Rabu, 09 Februari 2011

Film Indonesia & Pesona Jawa Barat

Usmar Ismail (berdiri, ke-3 dari kiri), foto bersama dengan Hamidy T. Djamil (ke-5), dan juru kamera Max Tera serta aktor Sukarno M. Noor (jongkok ke-2) dan Wahid Chan (ke-3)

SEMANGAT kebangsaan telah ditunjukkan oleh salah seorang tokoh perfilman Indonesia H. Usmar Ismail ketika mendirikan NV Perfini pada tanggal 30 Maret 1950. Pada tanggal dan tahun itulah Usmar memulai shooting film produksi pertama NV Perfini "Darah dan Doa" (Long March). Dalam sejarah film Indonesia, film tersebut tercatat sebagai film Indonesia pertama yang penggarapan dan modalnya oleh orang-orang pribumi. Sebelumnya memang ada film "Lutung Kasarung" (1926) yang dianggap sebagai film cerita pertama di Indonesia, tetapi digarap oleh orang Belanda.

Semula film tersebut akan menggunakan judul "Long March", dan direncanakan akan dikirim ke Festival Film Intemasional di Cannes. Sayang hanya sampai sebatas rencana, sebab penggarapannya hampir terhambat akibat menyusutnya nilai uang setelah pemerintah waktu itu melakukan pemotongan nilai uang. Modal Rp 30.000 untuk shooting film tersebut tentu saja tidak mencukupi karena nilainya turun drastis jadi separuhnya. Agar tidak rugi total, Perfini mengadakan kerja sama dengan Spektra Exchange, sehingga film "Darah dan Doa" bisa diselesaikan seluruhnya. Sutradara Usmar Ismail juga sempat menghadapi kenyataan pahit ketika film "Darah dan Doa" dilarang beredar di beberapa daerah, termasuk di Jakarta.

Melalui film "Darah dan Doa" yang menceritakan hijrahnya pasukan Siliwangi dari Yogyakarta ke Jawa Barat, Usmar telah menunjukkan bahwa orang-orang pribumi pun mampu berprestasi, menjadi pengusaha film, mengurus manajemen produksi, menjadi penata kamera, menjadi editor, pokoknya seluruh film tersebut dikerjakan oleh pribumi. Usmar sendiri berasal dari Sumatra Barat, penulis skenarionya sastrawan Sitor Situmorang dari Sumatra Utara, para pemainnya antara lain Del Yuzar dan Aedy Moward, dari berbagai daerah, sedangkan ceritanya lebih bernuansa Jawa Barat. Bahkan dalam film perjuangan berikutnya, Usmar banyak sekali mengungkapkan romantika perjuangan di Jawa Barat, misalnya melalui film "Pejuang", Toha Pahlawan Bandung Selatan" dan "Anak-Anak Revolusi". Berkat jasanya terhadap kebangkitan film nasional, pemerintah memberikan penghargaan sebagai "Perintis Perfilman Nasional" kepada Usmar Ismail.

Hari Film Nasional

Tangga) 11 Oktober 1962, berlangsung konferensi kerja Dewan Film dengan berbagai organisasi perfilman, antara lain memutuskan bahwa hari shooting pertama produksi perdana NV Perfini "Darah dan Doa" dijadikan Hari Hlm Nasional. Itulah sebabnya FFI pertama berlangsung 30 Maret, sebab dianggap sebagai hari bersejarah bagi kehadiran film yang sepenuhnya merupakan karya orang pribumi. Akan tetapi dalam penyelenggaraan berikutnya, tidak lagi diselenggarakan tangga) 30 Maret.

Sebelumnya telah terjadi perbedaan pendapat sebab peristiwa bersejarah tanggal 30 Maret hanya diakui oleh kalangan orang film swasta, sedangkan kalangan pemerintah masih memilih tanggal 6 Oktober sebagai mana usulan tokoh perfilman lainnya R.M. Soetarto. Alasannya, pada tanggal 6 Oktober 1945 ada peristiwa yang dianggap lebih penting, yakni bertepatan dengan Jepang yang menyerahkan studio Nippon Eiga Sha kepada Pemerintah RI. Dari pemerintah RI sendiri diwakili oleh R.M. Soetarto. Studio itu kemudian berganti nama menjadi PPFN (Pusat Produksi Film Negara).

Upaya untuk mengajukan tanggal 30 Maret sebagai Hari Film Nasional terus dilakukan. Akhirnya terwujud pada masa pemerintahan Presiden BJ. Habibie. Melalui Keputusan Presiden No. 25, tanggal 29 Maret !999. yang ditandatangani langsung oleh BJ. Habibie, maka ditetapkan bahwa tanggal 30 Maret sebagai Hari Film Nasional.Jika kita menyimak film-film penting dalam perjalanan sejarah film Indonesia, maka akan nampak bahwa pesona Jawa Barat menjadi bagian yang tak terpisahkan. Film cerita pertama yang dibuat di Indonesia adalah film berdasarkan cerita legenda dari Jawa Barat. Film karya Albert Balink dan Mannus Franken "Pareh" (1934), yang mendapat pujian dari para pengamat film, menampilkan keindahan panorama alam tatar Sunda dengan adaptasi dan tradisinya. Dan film "Darah dan Doa" yang shooting pertamanya dijadikan sebagai tangga] Hari Film Nasional, mengungkapkan kisah hijrahnya pasukan Siliwangi ke Jawa Barat.

Maka rasa nasionalisme yang bersumber dari keragaman potensi daerah, sesungguhnya telah digaungkan oleh para sineas tempo dulu, termasuk keterlibatan pemerintah daerah dalam pembuatan film, seperti dukungan bupati Bandung RAA Wiranatakusumah V. terhadap film "Lutung Kasarung" dan "Pareh". Film adalah seni mutakhir yang memiliki pengaruh luar biasa, juga bisa menjadi dokumentasi berharga dari generasi ke generasi. Kini Iata bisa menyaksikan film "Pareh" dalam rentang waktu 76 tahun, atau "Darah dan Doa" setelah 60 tahun, dalam kondisi film yang masih terawat, lalu kita bisa melihat sendiri realita alam dan manusianya pada saat itu.Melalui Hari FOm Nasional sesungguhnya kita bisa memperluas wawasan melalui film tempo dulu yang tersimpan di Sinematek Indonesia untuk mengenal masa lampau Indonesia. ( Eddy D. Iskandar, Ketua UmumFFB/Pimred "Galura").

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar