Rabu, 16 Februari 2011

FFI 1991 VS SCB (Studi Club Bintang)

LUAPAN massa membludak di Mojokerto, begitu rombongan artis dari Jakarta tiba, Sabtu sore pekan lalu. Rombongan ini, yang tergabung dalam Studi Club Bintang (SCB), mengikuti gerak jalan Mojokerto-Surabaya yang diselenggarakan menyambut Hari Pahlawan. Sayang, karena massa yang tidak terkendali dan bisa mengacaukan seluruh acara, panitia mengambil keputusan: rombongan artis diangkut dengan empat minicab terbuka, setelah mereka berjalan hanya sepuluh meter dari garis start. Dengan komandan Agust Melaz, 45 bintang (artis dan sutradara film) berbaris rapi. Di depan, ada Doyok dan Camelia Malik. Di belakangnya, Eva Arnas, Deddy Mizwar, Roy Marten, El Manik, Jojon, Kiki Fatmala -pokoknya, semuanya orang beken. Begitu bendera start dikibarkan, masyarakat meneriakkan nama-nama itu. Lalu mereka berebut ingin menyalami -dan inilah awal kekacauan. Petugas keamanan langsung menghentikan barisan dan berteriak, "Demi keselamatan, kami harap para artis untuk naik ke kendaraan." Dengan terpaksa, bintang-bintang itu naik ke mobil terbuka dan acara pun berubah menjadi pawai artis. "Mer- deka, merdeka ....," teriak Deddy Mizwar membalas yel-yel massa. "FFI malah tidak semeriah ini," komentar Cahyono, bintang yang juga pelawak. "Ini kegiatan ke luar SCB yang pertama," kata Agust Melaz. Ia menolak tuduhan bahwa kelompok SCB sengaja melakukan boikot terhadap FFI di Jakarta. "Masa, kami diuber-uber karena tidak menghadiri FFI. Ini kan hak kami." SCB, yang baru berusia empat bulan, lahir karena keprihatinan sejumlah insan film terhadap tiga masalah utama: film Indonesia terdesak film asing di negeri sendiri, produksi film nasional menurun, dan film nasional berbobot sangat minoritas. Memang, film Indonesia terdesak ke pinggiran karena tumbuhnya sinepleks-sinepleks di kota yang menjadi pusat film impor. Belakangan, sinepleks malah berdiri pula di pinggiran, sehingga film nasional semakin jauh ke pelosok. Lewat SCB ini, mereka ingin membantu memecahkan permasalahan film nasional. Kelik M. Nugroho (Surabaya)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar