Jumat, 11 Februari 2011

GEORGE KAMARULLAH

Sinematografi George Kamarullah
Kineforum Taman Ismail Marzuki, 1 – 7 Februari 2007

George Kamarullah bekerja sebagai sinematografer sejak awal 1970-an. Selain debutnya sebagai seorang sinematografer, George Kamarullah merupakan salah satu aktor film Indonesia yang layak disebut bentukan dari sineas ternama Teguh Karya. Namanya semakin dikenal oleh Indonesia bahkan dunia ketika filmnya Tjoet Nja’ Dhien yang mengambil gambar panorama hutan di di Aceh yang eksotis di Pulau Sumatera ini mendapat sambutan yang sangat baik yang kemudian mendapatkan Piala Citra 1988 untuk sinematografi terbaik, setelah sebelumnya mendapatkan piala citra dalam kategori yang sama untuk film Ibunda pada tahun 1986 dan Doea Tanda Mata pada tahun 1985. Dalam program kali ini akan ada kesempatan untuk tanya jawab dengan George Kamarullah tentang kerja sinematografinya.

George Kamarullah tak bakal lupa dengan amuk Slamet Rahardjo suatu siang pada 1973. “Cara main inhaler (alat isap untuk melegakan hidung yang mampet) saya saja masih lebih bagus ketimbang kamu,” kata George menirukan amarah Memet--begitu panggilan Slamet Rahardjo.

Waktu itu, Slamet murka lantaran permainan George yang buruk dalam sebuah latihan sandiwara yang disutradarainya. Pria kelahiran Ternate, 57 tahun silam, ini langsung mutung dan bersumpah: tidak akan lagi berkecimpung di belantara seni peran. Dia pun mundur sebagai aktor.

Dari situlah garis nasibnya berbelok, tapi tidak jauh-jauh amat. George menjadi sinematografer. Enam film hasil bidikan kameranya, antara lain Selamat Tinggal Jeanette (1987) dan Taksi (1991). Sebetulnya, dia tidak punya latar belakang pendidikan juru kamera. George muda pernah kuliah di jurusan konstruksi dan administrasi, tapi tak selesai. Dia pernah jadi asisten art and still photography Cinta Pertama (1973). Ini film pertamanya.

“Baru pada 1976 saya mulai menekuni pengambilan dan penyuntingan gambar,” ujar George kepada Tempo. Selama lima tahun, dia menjadi asisten sinematografer dan editor Tantra Suryadi. Ia bertugas memanggul kamera atau mengumpulkan gulungan film yang tidak terpakai lagi.

Pada 1980, George dipercaya menjadi editor dalam film Usia 18. Baru pertama kali menyunting, dia langsung menyabet Piala Citra. Adapun film yang dia gawangi pengambilan gambarnya adalah Seputih Hatinya, Semerah Hatinya (1982), yang dibintangi Christine Hakim. Tapi pada 1986, Karyawan Film dan Televisi melarang pengagum Nestor Almendros, sinematografer asal Kuba, itu menekuni dua profesi sekaligus. George pun memilih juru kamera. Dia punya alasan: bayarannya lebih gede. Alasan lain, “Sinematografer itu menciptakan sesuatu.”

Nama George makin melambung sewaktu menjadi penata kamera pada film Tjoet Njak Dhien (1988). Dia menggondol Piala Citra untuk ketiga kalinya setelah Doea Tanda Mata (1985) dan Ibunda (1986). “Saya juga dapat Golden Crown Award di Seoul lewat Doea Tanda Mata,” ujarnya.

Sebagai seorang juru kamera, George punya prinsip keras: tidak mau terlibat dalam produksi bila skenarionya jelek dan bintang filmnya tidak disiplin. Artis film juga mesti tunduk dan tetap duduk di lokasi syuting sewaktu George sedang mengatur pencahayaan.

George juga dikenal sebagai juru kamera yang edan di zamannya. Dia orang pertama yang memakai teknik pencahayaan bounching dan kertas kalkir misalnya. “Waktu produser tahu, saya langsung dimarahi,” kata penata kamera yang banyak berkiblat pada film-film Prancis itu sambil terkekeh.

Walther van den Ende, sinematografer asal Belgia, pernah memuji karya-karya George. “Dengan peralatan yang sederhana, dia bisa membikin gambar-gambar yang bagus,” ujarnya. Toh, George, yang sekarang bekerja di Metro TV, mengaku belum merasa puas dengan film-film hasil bidikannya.
(SS KURNIAWAN)

George Kamarullah bekerja sebagai sinematografer sejak awal 1970-an. Selain debutnya sebagai seorang sinematografer, George Kamarullah merupakan salah satu aktor film Indonesia yang layak disebut bentukan dari sineas ternama Teguh Karya. Namanya semakin dikenal oleh Indonesia bahkan dunia ketika filmnya Tjoet Nja' Dhien yang mengambil gambar panorama hutan di di Aceh yang eksotis di Pulau Sumatera ini mendapat sambutan yang sangat baik yang kemudian mendapatkan Piala Citra 1988 untuk sinematografi terbaik, setelah sebelumnya mendapatkan piala citra dalam kategoriyang sama untuk film Ibunda pada tahun 1986 dan Doea Tanda Mata pada tahun 1985.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar