Rabu, 16 Februari 2011

FFI 1989 Jakarta Pesta citra dengan pemerataan

BALAI Sidang Senayan, Jakarta, kembali dipakai untuk puncak pesta insan film nasional di akhir pekan ini. Namun, festival tahunan yang membagikan Piala Citra ini ingar-bingarnya terasa lebih sepi. Bukan saja kebetulan banyak peristiwa lain lebih menonjol (kampanye film dalam rangkaian FFI bertepatan dengan PON XII, misalnya) tetapi juga lantaran film yang bertarung di festival tak ada yang menonjol. Dewan Juri yang diketuai Rosihan Anwar Sabtu pekan lalu sudah mengumumkan lima film nominasi dari 19 film yang diloloskan komite seleksi. Lima film nominasi itu adalah Pacar Ketinggalan Kereta, Noesa Penida, Tragedi Bintaro, Semua Sayang Kamu, dan Si Badung. Pacar yang oleh sutradaranya, Teguh Karya, disebut sebagai "film hiburan yang ringan" dijagokan dengan 13 unggulan. Selain unggulan film terbaik, film musikal ini unggul dalam penyutradaraan, penulisan skenario, fotografi, tata artistik, penyuntingan film, tata suara, musik, pemeran utama pria, pemeran utama wanita, dan tiga unggulan pemeran pembantu wanita. Noesa Penida karya pertama sutradara Galeb Husin mendapat 11 unggulan, termasuk untuk penyutradaraan, skenario, musik, fotografi, pemeran utama pria. Bahkan untuk pemeran pembantu pria, Noesa menempatkan tiga unggulan: Muni Cader, Sutopo Hs., dan Pitrajaya Burnama. Tragedi Bintaro, film kelima Buce Malawau, menyabet 10 unggulan. Karya Ida Farida, Semua Sayang Kamu, yang diangkat dari kisah nyata tertukarnya bayi Dewi-Cipluk menempatkan tujuh unggulan. Jumlah itu juga diperoleh film anak-anak Si Badung karya sutradara yang ngetop lewat serial Saur Sepuh, Imam Tantowi. Menarik bahwa dari semua film unggulan itu, sutradara dan penulis skenarionya masuk unggulan juga. Untuk fotografi, hanya Si Badung yang tidak menempatkan unggulan di sana. Itu berarti bahwa film terbaik tahun ini diduga akan jatuh pada siapa yang memperoleh penyutradaraan terbaik. Siapa? Siapa lagi kalau bukan Teguh Karya, yang tahun ini rasanya hanya ditempel ketat oleh "murid"-nya Buce Malawau. Seperti diduga banyak orang, dalam daftar unggulan pemeran utama pria terbaik, nama Didi Petet tak tercantum. Didi tahun ini tak mendapat peran berarti. Yang muncul adalah rekan sealmamaternya di IKJ, Eeng Saptahadi. Aktor yang populer karena peran Jarot di drama seri TVRI Losmen ini memang bermain bagus dalam Semua Sayang Kamu. Tapi dia harus bersaing dengan langganan nominasi Ray Sahetapy yang kali ini pas betul memerankan pemuda nelayan Bali dalam (Noesa Penida). Di kelompok ini ada Rachmat Hidayat (Pacar), Rano Karno (Arini II), dan Mang Udel alias Drs. Purnomo (Si Badung). Rachmat tenggelam karena di film itu sebenarnya semua pemain sama saja kekuatannya. Rano bukan pada puncak aktingnya, malah lebih bagus permainan Rano ketika Arini I. Mang Udel? Ia seperti hanya mengulang perannya dalam film Si Mamad tempo hari. Untuk pemeran utama wanita persaingan ada pada muka lama: Almarhumah Tuti Indra Malaon (Pacar) dan Widyawati (dalam Suami). Tiga muka baru dalam hal nominasi, yakni Ira Wibowo (Malioboro), Neno Warisman (Semua Sayang Kamu), dan Paramita Rusady lewat Si Kabayan Saba Kota, hanya Neno yang menempel ketat. Kali ini, Neno, yang juga penyanyi ini, mengulang sukses aktingnya seperti yang dia perbuat dalam sinetron Sayekti dan Hanafi. Jika tahun ini sulit menebak siapa peraih Citra, bukannya karena persaingan ketat lantaran bagusnya, tetapi karena film mutunya merosot dan kebanyakan artis bermain pas bandrol. Ini diakui oleh salah seorang anggota juri. Ia tidak membandingkan dengan Tjoet Nya' Dhien tetapi dengan film nominasi yang lalu pun film nominasi tahun ini kalah. "Memang film seperti Tjoet Nja' Dhien itu lahirnya belum tentu 10 tahun sekali, kok," kata juri yang enggan disebut namanya itu. Kalau Tjoet dijadikan standar penilaian, jelas tak bakalan ada film yang mendapat Citra, masuk unggulan pun sulit. Film yang sempat unjuk gigi di festival Cannes, Prancis, yang dibuat dengan biaya Rp 1,5 milyar, itu diakui oleh Rosihan Anwar terlalu menonjol. "Semua orang terpesona pada Tjoet," kata Rosihan, yang kebetulan ikut membintangi film ini. Namun, "keterpesonaan" itu, menurut Rosihan, harus ditanggalkan dalam menilai film-film peserta FFI 1989. "Dalam menilai film tentu tidak bisa membandingkan dengan film-film tahun lalu," kata Rosihan lagi. Jadi, tetap dipilih yang terbaik di antara yang ikut festival tahun ini. Bagi Salim Said, sekretaris juri film cerita FFI 1989, film peserta tahun ini tampil secara berimbang dengan memiliki kekuatan-kekuatan tersendiri. Karena itulah, "Dalam FFI kali ini juri mempunyai banyak pilihan," katanya. Karena tak ada film yang terlalu menonjol, bisa jadi Piala Citra bisa lebih merata. Pemerataan itu sebenarnya sudah terlihat dalam daftar unggulan. Dari 19 film pilihan, hanya delapan film yang tidak meraih satu tempat pun dalam deretan nominasi. "Pemerataan itu bukan berarti bagi-bagi nominasi," kata Salim. "Tetapi memang film-film itu mempunyai kekuatan sendiri-sendiri." Apalagi dari segi tema, katanya, banyak variasinya dibanding tahun lalu. Dari film anak-anak, yang memunculkan budaya etnis daerah, seperti Si Kabayan dan Jeram Cinta, hingga film yang bertema kesadaran hukum. Budiono Darsono dan Putu Setia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar