Rabu, 16 Februari 2011

Film terbaik 1979: bukan sesuatu...

TEGUH Karya berkata: "Kalau orang dulu bisa bikin Borobudur, saya tidak percaya sekarang kita tidak bisa bikin sesuatu yang besar." Sutradara ini necis, bermuka runcing, berkacamata tipis. Ia terkenal sebagai orang yang menyukai benda-benda apik yang kecil. Tapi kali ini rupanya ia pingin berbicara tentang kebesaran. Dan "besar" memang satu ajektif yang bisa dipasang untuk filmnya yang pekan lalu menang di Festival Film VII, November 12. Setidaknya dalam ambisi dan dalam budget. Film ini digarap selama hampir setengah tahun. Biaya yang dilahapnya Rp 240 juta. Penelitian yang mendahuluinya mencapai pelbagai museum di tujuh kota -- dua di antaranya di Negeri Belanda. Lokasinya dipilih di sebuah desa di Yogyakarta, desa Sawahan, dan hampir seluruh penduduk terlibat. Desa itu sendiri tiba-tiba tertolong dari kemacetan ekonomi, meskipun cuma sementara. Tak heran bila di mulut jalan yang membelahnya terpasang gagah gapura bambu bertuliskan "Lokasi November 1828" berwarna merah atas dasar putih. Sementara itu, publisitas melancar dengan gesitnya. Jauh sebelum film ini mencapai setengah, pelbagai koran sudah memuat aba-aba bahwa satu episode Perang Diponegoro di Jawa Tengah 1825-1830 akan difilmkan. Gambar bintang Slamet Rahardjo memakai uniform perwira Belanda -- yang cukup meyakinkan -- pun dipasang. Di sampingnya Yenni Rahman (kali ini tumben tak merangsang) yang tampil bagaikan gendhuk Jawa tulen. Tak lama kemudian diberitakan juga bahwa Menteri P&K Daoed Joesoef dan Menteri Dalam Negeri Malaysia Ghazali Syafei (keduanya tokoh yang suka kesenian serius) berkunjung ke tempat lokasi. Ditambah dengan reputasi Teguh Karya di belakangnya, semua itu menyebabkan orang yakin: November 1828 tak akan mengulangi kegagalan film Pahlawan Gua Selarong dulu, ketika Ratno Timur didapuk sebagai Pangeran Diponegoro (seolah-olah pahlawan harus berwajah ganteng). Dan syukurlah, November 1828 memang film yang nilainya jauh lebih di atas. Tapi meskipun hampir sama-sama panjang, film ini tentunya tak usah dibandingkan dengan Perang dan Damai karya sutradara Rusia Sergei Bordanchuk yang ingin membuat monumen tiga jam dari novel Tolstoi yang sudah monumental itu. Kalau sejauh itu harapan kita, bisa sangat kecewa nanti. FILM Teguh ini berhasil memperlihatkan pada kita modal banyak serta kerja penelitian yang lama dan mendalam. Detail film ini tergarap dengan baik dan begitu teliti. Sutradara film Indonesia yang lain hampir tak pernah menampilkan apa yang dicapai Teguh: adat-istiadat zaman yang lampau di Jawa Tengah, kostum serta properti, semuanya merupakan hidup kembalinya sebuah dokumentasi yang meyakinkan akuratnya. Memang ada "bahaya"nya keasyikan dengan benda-benda ini. Teguh juga nyaris tak lepas dari "bahaya" itu: pada beberapa bagian ia terasa menonjol-nonjolkan properti yang dihasilkannya, misalnya alat timba kuno dan payung-payung. Sebagai akibatnya alur besarnya jadi terhambat. Kisah jadi terlalu berliku. Teguh Karya mengatakan bahwa filmnya punya multi-plot atau mengandung banyak alur cerita. Tapi adakah karena itu ketegangan pokok film ini tak mengalir dengan lancar? Film ini terasa lebih panjang dari film-film umumnya -- tapi bukan karena kebesaran masalah yang hendak digarapnya. Di sini terasa bahwa Teguh, walau ia mampu di bidang lain, belum cukup kuat untuk menulis skenario. Ia di situ perlu orang lain. SEBAB faktor yang memikat dari karya Teguh kali ini sama sekali bukan ceritanya. Tidak sebagaimana lakon Monserrat karya Emannuel Robles yang termashur itu (yang pernah disadur grup Teater Populer pimpinan Teguh dengan latar Perang Diponegoro juga, dan kata orang merupakan jantung November 1828), film ini tak didukung oleh kejutan atau permasalahan yang memukau. Juga dialognya tak menampilkan kedalaman. Ia terutama menarik karena berwarna "rakyat Jawa". Itu tak berarti film ini hatus ditinggalkan setengah main. Anda akan kehilangan misalnya adegan yang terbagus dalam film ini ketika terjadi penembakan di dalam kamar tahanan terhadap tokoh Kromoludiro (Maruli Sitompul). Tembakan terdengar, kemudian muncul gambar-gambar di luar rumah yang semuanya terpaku tanpa bunyi. Anak dioper turun dari kereta. Semua muka memandang ke dalam rumah dengan penuh anda tanya. Senyap itu menggigit. Cara ini menjadi konsep pula dalam dramatisasi adegan selanjutnya. Tapi momentnya tak sebesar saat kemudian Kromoludiro, sehingga terasa tak sampai. Teguh melakukan ini barangkali untuk mengatasi kemiskinan variasi adegan, yang hanya berputar dari ruangan ke ruangan -- paling banter ke halaman dan sekejap ke luar desa, lalu balik ke halaman. Meskipun ini cerita kepahlawanan dari sebuah perang besar, wilayh yang dijangkaunya tidak berhektar-hektar. Di sana kita bergerak dengan jarak pendek dan dekat -- dari CU ke CU, atau MCU ke MCU. Kurang sekali long shot. Film jadinya terasa sumpek. Barangkali memang sulit untuk mengambil gambar jarak jauh di sebuah lokasi yang sesak oleh penonton di sebuah desa Jawa yang padat, yang sudah bukan lagi cermin abad ke-19. Atau set yang disiapkan memang terbatas di markas Kapten De Borst itu saja. Entahlah. Dengan biaya yang sudah begitu siap besar tentunya soal teknis itu bisa diatasi. Tapi mungkin sekali struktur skenarionya sudah begitu rupa terbatas, tak didukung oleh semangat yang lazim untuk membikin film epis. Karena itu salah bila dikatakan November 1828 dibikin dengan ambisi spektakuler Cecil B. de Mille. Film ini belum jauh dari kepersegi-panjangan sebuah pentas. TEGUH tampak menyadari hal itu. Ia berusaha memecahkannya dalam bloking dan akting. Dan sebagaimana dalam filmnya yang lain, semua pemain berhasil digarapnya. Yenni Rahman sebagai Laras, puteri Kromoludiro, meskipun tak menunjukkan permainan gemilang, toh jadi terasa mampu sebagai pemain baik di tangan Teguh -- jadi bukan hanya sebagai penghuni ranjang. Maruli Sitompul, yang dapat penghargaan sebagai pemeran utama terbaik 11 pekan lalu untuk perannya dalam film ini, kelihatan bakatnya yang besar. Tapi sudah waktunya ia dapat porsi karakter yang lebih besar lagi. Slamet Rahardjo sebagai Kapten De Borst rasanya sudah bermain dengan sebaik mungkin. Ia aktor di atas rata-rata dalam dunia film kita, dan di sini nampak usahanya yang teliti untuk menjiwai. Namun tokoh yang diwakili Slamet dari awal sudah terasa sebagai tokoh yang kalah. Hingga ia yang seharusnya bisa jadi sumber konflik film ini jadi datar saja. Dalam lakon Montserrat peran seperti dia sungguh dominan. Ia tokoh penjajah yang kejam, yang bisa membunuh orang tak bersalah untuk memperoleh pengakuan tentang rahasia musuh. Lawannya adalah rekannya yang berkhianat kepada korps untuk membela rakyat yang tertindas. Konflik dalam Montserrat sungguh kuat. Sayang dalam November 1828 konflik antara Kapten De Borst yang ambisius dengan Letnan Van Aken (El Manik) yang berpihak kepada rakyat tak menjadi sesuatu yang sentral. Mungkin sebab itu peran Slamet kurang "tajam". Tapi seperti kata Teguh, filmnya tak cuma mau menyoroti perkara dua perwira Belanda-Indo itu. Ia ingin bicara soal kepahlawanan lain, Kromoludiro. Melalui Maruli, Teguh juga ingin menampilkan suasana puitis lalam kepahlawanan tokoh ini. Pada suatu kali ia tampak terikat di tiang di dalam rumah, setelah tertangkap pasukan kumpeni Belanda. Anaknya, Laras, bersimpuh di depannya. Laras telah ditekan Kapten De Borst supaya Kromoludiro membocorkan tempat Sentot, panglima pasukan Diponegoro yang mashur itu. Adegan dimulai dengan tokoh Kromoludiro menembang, kemudian ia berkhotbah kepada anaknya tentang bagaimana menjadi manusia yang baik. Suasana puitis ini kita hargai sebagai keberanian bereksperimen. Sayang, entah kenapa untuk adegan ini kita terasa kurang persiapan untuk menerimanya -- mungkin karena tak cukup dipersiapkan oleh jalan cerita dan suasana sebelumnya. Hingga kehendak puitis itu tidak luluh ke dalam cerita. Juga tak membantu menajamkan konflik. Meskipun adegan menembang itu beberapa kali diulang pada beberapa tokoh, hanya pada tokoh Bambang Sumpeno (Sardono W. Kusumo) sebagai penari -- tembang itu bisa terasa "masuk". Tapi di luar tembang-tembang itu film ini kuat dalam hal musik. Ilustrasi musik yang dikerjakan Franky Raden (Ini karya pertama mahasiswa Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta itu) merupakan contoh penggarapan musik yang berani. Pada adegan-adegan tertentu, gambar dibiarkannya bicara sendiri. Sedang pada bagian ketegangan yang memuncak, Franky memasukkan bunyi-bunyi sederhana dengan ritme yang monoton tapi jadi sangat kuat. Ilustrasinya mampu menarik gamhar-gambar yang kadang terlalu "apik" -- jadi lebih berdarah. DARAH" itu agaknya perlu. Teguh memang tidak membuat sebuah film perang, meskipun ada adegan perang di akhir cerita. Ia berbicara tentang kemanusiaan. Namun kemanusiaan itu, yang segera jadi masalah begitu film mulai, tidak terasa sedang gawat oleh suasana perang pemberontakan yang melanda desa-desa Jawa selama tiga tahun. Kita tak dipersiapkan untuk menyaksikan episode yang brutal dalam sejarah. Bahkan perang sengit yang secara visual ditunjukkannya di akhir film, lebih terasa molek, tidak mengiris. Tapi toh di akhir film ini ada bagian kecil yang menarik sekali. Waktu itu Kopral Dirun (Mang Udel) dan kawannya -- bekas-bekas serdadu Belanda yang kalah -- tidak diapa-apakan rakyat. Di samping kaki Kaptennya yang tewas, mereka bercakap-cakap. Seorang dari mereka berkata: "Kita ini memang tak berharga. Hidup boleh, matipun boleh sama-sama tidak dihiraukan." Selesai menonton film ini, kita tak akan bilang bahwa November 1828 bukanlah film yang dibuat boleh, tidak pun boleh. Ia layak dihiraukan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar