Rabu, 16 Februari 2011

FFI 1992 Mengapa jajang tersinggung?

Membaca penyesalan Jajang Pamontjak (TEMPO, 12 Desember 1992, Pokok & Tokoh) saya sebagai pengagum KH Zainuddin Mz merasa terkejut. Mengapa Jajang mesti tersinggung dengan mundurnya KH Zainuddin Mz dari unggulan FFI? Seharusnya sebagai sesama umat Islam kita bisa memahami langkah yang diambil Zainuddin MZ menarik diri dari unggulan FFI 1992. Sebagai manusia biasa, siapa pun mempunyai kecenderungan untuk mencoba atau bereksperimen. Begitupun dengan KH Zainuddin Mz. Beliau ingin mencoba alternatif lain dalam berdakwah. Dakwah di era informasi ini tidak cukup hanya dengan ceramah. Karena itu beliau mencoba dengan media film. Dalam wawancara dengan majalah pria ternama beberapa waktu lalu, KH Zainuddin Mz pernah berkata bahwa dirinya bukan robot. Ini berarti sebagai manusia mempunyai keterbatasan. Tidak mungkin mendatangi semua umat yang membutuhkan. Dapat juga ini yang mendorong beliau terjun dalam film. Namun kehadirannya dalam film pada saat perfilman kita sedang lesu. Apa boleh buat, jadilah beliau nominator FFI. Padahal dalam film iNada dan Dakwahr tidak ada niat beliau untuk menjadi unggulan apalagi peraih Citra. Ini dapat dibuktikan dari suratnya yang ditujukan kepada dewan juri. Inti suratnya sebagai berikut: 1. kehadirannya dalam film tersebut untuk yang pertama dan terakhir. 2. tidak ada niat pada pribadinya untuk menjadi aktor/peraih Piala Citra. 3. dalam film tersebut hanya berperan sebagai diri sendiri (cenderung berdakwah daripada akting) 4. keputusan pengunduran diri diambil demi kecintaannya pada umat. Jadi jelaslah bahwa pengunduran beliau dari unggulan FFI diambil bukan karena meremehkan dunia perfilman kita atau kerja Dewan Juri, tetapi keputusan diambil dengan pertimbanganpertimbangan yang saksama demi kecintaannya pada umat dan menghindari polemik serta kesimpangsiuran berita yang akan merusak citra Islam. ROKHMANI Jalan Cendrawasih 30 Tamanwiangun Kebumen Jawa Tengah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar