Rabu, 16 Februari 2011

FFI 1991 Sutradara muda menunggu nominasi

Akhir pekan ini, juri FFI akan mengumumkan film dan aktor serta aktris yang masuk nominasi. Beberapa sutradara muda lahir dan memberi alternatif. PANGGUNG Festival Film Indonesia (FFI) akan dibuka lagi. Di tengah derasnya serangan film-film Hollywood, dan munculnya belasan cineplex baru yang menopang pemutaran film asing itu, pesta orang-orang film Indonesia yang setahun sekali ini harus tetap diadakan. Dari 70 film yang diproduksi tahun ini, ada 19 film pilihan. Akhir pekan ini para juri akan mengumumkan film dan pemain yang berhasil masuk nominasi. Pekerjaan juri FFI tahun ini, yang diketuai Asrul Sani, tidak terlalu mudah. Bukan karena film-filmnya bagus, melainkan justru karena tidak ada film yang mencuat. Ada beberapa yang layak disorot, misalnya, Potret, Cinta dalam Sepotong Roti, Lagu untuk Seruni, Boneka dari Indiana, dan ZigZag. Yang menarik, meski sutradara senior macam Teguh Karya, Arifin C. Noer, atau Slamet Rahardjo absen, lahir sutradara baru. Mereka adalah Garin Nugroho (Cinta dalam Sepotong Roti), Labbes Widar (Lagu untuk Seruni), Dimas Haring (Langit Kembali Biru), dan Ucik Supra (Rebo dan Robby). Adakah sesuatu yang baru dari mereka? "Ya, mereka semua punya kelebihan masing-masing," kata Teguh Karya. Teguh melihat suatu fenomena baru dari kecenderungan para sutradara baru ini. "Memang belum bisa dikatakan bahwa suatu aliran baru telah lahir, tapi saya melihat adanya alternatif baru dalam berbagai hal, baik dalam visi maupun cara kerja," tambahnya. Ia menunjuk bagaimana film Potret, yang gagasannya dikerjakan secara keroyokan. Ia juga memuji pengarahan akting di dalam sebagian film karya sutradara baru itu. Tanpa ingin menyebutkan filmfilm mana yang dianggapnya terbaik, Teguh mengatakan bahwa pilihan tema dari para sutradara baru ini pun banyak yang menarik. Garin Nugroho, sutradara Cinta dalam Sepotong Roti, adalah salah satu sosok yang menjanjikan. Sebagai sutradara yang menawarkan alternatif baru dalam memvisualisasikan gagasannya, Garin bak sebuah intan yang perlu diasah. Mungkin karena Garin terlalu mementingkan bagaimana membahasakan idenya ke dalam gambar, lulusan Institut Kesenian Jakarta ini tak berkonsentrasi untuk menundukkan aktor-aktornya. Karya pertama Labbes Widar, Lagu untuk Seruni, juga memiliki beberapa persoalan. Sama seperti rekan sealmamaternya, Garin Nugroho, Labbes pun menyodorkan persoalan pasangan muda. Garin memfokuskan masalah hubungan seks, sedangkan Labbes lebih menekankan persoalan "pertandingan" menundukkan ego antara pasangan Febi (Nia Zulkarnaen) dan Arya (Tio Pakusadewo). Febi ingin mementingkan kariernya sebagai penyanyi dan rela berpisah dengan anak dan suaminya, sementara Arya -sang pencipta lagu -akhirnya harus belajar mengurus putrinya yang masih kecil sementara perlahan wanita lain memasuki kehidupannya. Tidak adil membandingkan film ini dengan Kramer vs Kramer meski ada persamaan tema. Yang kuat dari film ini adalah akting hampir semua pemainnya sangat wajar. Agaknya, selain karena menggunakan suara langsung, Labbes sebagai sutradara dan Adi Kurdi sebagai pengarah dialog sangat berperan dalam hal ini. "Orang biasa menyangka kalau belum melotot atau berteriak namanya belum akting, tapi akting Tio (Pakusadewo) di dalam film ini sangat alamiah," puji Teguh Karya. Almarhum Nya' Abbas Akup, yang dikenal sebagai "empu" filmfilm komedi situasi, agaknya mencoba menguras sisa-sisa tenaga akhirnya dalam pembuatan Boneka dari Indiana. Film ini bukan saja sindiran halus kepada orang-orang kaya yang tak lelahnya memburu uang, melainkan terutama kisah seorang suami yang mulanya hanya bisa mengangguk seperti boneka, tapi kemudian berhasil membebaskan diri. Secara keseluruhan film ini sangat segar dan komunikatif. Didi Petet dan Lidya Kandouw bisa saja meraih peluang nominasi melalui film ini. Ziz Zag arahan Putu Wijaya memang bukan sebuah karya akbar. Meski demikian, ia menjadi menarik karena Putu membicarakan persoalan yang sangat dekat dengan kita, yakni mencari identitas. Ini adalah sebuah proses yang akan terjadi secara terus-menerus, bukan hanya pada anak-anak muda macam Egi ( Jeffrey Waworuntu), Silvi (Dian Nitami), dan Nanang (Cok Simbara), tapi juga kepada orang-orang tua macam ayah Egi (Zainal Abidin). Film yang mengajak kita merenung ini memang penuh dengan adegan dan peristiwa yang tumpang tindih yang menjadi kekuatan film ini, tapi sekaligus melelahkan. Film yang terasa paling utuh adalah karya Buce Malawau yang berjudul Potret. Buce selama ini dianggap "murid" Teguh Karya meski ia sendiri tak pernah secara resmi berguru pada "suhu perfilman Indonesia" itu. Potret mengisahkan masa tua Herman Kawilarang (Rachmat Hidajat) di rumah jompo dan ingin kembali kepada anak-istrinya yang dahulu ditinggalkan. Memang Potret akan mengingatkan kepada film Ayahku karya Agus Elias karena sama-sama membicarakan penolakan anak tertua terhadap ayah. Namun, film Potret lebih menunjukkan berbagai dimensi kemanusiaan. Siapa pun yang rajin menonton film-film Teguh Karya akan langsung mengenali pengaruh sentuhan artistik dan visualisasi Teguh itu. Film ini mempunyai peluang besar untuk meraih banyak piala Citra, terutama untuk Rachmat Hidajat, Ully Artha, dan Gusti Randa. Adapun Film Langit Kembali Biru karya Dimas Haring yang terlalu sarat dengan misi atau Taksi Juga arahan Ismail Soebardjo yang terasa nyinyir (meski akting Ayu Azhari memberi peluang untuk nominasi) rasanya belum bisa dikategorikan sejajar dengan lima film tadi. Leila S. Chudori

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar