Minggu, 27 Februari 2011

Film Kantata Takwa Siap Beredar

19 Sep 2008
Film Kantata Takwa, sebuah karya yang diangkat dari keberhasilan konser kelompok musik tersebut di Stadion Utama Senayan Jakarta pada 1991, siap beredar di jaringan bioskop Bliz Megaplex.

"Film ini akan beredar mulai 26 September," kata Clara Sinta dari Ekapraya Tata Cipta Film & Sedco Indonesia, dalam jumpa pers yang digelar usai preview film tersebut di Jakarta, Rabu, 17/9-2008.

Diproduseri Erros Djarot, Setiawan Djody, dan Gatot Prakosa, film itu dibintangi oleh seluruh personil Kantata Takwa, termasuk Iwan Fals, Sawung Jabo, Setiawan Djody, Yocky Suryoprayogo, dan kelompok Bengkel Teater Rendra.

Erros, yang juga penulis naskah dan sutradara, mengatakan, film itu berangkat dari ide gila WS Rendra.

Inti cerita film semi dokumenter itu merupakan kesaksian para seniman Indonesia tentang masa represi Orde Baru yang sarat korupsi, nepotisme, aksi penculikan dan pembunuhan para aktivis yang berseberangan ideologi dengan pemerintah.

"Para seniman itu termasuk saya, yang dulu harus keluar masuk penjara," kata WS Rendra.

Erros secara berkelakar mengatakan, "Karena idenya gila, ya saya pikir harus melibatkan orang-orang gila," katanya, seraya menyebut beberapa nama termasuk Setiawan Djody, Iwan Fals, Sawung Jabo, Gatot Prakosa, dan produser Abdurrahim yang disebutnya sebagai "Pakistan gila".

Abdurrahim pun protes dengan mengatakan, "Saya memang gila, tetapi saya orang India muslim."

Disimpan

Berbeda dari film lain yang umumnya hanya menunggu 1-2 tahun sebelum diedarkan, Kantata Takwa sebenarnya sudah dibuat pada 18 tahun lalu.

"Setelah jadi, film ini saya simpan di rumah," kata Gatot Prakosa.

Menurut Gatot, saat itu (masa ORBA) tidaklah dimungkinkan untuk mengedarkan film tersebut di bioskop. "Siapa yang berani?" katanya.

Menyambung ucapan rekannya, Erros mengatakan bahwa hal itu ada dampak positifnya.

"Kalau dulu diedarkan, pastilah tidak jadi karena banyak sekali yang dipotong," katanya.

Berdurasi 72 menit, film Kantata Takwa menggambarkan kehidupan para seniman dan aktivis yang diburu aparat karena aksi-aksinya yang mengecam pemerintah lewat puisi, musik, dan lagu.

Kecaman-kecaman itu diperlihatkan melalui beberapa lagu Kantata Takwa seperti Bongkar, Hati Nurani, dan Bento.

Rendra mengatakan, konser Kantata Takwa di Senayan dan beberapa kota besar lain di Indonesia bukanlah pertunjukan musik biasa melainkan sebuah peristiwa budaya, karena melibatkan banyak seniman dari berbagai bidang, musisi, penyanyi, penari, dan penyair. (*/ly/foto:Antara)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar