Selasa, 01 Februari 2011

Film Perang Yang Gampang Mengampangkan

05 April 1975

"film perang gampang"


ALAM Surawidjaja melangkah ke dunia film di tahun 1952. Tidaksendiri, melainkan "bersama teman-teman dari grup sandiwara di Yogya". Berada Yogya selepas menyelesaikan sekolah teknik, Alam yang kelahiran Cirebon ini, ternyata lebih tertarik pada dunia panggung Di samping menemukan jodoh -- Deliana Alam Surawidjaja yang terkenal dengan sandiwara kanak-kanak Kak Yana -- panggung juga mendorong Alam untuk mempelajari seluk-beluk film. Katanya: "Waktu itu ternan-teman berpendapat bahwa film adalah kelanjutan sandiwara" Pengetahuannya itulah kemudian yang merupakan bekal baginya untuk hidup di Jakarta setelah usaha film pertama Grup Sandiwara Yogya (sutradara Ali Yugo) itu kandas. Bekerja sebagai editor di Angkatan Laut merupakan kesempatan mem praktekkan teori yang dipelajari Alam selama di Yogya. Pada tahun 1955, ia tampil dengan film pertama-tama. Manusia suci, 15 tahun kemudian ia menghasilkan sebuah film berwarna yang patut dipuji: Nyi Ronggeng. Alam yang terkenal sebagai pembuat film perang itu, ini masih ingin membuat film "asal ceritanya saya suka", katanya di ruang DPH Dewan Kesenian Jakarta pekan silam. Berikut ini bagian-hadiah penting percakapan sutradara itu dengan kepala desk film TEMPO, Salim Said. Prinsip Film Untuk film ini saya pakai sistim dokumenter, karena itu tidak ada close up dari para pejuang. Massal. Cara ini juga saya pakai dulu ketika membuat film Kenangan Revolusi di Surabaya. Saya mendapat serangan hebat ketika itu. "Alam Surawidjaja melupakan prinsip-prinsip film. Bahwa close up adalah yang terpenting", kata merek. Tapi sekarang ini saya ulaNgi lagi lantarAn saya merasa bahwa dalam peristiwa bandung itu maksimal saya mau menghindarkan tokoh-tokoh perorangan. Ini revolusi, massal. Hanya dari corak baju dan lencana-lencana saja kita akhirnya dapat membeda-bedakan manusia yang terlibat di dalamnya. Cara biasa memang juga bisa dipakai. Itu jika filmnya fiktif. Tapi Bandung Lautau Api ini mendapat beban untuk mengisahkan kembali hal yang sebenarnya di tempat yang asli. Tidak bisa lain, ini memang akhirnya menjadi semi dokumenter. Beban Filosofis Membuat film perang, saya kira gampang. Hitam putih saja pejuang dan penjajah. Di sini tidak ada beban filosofis macam film--film drama. Hanya tentu dalam penyuguhannya diusahakan agar menarik. Karena itulah maka film-film saya kebanyakan film perang. Ya, film perang bisa mendapat beban filosofis. Film Asrul Sani Pagar Kawat Berduri misalnya. Film itu tidak cuma film perang, tapi di situ ada persoalan tentang Belanda yang tidak seluruhnya jahat, tapi ada juga yang berperi kemanusiaan. Ketika film itu beredar, ada orang yang menuduh Asrul Sani sebagai lebih banyak menonjolkan tokoh Belandanya dari pada para pejuangnya. Film Perawan Di Sektor Selatan sebenarnya adalah cerita biasa yang bermain dengan aman revolusi sebagai latar belakangnya. Ini terang beda dengan Bandung Lautan Api yang mula-mula adalah kejadian revolusi untuk kemudian dikarangkan cerita untuk menyampaikannya. Saya mainkan Perawan di Sektor Selatan dengan latar belakang demikian, karena saya dari dulu senang dengan suasana pedesaan dan rakyat kecilnya. Tak satu pun film saya yang bermain di kota (kecuali sebuah pesanan bank mengenai pemalsuan cek). Sampai sekarang saya masih suka pedesaan, sungai-sungai, rumah rakyat, jalan desa serta jembatan-jembatannya. Untuk film ini, skenario ditulis oleh Misbach Jusa Biran. Biasanya, untuk film-film saya, skenario saya tulis sendiri. Skenario karya Misbach ini tergolong jenis moderen, yang digambarkan adalah suasananya. Jadi memerlukan penafsiran sutradara. Mungkin karena itulah barangkali maka produser pelaksana (PT Sri Agung Utama) berteriak-teriak ketika saya meminta 1000 figuran untuk adegan masa naik bukit ketika mengungsi dari Bandung. Ini adegan tidak bisa ditipu, lantaran high angle dari atas bukit. Yang lain bisa saja diakali . Balok, Rumah Asli dan AKABRI Termasuk yang bisa diakali adalah adegan kebakaran kota Bandung. Kita biarkan rumah asli, tapi di antara rumah itu kita bangun sesuatu yang bisa dibakar. Bangun asli diusahakan ditutup macam-macam lapisan -- agar tidak terjilat api. Rumah keluara Nani itu utuh dan berada di antara rumah-rumah lainnya. Di sampingnya kita pasang balok-balok dan dinding, kemudian antara rumah asli dengan bangunan yang akan dibakar, kita lapisi seng dan goni basah. Mengenai pemain, bisa saya ceritakan bahwa jauh sebelum film dibuat, saya telah menyarankan kepada Panglima Siliwangi untuk mengadakan edaran kepada semua pasukannya agar mengirimkan anak buah mereka yang mirip orang barat. Mungkin karena soal biaya, saran saya ini tidak terlaksana. Maka pemain untuk memerankan pasukan sekutu, ya, seadanya sajalah. Pakaiannya pun tidak memuaskan. Peralatan juga menyulitkan saya. Barikade-barikade karung pasir dan kawat berduri misalnya, makin lama kan makin berkurang, baik karena rusak terlindas tank ataupun akibat ledakan. Sama sekali tidak pernah ditambah. Hal macam ini juga terjadi dengan peluru untuk tank-tank itu. Peluru hampa untuk tank itu banyak di Magelang untuk latihan Akabri. Produser cuma suruh bikin di Bandung. Ukurannya ternyata keliru, ya, tidak meledak. Sedih rasanya melihat tank memutar kanon tanpa mengeluarkan ledakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar