Selasa, 01 Februari 2011

film The Message Dilarang beredar Di Indonesia


11 September 1976

"tidak" untuk itu film The Message Dilarang beredar Di Indonesia

HARAP jangan kepingin nonton film yang dibuat sutradara Mustaffa Aqqad tentang riwayat Islam di masa Nabi masih hidup. Sebab jika anda di Indonesia, keinginan seperti itu bakal mustahil tercapai. Pekan lalu Antara dikutip memberitakan, bahwa Presiden Soeharto menerima surat dari Ketua Dewa Mesjid Sedunia di Mekka. Isinya: penjelasan mengenai film tentang Nabi Muhammad s.a.w. yang ditentang dunia Islam. Surat dari Syeikh Abdul Aziz bin Bazzaz itu minta pula kepada Presiden Soeharto supaya "film yang dibintangi oleh Anthony Quinn itu dilarang masuk dan beredar di Indonesia". Bisa diduga pemerintah Indonesia akan setuju. Paling sedikit, supaya jangan ada ramai-ramai protes. Menteri Agama pun kabarnya pagi-pagi sudah bilang "tidak" kepada film itu. Pastilah yang dimaksud adalah film Mustaffa Aqqad yang kita bicarakan tempo hari TEMPO, 19 Juni 1976). Meskipun berita di atas tak begitu jelas sebenarnya: film karya Aqqad yang kini sudah beredar itu -- pertunjukan perdananya berlangsung di London bulan lalu -- berjudul Al Risalah atau The Message, bukan Mwhammad Pesuruh Allah. Dan bintangnya, sebagai paman Nabi, Hamzah, bukan cuma Anthony Quinn, versi Arab dari film itu Hamzah dimainkan oleh Abdullah Ghaits aktor teater dari Mesir. Maka kurang jelas apakah versi Arabnya -- yang rencananya untuk diedarkan di dunia Islam -- juga ikut diduga tak jelas dalam hal apa film itu dianggap "sama sekali menyimpang dari hakikat yang sebenarnya" dan "menodai kesucian Nabi Muhammad s.a.w. sendiri dan sahabat-sahabatnya". Namun tokoh Islam Moh. Natsir, yang duduk dalam Majelis Pimpinan Dewan Masjid Sedunia, minggu lalu mengatakan kepada Syahrir Wahab dari TEMPO: "Pada prinsipnya ummat Islam tidak setuju dengan adanya pembuatan film-film tentang para nabi. Apalagi Nabi Muhammad. Sebab pembuatan film-film seperti itu mau tak mau akan menimbulkan ekses, salah penafsiran yang merugikan dan tidak wajar". Bandit-Bandit Natsir ikut hadir dalam sidang Dewan Masjid di Mekkah April lalu, dimana diambil keputusan penolakan terhadap film itu. Tentang film ini. ia menilai: "Film ini sama sekali tidak menggambarkan jiwa dan semangat perjuangan Islam". Sebagai contoh menurut Natsir adalah dalam adegan perang Badar, dimana ummat Islam memenangkan perang melawan orang Quraisy penyembah/berhala. Kata Natsir: "Menurut kesan orang yang sudah melihat film itu, bukan roman muka orang mukmin yang kelihatan (dalam adegan itu), tapi seperti bandit-bandit -- hingga tak tergambar bahwa perang Badar itu peperangan suci". Hal ini, kata Natsir, disebabkan "yang mem- bikin film itu tidak menghayati inti perjuangan Islam". Adapun yang membuat film ini sang sutradara, adalah kelahiran Aleppo, Suriah. Orang Arab ini dididik di American College di kota itu. Lalu pergi ke Los Angeles dan mencari karir dalam dunia sinematik. Ia sejak itu jadi warganegara AS, dan tinggal di Brentwood, California. Tahun 1953, ia masuk Universitas. California dan lulus dalam jurusan seni teater. Ia dapat gelar Master-nya di jurusan seni perfilman dari Universitas Southern California. Ia kemudian masuk di bagian berita dari stasiun TV CBS-KNXT, dan mengerjakan program As Others See Us. Ia lalu bekerja dengan sutradara yang terkenal karena film-filmnya yang keras, Sam Peckinpan (Straw Dogs). Atas saran Peckinpah, Akkad jadi produser dan menyutradarai sendiri film semi dokumenter dan cerita. Yang paling sukses adalah seri Caesar's War -- diedarkan ke seluruh AS pada lebih dad 100 stasiun TV. Tiga Sarjana Dari Al Azhar Katanya, Aqqad tergerak membuat film tentang Islam ini sewaktu ia melakukan pengambilan gambar di Filipina Selatan: di situ ia melihat sebuah surau dari bambu dan jamaah muslimin yang tengah bersembahyang. Untuk membuat film ini ia mulai cari duit. Ia buka kantor untuk perusahaannya, Film co International Productions di Los Angeles dan Beirut, lalu ia memesan skenario dari H.A.L. (Harry) Craig -- orang yang menulis untuk film Waterloo (dibintangi Rod Steiger). Dengan bekal itu Aqqad akhirnya dapat beking keuangan dari sumber-sumber di Lybia, Maroko dan Kuwait. Menurut ceritanya, Akkad dan Craig kemudian ke Kairo. Ia sewa satu tingkat hotel. Lalu, bersama "tiga sarjana terkemuka dari Universitas Al Azhar" yang tak disebutkan siapa -- mereka memeriksa dengan seksama naskah skenario itu. Menurut keterangan fihak produser, proses pemeriksaan itu cukup seru: "Ada terjadi perbenturan pendapat dan apa yang seakan-akan merupakan jalan buntu. Tapi Craig mencengangkan para sarjana itu dengan mengutip surat dan ayat -- bahkan tiap nomor halaman -- dari Qur'an. Akhirnya, setelah berminggu-minggu yang melelahkan, setiap halaman disetujui dari ditandatangani". Benarkah cerita itu? Penulis Mesir yang ikut terlibat dalam penyusunan skenario (versi Arab), Abdur Rahman Syarqawi, membenarkannya. Tapi Syeikh Al Azhar, Dr. Abdul Halim Mahmud, dalam konperensi persnya baru-baru ini di Jakarta -- sewaktu ia berkunjung ke mari -- membantah ahwa Al Azhar, sebuah lembaga pendidikan Islam tertua di dunia, telah memberikan restunya bagi pembuatan film itu. Diakui, bahwa Aqqad pernah datang minta bertemu dengan dia. Tapi permintaan itu ditolak. Rupanya susah juga bagi Aqqad, kalau begitu, untuk mendapat kesempatan memperdengarkan alasan dari fihaknya. Tapi apakah dengan itu ia merasa diperlakukan tak adil, ia tak mau bilang. Ia pokoknya terus saja membikin film itu. Mula-mula di Maroko, dimulai April 1974 di desa Ait Bouchent yang diubah jadi Mekkah jaman jahiliah dulu -- lengkap dengan Ka'bah bikinan. Tapi setelah pemerintah Maroko didesak Al Azhar, Aqqad dan awak produksinya pindah ke Lybia dengan kerepotan yang bukan main. Untunglah pemerintah Muammar Ghadaffi membantu sepenuhnya rombongan besar yang membawa berton-ton peralatan itu. Angkatan Udara Lybia, misalnya, menyediakan Hercules-nya buat meringankan beban itu. Angkatan Daratnya menyediakan 5000 tentara, buat adegan perang Uhud dan Badar. Pengambilan gambar dilakukan di Sheba, yang dikelilingi padang pasir -- dan fasilitas sepenuhnya disediakan oleh pemerintah setempat. Bagaimana reaksi pemerintah Lybia -- yang tidak lagi berbaik-baik dengan Mesir -- atas desakan Al Azhar dan Dewan Masjid Sedunia di Mekkah, masih harus didengar. Bisa saja ada orang Islam yang berpendapat lain tentang soal itu. Seorang Indonesia yang tergolong santri, kini sarjana ekonomi yang dikenal sebagai tokoh pemuda Islam yang aktif sejak kecil, 15 Agustus yang lalu kebetulan di London dan menonton Al Risalah. Katanya: "Kesan saya, sebagai orang awam, film itu versi Islam". Ia juga menceritakan, bahwa film ini, yang tak menampilkan wajah Nabi dan para sahabat seperti Abubakar, Umar, Ali dan Usman, dapat sambutan hangat di kalangan penonton, yang waktu itu sebagian besar terdiri dari orang Islam berkebangsaan Arab.20 "Begitu emosionilnya penonton, hingga gedung pertunjukan gemuruh oleh tepuk tangan tatkala adegan Hamzah memukul lawannya. Yang paling berkesan lagi ketika Nabi hijrah ke Medinah. Adegan penyambutan yang disajikan secara kolosal dengan iringan lagu Talaal-Badru Alaina sangat impresif sekali. Saya terharu dan bahkan mata saya berkaca-kaca.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar