakan karya pertama Nyak Abbas sebagai sutradara penuh setelah digembleng dan mendampingi Usmar Ismail alm.

Di layar putih tercantum nama Mia Marta. Tapi sekarang nama Mia telah kembali ke aslinya setelah main film satu kali itu saja langsung dijadikan isteri oleh Nyak Abbas Acup. Dialah Nathalia Abbas Acup yang kita tampilkan dalam kesempatan ini.

“Hampir semua film humor mas Acup datangnya dari ide saya, ujar Nathalia dengan polosnya. Bisa dipercaya juga, karena Nathalia, sendiri orangnya humorins. Benarkah itu? Ternyata tidak. Sebagai isteri sutradara terkenal lia merasa lebih sering diabaikan suami. “Saya mengerti profesi mas Acup. Karena itu saya tak pernah mengunjungi tempat pengadaan shooting. Biarlah dia konsentrasi pada tugasnya. Namun dalam usia yang tidak terlalu muda lagi, Lia merasakan terus menerus pemberontakan dalam bathinya. “Mas Acup hanya mau saya dirumah saja. Padahal anak-anak sudah besar. Sedangkan saya sendiri orangnya tidak bisa berdiam diri.

Lia punya hobby masak memasak. Dia pernah membuka restoran makanan internasional di Bandung, kota mana dia bermukim hampir sebagian hayatnya. Pelajaran masak memasak pernah didalaminya selama bermukim di Amerika Serikat, ketika menemani suaminya tugas belajar oleh Usmar Ismail atas sponsor Rockefeller Foundation. Setelah 2,5 tahun disana kembali di tanah air Nyak Abbas istirahat dari dunia film. Dan selama itulah suaminya menuruti saran Lia untuk kuliah di Unpad sehingga meraih sarjana muda hukum.

Sementara itu Lia menjadi pemborong makanan untuk resepsi. “Setiap kali mas Acup tidak ada kegiatan saya yang turun tangan, kata Lia. Tapi masa gemilang rumah tangga mereka kini agaknya memudar. Terutama setelah film Inem Nyak Abbas di Jakarta, sedangkan Lia pulang pergi Bandung Jakarta. Dan Itupun jarang bertemu dengan suaminya karena mereka tidak tinggal serumah. Sudah 25 tahun Lia membina rumah tangga dengan Acup tapi 10 tahun terakhir ini keadaan grafik menunjukkan kurve yang menurun. “Itulah risikonya menjadi isteri orang film. Tapi yah sudahlah buat apa dipikir-pikir. Saya bisa sakit-sakitan dan kurus kering.

Dan Kenyataannya postur tubuh Lia tetap gempal dan cukup menarik mata kaum pria. Terutama matanya, senyumnya dan bagian dadanya. Lia juga mengakui kekhawatirannya sebagai isteri bila suaminya sering dikerumuni wanita cantik. “Namun demikian kita tidak perlu terlalu takut, apa bila harus kehilangan orang yang kita cintai, sekalipun kalau memang Yang Maha Kuasa menghendakinya. Kalau tokh ada artis yang “lengket” dengan suami saya, saya nilai itu dalam kaitan si artis demi karirnya biar selalu kebagian peranan dalam film arahan suami saya. Habis bagaimana kalau itu sudah menjadi sebagian dari perjuangan profesi seorang artis. Saya tahu betapa khawatirnya seorang pemain film biladia tak terpakai lagi. Dan salah satu jalan agar dia tetap terpakai yah nempel terus ke sutradaranya. Dan saya mengerti itu. Asalkan saja mas Acup tidak lupa pada apa yang dia bina selama ini. Maksud saya, rumah tangganya.

Pernah dalam sebuah mass media Nathalia ditanyakan tentang pendapatan suaminya yang Rp 100 juta itu untuk film Inem, Nathalia menjawab, “Mungkin benar, tapi kami tidak merasakan hasilnya! Ketika suaminya membacanya, Lia ditegur, “Kenapa kau mengatakan demikian. Kau tidak mensyukuri apa yang ada. Apa jawab Lia? Dengan gusarnya dia mengatakan bahwa dia berbicara apa adanya. Bagaimana bisa mengiakan sedangkan dia tak pernah melihat apalagi merasakannya.

Lia sering mengeluh bahwa suaminya sering “memblokir” rencananya. Ketika saya mengadakan pementasan di Bandung mas Acup mengkritiknya. Dan saya tidak diizinkan lagi, ucapnya dengan kesal. “Mas Acup bilang, jangan coba-coba muncul kalau tidak mau dikritik. Lagi pula orang yang muncul mudah dicerca masyarakat. Tapi lia tidak mau tahu ucapan suaminya itu. “Saya tampil bukan membawa namanya. Saya memakai nama sendiri. Dan itu berarti risiko saya sendiri. Heran, banyak suami yang khawatir kalau isterinya dikenal orang, padahal dia sendiri boleh dikenal dimana-mana, itu tidak fair namanya. Laki-laki mau menangnya sendiri.

Dalam detik-detik sekarang Nathalia yang berasal dari Yogya ini sedang menekuni kewiraswastaan. Dia lebih mengutamakan pada kedamaian bathin, tapi berusaha sesibuk-sibuknya. Dia ingin lepas dari belenggu kemelut hidupnya tapi selalu dilipiti kebimbangan. Dan Nathalia nampaknya berada ditikungan. Dia ragu menentukan arahnya. Di depan ada yang dicita- citakannya, dibelakang ada masa lampau yang diciptakannya bersama Nyak Abbas Acup. Memang menyutradarai dan berakting dalam film tidak seperti dalam kenyataan hidup. (RTN-14)


Komedi Indonesia / Indonesian Comedy
Comedies by Nya’ Abbas Akup

Taman Ismail Marzuki, 25 – 31 Januari 2007

Nyak Abbas Akup (1932-1991), seorang sutradara yang konsisten membuat film komedi bermuatan sindiran sosial sejak tahun 1950-an. Humor dalam karyanya seringkali muncul dari karakter laki-laki dan perempuan yang punya kepribadian terbelah, di rumah bisa lemah, sementara di luar galak. Dalam filmnya, cinta dan seks juga hampir selalu jadi sumber konflik yang konyol. Penyutradaraannya mengukuhkan banyak aktor sebagai aktor komedi yang sangat penting dalam film Indonesia. Ia memperoleh Piala Citra melalui film Ambisi (1973), Cintaku di Rumah Susun (1987) dan Boneka dari Indiana (1990).

Nyak Abbas Akup (1932-1991), consistently directed political comedy films since the 1950s. The humor in his works often come out of confused gender identities, between the personal and the public realms. In his films, love and sex are always the source of ridiculous conflicts. His direction marked the birth of many important Indonesian comedy actors. He was awarded with Citra Awards from the Indonesian Film Festival for Ambisi (1973), Cintaku di Rumah Susun (1987), Boneka dari Indiana (1990).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar