Rabu, 16 Februari 2011

GUS DUR menjadi Ketua Dewan Juri FFI 1985

SEJAK Abdurrahman Wahid memangku Jabatan ketua umum, PB NU, namanya meroket terus. Berbagai organisasi dan kegiatan mendaulat pria berusia 45 tahun itu menjadi ketua. Inilah di antaranya jabatan yang dipangkunya: ketua Dewan Kesenian Jakarta, ketua Majelis Ulama Indonesia, ketua Dewan Juri Festival Film Indonesia (FFI) 1985, dan terakhir diangkat sebagai wakil ketua Amirul Hujjaj Indonesia - yang mengharuskan ia ikut ke Tanah Suci di musim haji ini. Tapi tak semua jabatan Abdurrahman itu bisa diterima para ulama sepuh. Terutama kedudukan ketua Dewan Juri FFI. Berbagai surat protes berdatangan ke kantor PB NU, terutama setelah Gus Dur, begitu para kiai senior memanggilnya, muncul di televisi berdampingan dengan orang-orang film mengumumkan nominasi pemenang Piala Citra, pekan lalu. "Yah, beliau 'kan belum tahu masalahnya," kata Gus Dur menanggapi para ulama yang resah itu. "Kalau sudah saya jelaskan, biasanya tak ada masalah." la tak menyebutkan nama-nama ulama yang mengirim surat protes kepadanya. Kenapa Gus Dur bersedia menjadi juri film? "Film bukan urusan orang film saja. Masyarakat juga harus memperhatikan film," katanya. Ketika ditanya sejak kapan memperhatikan film, ia cuma ketawa. "Di Mesir dulu saya sempat menonton film-film Prancis yang bagus, yang tak bakalan kita tonton di sini," cerita Abdurrahman. Lalu, menonton film Indonesia? "Kalau saya mau saja. Dan, ternyata film kita cukup bagus," katanya memuji. Ia di antaranya menyebut film karya Sjuman Djaya, Teguh Karya, Slamet Rahardjo. Tentu saja, film itu lumayan, karena yang dinilai Abdurrahman adalah film yang sudah diseleksi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar