Kamis, 10 Februari 2011

Film yang Membuatnya Hidup…

SUMBER : KOMPAS, 25 Januari 1996

“FILMLAH satu-satunya yang membuat saya merasa hidup”.

Kata-kata ini diucapkan Wim Umboh bulan November 1981ketika ia tengah mempersiapkan film Putri Seorang Jendral.Padahal ia masih tertatih-tatih jalannya, karena sakit keras yangmembuatnya terkapar selama dua tahun di tengah pembuatanfilm Pengemis dan Tukang Becak (1978). Harap dicatat bahwaPutri Seorang Jendral adalah film ketiga sejak ia merasa “sehat”di tahun 1980. Saat itu ia baru seminggu mengalami perceraiandengan istri keduanya, almarhum Paula Rumokoy.Setelah itu, ia masih membuat 19 film lagi sebagai sutradara, dua filmsebagai editor, dan satu film tampil sebagai pemain. Jadi, meski dalam keadaantak pernah sehat betul, selama 15 tahun terakhir ia sudah menyutradarai 22 film.Padahal sepanjang kariernya, sejak tahun 1955 (Kasih Ibu dan Di Balik Dinding),Wim Umboh telah menyutradarai 50 film. Artinya, dalam keadaan sehat (28 film) maupun sakit (22 film), ia sama produksinya. Sepanjang kariernya dalam film itu ia telah menerima lima piala Citrauntuk editing, tiga untuk film terbaik, dan satu untuk penyutradaraan. Catatanlain: hampir tidak ada filmnya yang “jatuh” di pasaran. Bahkan Pengantin Remaja(1971) dan Perkawinan (1972) merupakan film terlaris di zamannya dan dua filmyang mengorbitkan pasangan Sophan Sophian dan Widyawati sebagai bintanglaris hingga 20 tahun kemudian. Wim Umboh juga orang yang selalu ingin sebagai orang pertama. Iaadalah orang pertama yang membuat film berwarna pertama yang seluruhnyadikerjakan oleh tenaga Indonesia, yaitu sembilan (1967). Ia juga pertamamenggunakan film berukuran 70 mm dengan suara stereofonik enam jalur, yaituMama (1972). Hingga saat jatuh sakit di tahun 1978, Wim Umboh memang selalumengebu-gebu. Selalu ingin nomor satu. Selalu ingin yang terbaik. Ini yangmembuatnya selalu kelihatan resah. Dalam peta perfilman tahun-tahun 70-andan 80-an itu, ada nama-namam seperti Syumanjaya, Teguh Karya,Djajakusumah, Asrul Sani, yang punya aura intelektual. Juga seperti Arifin C.Noor, Chaerul Umam di kemudiannya. Wim Umboh bukannya berasal dari lingkungannya seperti “saingannya” itu. Ia sudah menjadi yatim piatu sebelum berusia 10 tahun. Ia mulai karier filmnya di perusahaan Golden Arrow milik Chok Ching Shien sebagai tukang sapu dan pengantar surat panggilan shooting pada para pemain. Ini berarti Wim Umboh memulai karier filmnya dalam budaya“dagang”, budaya “anak wayang” yang merupakan kelanjutan dari budaya teater keliling Dardanella, atau film Terang Bulan. Sebuah budaya yang masih menjadiarus utama budaya film hingga sekarang, bahkan juga masuk ke televisi. Cirinyaantara lain adalah kebetulan yang sukar masuk akal, meratap-ratap, banyolan fisik.Agaknya karena menyadari kekurangan ini, maka Wim kemudian selalubekerja sama dengan orang lain dalam menuliskan gagasannya ke dalamskenario. Misbach Yusa Biran, Syumanjaya dan Arifin C. Noer, adalah nama-nama yang juga ikut memberi warna pada film-filmnya.

Wim di lokasi shoting mengarahkan pemain.

Nama-nama itu yangbersama Wim Umboh berhasil mengembangkan budaya tadi menjadi lebih baik.Tahun 70-an itu boleh dikatakan adalah puncak dari kariernya, karena setelah iajatuh sakit, maka Wim boleh dikatakan tinggal mengulang saja akan apa yangpernah dibuatnya. Sejak itu, kondisinya boleh dikatakan kondisi bertahan saja.Kerja sama dengan syumanjaya tidak hanya menghasilkan PengantinRemaja yang pop, manis dan laris, tapi juga Mama yang lebih bersifateksperimental. Film terakhir ini dibuat tanpa skenario yang rapi terlebih dahulu.Skenario ditulis oleh Syumanjaya bersamaan dengan rekaman gambar di tempat shooting. Struktur penceritaannya juga agak aneh, karena sebenarnya ada duacerita yang berlangsung tanpa hampirbersinggungan satu dengan yang lain.Dengan Arifin C.
Noor, Wim menghasilkan percobaan seperti Senyum di Pagi Bulan Desember dan Sesuatu Yang Indah, yang punya warna “dongeng” dan sedikit surelistis, karena tempat kejadiannya dan fotografinya seolah takmenyarankan tempat yang jelas. Percobaan-percobaannya memang kemudian tak berlanjut. Tapi adaorang lain yang meneruskannya. Slamet Rahardjo dengan Rembulan danMatahari, maupun Garin Nugroho dengan Surat untuk Bidadari dan BulanTertusuk Ilalang adalah penerus percobaan-percobaan itu. Yang disayangkandari percobaan-percobaan itu adalah bahwa film-film itu belum sempat bergaungdan memberi warna pada arus utama perfilman nasional. MESKI demikian Wim Umboh bukan hanya meninggalkan kisah-kisahcobanya. Yang jauh lebih penting adalah Wim Umboh yang boleh dikata seorangotodidak telah mendirikan sebuah “mashab” tersendiri dalam perfilman nasional,justru dari film-film “cinta” yang melodramatik. Dalam jenis ini, ia berhasil“menyempurnakan” jenis melodrama dari zaman-zamansebelumnya. Dalamjenis inilah sebetulnya keberhasilan Wim Umboh. Kisah percobaannya, bolehdikatakan adalah usahanya untuk lebih memberi bobot “intelektual” pada film-filmnya, dan karenanya juga lebih terasa sebagai sebuah percobaan dan kurangterasa “jujur”. Pergulatan Wim Umboh sebenarnya lebih pergulatan atas bentukbukan atas isi. Pengaruh film-film melodramanya itu sampai sekarang bisa dilihat dalamratusan sinetron yang bertebaran di siaran-siaran televisi, maka ia bisa disebutsebagai sebuah “mashab”. Cirinya antara lain adalah hampir tidak adanyamaster shot, atau sebuah rekaman adegan yang menyeluruh. Filmnya, 80persen terdiri dari rangkaian gambar medium shot dan close up. Rangkaian tadi dimanipulasikan sedemikian rupa dalam editing, hingga penonton mendapatkan kesan seperti yang dimauinya. Puncak dari permainan editingnya mungkin dari film Sesuatu yang Indah, dimana hampir separuh film dibuat hampir tanpa dialog. Gaya ini dipadukan dengan fotografi yang “lebih indah dari aslinya”,hingga penonton mendapat kesenangan terendiri dalam menonton.















Gaya demikian ini kemungkinan besar disebabkan karena Wim berangkat sebagai editor pertama-tama, hingga ia mempunyai ingatan fotografis yangsangat kuat akan rekaman gambar yang pernah dibuatnya dan yang akan dibuatnya. Daya ingat ini yang membuat para asistennya selalu terkagum-kagum. Ia seolah sudah memiliki film dalam otaknya sebelum film dibuat, hingga rekaman gambar hanyalah sebuah pelaksanaan saja. Daya ingat demikian ini yang tak pernah surut dari dirinya, meski fisiknya tidak pernah pulih karenasakitnya di tahun 1978.Gaya ini tidak hanya mempengaruhi banyak sutradara lain (Sophan Sophian yang kemudian terkenal sebagai sutradara boleh dikata adalah salah satu pengikutnya), tapi juga dikembangkan lebih lanjut oleh tokoh semacamTeguh Karya dan Arifin C. Noor. Mungkin gaya inilah yang disumbangkan oleh Wim Umboh dalam perfilman nasional. Mungkin ada baiknya jika ada studi yang cukup serius terhadap gaya Wim Umboh ini, hingga menjadi lebih jelas tempatnya dalam perfilman nasional. Untuk perkembangan perfilman nasional sendiri, studi demikian ini juga diperlukan, karena jangan-jangan itulah salah satuciri film Indonesia.
FILM telah membuat Wim Umboh merasa hidup. Ia merasa hidup kalau membuat film, karena diluar itu baginya hidup tak ada artinya. Ini lanjutan dara kata-kata yang diucapkannya di atas. Ternyata film juga yang kemungkinan besar membuatnya meninggal. Sudah empat tahun ia tidak membuat film lagi, karena tidak ada lagi produser yang memintanya jadi sutradara, di sampingkarena begitu surutnya jumlah produksi sekarang ini. Tahun 1995 kemungkinan tidak lebih dari 15 film dibuat, tak sampai separuh dari tahun sebelumnya.Tahun 1991 adalah tahun kejayaan terakhir film Indonesia, karena sejak itu merosot dengan sangat tajam, dan tinggal film-film seks dan kekerasan yang dibuat sangat gampang, murahan dan menginjak-nginjakestetika sinema yang antara lain diperjuangkan dan dikembangkan oleh Wim Umboh. Seperti juga kebanyakan orang film, Wim Umboh lalu beralih ke televisi.Pahlawan tak Dikenal dan Apsari adalah dua serial televisi yang dibuatnya. Ia juga ikut-ikutan mendirikan rumah produksi meski belum sempat berproduksi ,sementara ia tengah mempersiapkan seri lain dan merencanakan pembuatan dokumentasi tentang riwayat hidupnya. Meski sama-sama berbentuk audiovisual, film televisi tampaknya hanya sekedar agar ia bisa bertahan hidup, karena seperti diketahui sakitnya juga membuat perusahaan dan keuangannya berantakan. Hal ini juga tak pernah bisa diraihnya kembali. Ia hanya bisa menghuni sebuah rumah sederhana di Perumnas Depok Utara. Di samping itu,umum diketahui bahwa film televisi tidak pernah bisa menandingi kehebatan film. Belum pernah ada sebuah film televisi yang menjadi “abadi” dan dikenang orang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar