Selasa, 08 Februari 2011

Film Bicara

Film Bicara
Written by hendra




The Teng Chun (sebelah Kiri, berdiri), dikolasi pembuatan film bicara Boenga Roos dari Tjikembang dengan kamera kuno buatan sendiri yang bisa merekam suara sekaligus


'Indonesia’ memasuki era film bicara buatan ‘dalam negeri’ sejak tahun 1931, lewat film Atma De Vischer.

Tentu saja film bicara lebih menarik dibanding film bisu karena mudah dipahami. Bahasanya Melayu campuran. Temanya pun lebih bervariasi seperti Bunga Roos dari Tjikembang, Indonesia Malaise, Sampek Eng Tay, Si Pitoeng, Raonah, Siloeman Babi kawin dengan Siloeman Monjet, Anaknya Siloeman Oeler, Anaknya Siluman Tikoes, Lima Siloeman Tikoes dan lain-lain. Bangsa siluman dan legenda yang menyisipkan seni bela diri ternyata memberi semangat pribumi untuk kembali menguasai seni silat warisan leluhur, ya mungkin pada suatu ketika diperlukan untuk berjuang meraih kemerdekaan. Produser film keturunan Tionghowa, antara lain Wong Bersaudara, Tan Koen Yauw, The Teng Chun .

Pada tahun 1937 cuma ada 2 film yang diproduksi oleh Java Industrial pimpinan The Teng Chun dengan judul Gadis Jang Terdjoeal yang disutradarai oleh Nelson Wong , bercerita tentang cinta Han Nio dan Oey Koen Peng. Artis dan aktornya kebanyakan keturunan Tionghwa. Ada juga film Terang Boelan (Het Eilan Der Droomen) produksi ANIF yang disutradarai Albert Balink dengan bintang Roekiah dan Rd Mochtar yang kemudian melegenda..

Pada tahun 1940, produk cerita drama amat digemari penduduk seperti Bajar Dengan Djiwa, Dasima, Harta Berdarah, Kartinah. Kedok Ketawa, Kris Mataram, Matjan Berbisik, Melati van Agam, Sorga Ka Toedjoeh, Sorga Palsoe, , Zoebaida. Berkibar lah nama Roekiah, Rd Mochtar , Rd Djoemala, S Waldy dan lainnya yang menjadi idola rakyat pribumi.

Pada tahun 1940 muncul Ordonansi Film Nomor 507 tentang Perubahan dan Penyempurnaan Komisi Film dan Susunan Keanggotaan Komisi Film. Ordonansi yang bertambah dan berubah-ubah menunjukkan bahwa Belanda amat concern terhadap pengaturan film demi untuk menjaga ‘keamanan’ jajahannya.

Film Air Mata Ibu diproduksi tahun 1941, dimana Fifi Young mengukir nama besar. Genre film lebih beraneka ragam ada drama, crime, fiksi, laga, komedi dan lainnya. Ini tercermin pada film Air Mata Iboe, Jantoeng Hati, Elang Darat, Garoeda Mas, Ikan Doejoeng, Koeda Sembrani, Lintah Darat, Moestika dari Jenar, Mega Mendoeng, Noesa Penida, Pah Wongso Tersangka, Srigala Item, Tjioeng Wanara, Tengkorak Hidoep dll. Paling tidak ada 32 film diproduksi tahun itu. Ini prestasi. Sayang tahun 1942 cuma ada 3 produksi . Maklum dunia mengalami masa sulit karena berkecamuk Perang Dunia ke II. Jepang masuk ke Indonesia dengan menyebut dirinya saudara tua yang mengumbar janji palsu akan membantu Indonesia meraih kemerdekaan . Ternyata lepas dari jajahan Hindia Belanda diganti oleh Jepang yang sama kejam. Jepang masuk Indonesia tahun 1942. Semula kita ‘kesengsem’ dengan jargon baru yaitu Saudara Tua dan Asia Timur Raya. Walau demikian pada tahun 1942 masih ada produksi film antara lain Boenga Sembodja, Seriboe Satoe, Berdjoang . Perang Dunia semakin menggila dan produksi film juga berkurang, tapi toh tahun 1943 Nippon Eiga Sha memproduksi film yang merupakan propaganda Jepang tentang heiho . Masih ada 2 film lagi yang diproduksi yaitu Di Desa dan Di Menara . Menjelang kejatuhan Jepang di tahun 1944 , ada hal yang mengherankan yaitu diproduksi 6 film antara lain Djatuh Berakit, Gelombang, Hoedjan, Keris Poesaka, Ke Seberang, dan film berjudul Koeli dan Romoesha, yang merupakan propaganda Jepang bahwa nasib romoesha lebih baik dan terhormat dibanding kuli di zaman penjajahan Belanda! Terbukti antara film dan politik tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan!

Selama penjajahan Jepang ada paceklik film asing sebab Jepang melarang film asing masuk, kuatir akan mempengaruhi rakyat Indonesia.

. Pemerintah Militer Jepang mengubah De Film Commissie menjadi Kainen Bunka Sidhosodohan Nippon Sodosho atau Pusat Kebudayaan dan Propaganda Pemerintah Militer Jepang (Sedenbu) di Indonesia O Ini berarti bahwa film lebih dititikberatkan pada propaganda Asia Timur Raya dan Saudara Tua. Menjelang kejatuhan Jepang (tahun 1944) masih ada produser yang berani memproduksi film antara lain produksi Persafi yang dibiayai oleh Nippon Eiga Sha konon dengan sutradara Rustam St Palindih dan seorang pejabat Jepang yang menggunakan nama Indonesia . Produksi Persafi lainnya adalah Gelombang, Hoedjan, Keris Poesaka, Ke Seberang. Di masa itu ada film Koeli dan Romoesha – tentang nasib Romoesha dari kacamata Jepang. Romoesha dianggap jauh lebih mulia di masa pnjajahan Jepang dibanding para koeli di zaman penjajahan Belanda Jepang. Terus terang baik jadi koeli maupun jadi romusha sama menderitanya. Setelah tahun 1944, produksi film mengalami status pingsan! Jepang menyerah pada Sekutu dan kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Perang merebut kemerdekaan mempengaruhi produksi film yang ikut mengalami masa ‘perjuangan‘ alias sepi.

Sejak tahun 1946 Pemerintah Indonesia menempatkan Badan Sensor Film berada dalam lingkungan Departemen Pertahanan Negara dan bertanggungjawab pada Menteri Penerangan. Apa yang tersirat dari yang tersurat dalam keputusan ini? Pentingnya perfilman dalam masa perjuangan yang mampu memberi penerangan dan mengobarkan semangat rakyat yang sedang berjuang. Film merupakan alat perjuangan yang tepat untuk menyusupkan jiwa kejuangan.

Setelah produksi film tertidur - karena seluruh potensi rakyat tertumpah pada memperjuangkan kemerdekaan, baru tahun 1948 dunia perfilman menggeliat lagi dengan 3 film yaitu Air Mata Mengalir di Tjitaroem (Tan & Wong Bros) Anggrek Boelan (South Pacific Film) dan Djaoeh Di Mata (South Pacific Film). Tahun 1949 kehidupan film bergairah lagi dengan 8 film.

Pemerintah kemudian menempatkan Badan Sensor Film dalam lingkungan Departemen Dalam Negeri dengan nomenklatur Panitya Pengawas Film. Itu terjadi pada tahun 1948 . Kalau diruntut penempatannya , Badan Sensor kembali seperti ketika zaman jajahan Belanda. sebab Film Ordonantie berada dalam naungan Binenland Bestuur – atau Urusan Dalam Negeri. Tersirat makna bahwa film merupakan benang pemersatu masyarakat Indonesia. Film juga punya peran membangun jiwani bangsa.

Sejarah perfilman mulai merangkak lagi di tahun 1950. Jiwa merdeka mulai menyusup dalam penciptaan cerita, termasuk merdeka berkreatifitas. Ada kejutan di dunia perfilman Indonesia dalam film Antara Bumi dan Langit – diproduksi oleh Stichting Hiburan Mataram dan PFN, disutradarai oleh Dr Huyung yang sejatinya bernama Hinatsu Eitaro, yang dulunya pernah menjadi Kepala Jawa Engeki Kyokai -sebuah sandiwara yang terkenal pada masa itu . Skenario ditangani oleh pengarang terkenal Armijn Pane sehingga getar susastra terasa. Namun terjadi kehebohan sebab untuk pertama kali dalam sejarah perfilman Indonesia karena berani menampilkan adegan ciuman antara bintang tenar S Bono yang berciuman dengan Grace! Gelombang protespun membahana.

54 tahun kurun waktu ‘Antara Bumi dan Langit’, gelombang protes ini terulang lagi pada tahun 2004 dengan film Buruan Cium Gue, produksi Multivision Plus pimpinan Ram Punjabi dengan ‘keberanian’ ciuman antara Masayu Anatasia dengan Henky Y Kurniawan. Saking hebohnya, dai terkenal Aa. Gym atau KH Abdullah Gymnastiar , Professor Dr Din Syamsudin yang waktu itu menjadi Sekjen MUI beserta para pemuka lima agama datang ke kantor LSF,karena sudah memberikan Surat Lulus Sensor. Juga ibu-ibu dari berbagai organisasi melayangkan protes, termasuk Inneke Kusherawati yang dulunya berani menampilkan adegan panas dan beberapa artis lainnya. Lembaga Sensor Film menjadi sasaran protes. Akhirnya oleh produser – demi menjaga kesatuan dan persatuan, menarik film tersebut dari peredara sesuai dengan keputusan Menteri Budaya dan Pariwisata yang pada waktu itu dijabat oleh Bapak I Gde Ardika menarik dari peredaran agar dapat direvisi dan LSF kemudian membatalkan Surat Lulus Sensor.Film ini pun direvisi dan kemudian beredar kembali dengan judul baru yaitu Satu Kecupan. Kalau ada yang memprotes tentu saja ada yang membela, antara lain Pendukung Kebebasan Berekspresi karena merasa kebebasan berexpresi hilang. Ya, jejak sejarah berulang kembali…

Yang menggembirakan di tahun 1950 ada 24 produksi film nasional. Ini menunjukkan semangat membangun film, luar biasa. Pada waktu itu Pemerintah Republik Indonesia menempatkan Badan Sensor Film dalam lingkungan Departemen Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (PPK). Hal ini menunjukkan bahwa ‘titik berat’ perkembangan film pada budaya dan penddikan . Film merupakan media yang dianggap mampu mempengaruhi budaya bangsa, baik dari sisi positif maupun negatif. Film juga merupakan sarana pendidikan bagi anak bangsa. Pada masa itu saingan berat film Indonesia adalah film dari India, Malaysia dan Philipina yang menguasai bioskop kelas ‘bawah’ dimana rakyat mampu menonton, sedangkan bioskop kelas menengah dan atas didominasi film Amerika, Eropa, dan Cina! Saingan film impor membuat perkembangan film Indonesia megap-megap. Untuk mengatasi agar penduduk mau mencintai produksi film dalam negeri diadakan Festival Film Indonesia, namun belum dalam bentuk seperti FFI sekarang . Walaupun demikian Festival Film menjadi upaya untuk meningkatkan apresiasi terhadap film karya bangsa sendiri sehingga kalau mungkin mampu bersaing. Paling tidak film karya bangsa sendiri disenangi rakyat sendiri.

. Film import bagaikan bah datang menerjang, terutama dari Amerika . Dibentuk Association of Motion Picture of America di Indonesia (AMPAI). Film asing pun digandrungi, bagaikan raja di ranah perfilman Indonesia, bahkan menentukan selera. Film Indonesia yang masih lemah pun makin sulit berkembang. Untung ada sosok Usmar Ismail yang berhasil membuat film Darah dan Doa atau Long March yang mengisahkan perjalanan sewaktu long march para pejuang dari Jogya ke Jawa Barat. Shooting pertama dilakukan di Purwakarta, pada tanggal 30 Maret 1950. Tanggal bersejarah itulah kemudian ditahbiskan menjadi Hari Film Nasional. . Pada tahun itu ada 23 film yang diproduksi. Perlu dicatat bahwa film Darah dan Doa sudah mengalami pemotongan oleh Badan Sensor Film , namun setelah beredar masih saja menunai protes dari berbagai daerah, antara lain dari kalangan ABRI karena dikaitkan dengan DI/TII di Jawa Barat.

Masa yang menggembirakan datang ketika tahun 1951, dimana produksi film mencapai puncak perkembangannya. Di samping Golden Arrow, ada Persari, Bintang Soerabaya , PFN, Bintang , Thung Nam Film, Perfini dan lain-lainnya.. 64 film diproduksi tahun itu. Bintang-bintang baru bermunculan dan digandrungi masyarakat . Ada film Enam Jam Di Jogya, Budi Utama, Bunga Bangsa, Hampir Malam di Jogya, Gadis Olahraga, Main-main Jadi Sungguhan, Pahlawan, Si Pincang, Terbelenggu dan masih banyak lagi. Bertambah produser berarti bertambah pula produksi dan ladang seni serta tema lebih bervariasi. Sampai sekarang jumlah ini belum tertandingi.

Pada tahun 1955 tepatnya 30 Maret – 5 April menjelang Pemilu pertama - diselenggarakan Festival Film Indonesia untuk pertama kalinya . Ketua FFI adalah Djamaluddin Malik dan wakilnya RM Sutarto. Ini merupakan kombinasi ynng baik sebab perpaduan Djamaluddin Malik sebagai dedengkot film dan RM Sutarto sebagai birokrat yang mengerti film. Ketua Kehormatan Juri adalah Profesor Bahder Johan dan Ketua Juri dipilih Sitor Situmorang – seorang budayawan. Ini merupakan tonggak sejarah dan menjadi catatan tersendiri, sebab Pemerintah mulai menaruh perhatian serius pada perkembangan duniaperfilman yang punya dampak baik terhadap sosial budaya maupun ekonomi. Sayang, FFI kemudian baru diadakan lagi setelah 5 tahun yaitu pada tahun 1960, dengan piala yang disebut piala FFI.

Kebijakan perfilman tercermin dalam TAP MPRS 1960 yang menyatakan bahwa film bukan semata-mata barang dagangan melainkan alat pendidikan dan penerangan. Selanjutnya dalam impor film perlu ditentukan keseimbangan , sesuai politik bebas dan aktif dan film Indonesia harus dilindungi dari persaingan dengan film luar negeri.

Ya, itulah film yang memang tak dapat dipisahkan dengan politik!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar