Rabu, 16 Februari 2011

FFI 1991 Dalam Sepotong Roti dan sepotong Cinta

Piala Citra hasil FFI tahun ini terbagi-bagi di banyak film. Wajah baru menggembirakan. Tapi puncak festival sepi, lebih meriah di Mojokerto. "TAK ada film yang bulat. Tak ada yang utuh. Tak ada unsurunsur sektoral yang saling mendukung," inilah komentar Asrul Sani, ketua juri film cerita panjang Festival Film Indonesia (FFI) 1991. Asrul mengatakan hal itu beberapa saat setelah FFI ditutup, Sabtu malam pekan lalu, di TMII Jakarta. Dengan gambaran seperti itu, juri harus memilih film terbaik -pemerintah kabarnya tak suka kalau tak ada film terbaik sebagaimana FFI 1984 di Yogyakarta. Cinta dalam Sepotong Roti, karya sineas muda Garin Nugroho, akhirnya ditetapkan sebagai film terbaik tahun ini. Namun, sebagai sutradara, Garin dinilai belum berhasil. "Garin belum matang, di tengah-tengah film, ia kehabisan napas. Film itu akan jadi lebih bagus kalau diperas menjadi satu jam," kata Asrul. Kelebihan Sepotong Roti adalah "ia memberikan penafsiran relevansi sosial yang baru". Salim Said, kritikus film yang juga anggota juri FFI, melihat bahwa yang terpenting dalam FFI ini: telah lahir sebuah film yang betul-betul sinematis, artinya tidak menekankan diri pada cerita, tetapi cara bercerita dengan gambar. Yang dimaksud Salim tentulah film Garin ini pula, yang juga menyabet Citra untuk fotografi (Soleh Rosselani), artistik (Sapto Busono), musik (Dwiki Darmawan), dan penyunting gambar (Ade Prajadisastra). Lalu, siapa sutradara terbaik? Imam Tantowi tampil lewat Soerabaia '45. "Sebagai sutradara, dia kuasai mediumnya. Dia bisa mengutarakan, dengan alat sinematik, apa yang ingin dia utarakan. Dia tidak ragu," kata Asrul. Pakar perfilman ini memuji adegan pertempuran yang dibuat Tantowi. Hanya saja, "sebagian besar kelemahan film ini karena skenario." Citra untuk skenario terbaik dipegang Dimas Haring dan Dias Cimenes untuk film Langit Kembali Biru. Pasangan ini juga memperoleh Citra untuk penulis cerita asli terbaik dalam film yang sama. Langit bercerita tentang masa pergolakan di Timor Timur menjelang integrasi ke wilayah RI. Untuk aktris terbaik muncul wajah lama yang sudah kenyang dengan nominasi. Pemeran utama wanita terbaik diraih Lydia Kandou lewat Boneka dari Indiana. Gelar pemeran pembantu wanita terbaik disabet Rina Hassim lewat Zig Zag. Kedua aktris ini tak hadir di puncak FFI. Untuk aktor ada wajah lama dan baru. Yang lama, Rachmat Hidayat untuk permainannya di film Boss Carmad. Wajah baru, Tio Pakusadewo, lewat film Lagu untuk Seruni. Film terakhir ini juga mendapat Citra untuk penata suara terbaik atas nama Hartanto. Dengan tersebarnya kekuatan pada beberapa film, kata Asrul, pertarungan para juri untuk menentukan pemenang menjadi sangat ketat. "Pokoknya, tahun ini paling sulit," katanya. Yang menggembirakan lainnya adalah munculnya anak-anak muda, baik sutradara maupun pemain. "Mereka sekarang sudah siap dan mereka punya kemauan," kata Asrul. Jika ada yang "tidak menyenangkan" dalam FFI kali ini tentulah karena semakin sedikitnya artis yang terlibat. Pada puncak FFI, suasana itu terasa sekali. Banyak artis yang "tiduran di rumah" selain ada yang ber-"FFI di Mojokerto". Siti Nurbaiti dan Dwi S. Irawanto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar