Rabu, 16 Februari 2011

FFI 1989 & FFA ini bukan festival arisan

MALAM yang penuh tawa dan wangi di Bali Room Hotel Indonesia Jakarta, Senin lalu. Puluhan wanita cantik, di antaranya mengenakan pakaian nasional Korea dan Muangthai, berseliweran. Para prianya berdandan rancak pula. Tari Merak (Jawa Barat) dan tari Saman (Aceh) menyemarakkan malam. Lalu Pidato Menteri Penerangan Harmoko. Ini perhelatan besar para insan film di kawasan Asia Pasifik. Ada 248 anggota delegasi, datang dari Malaysia, Muangthai, Taiwan, Hong Kong, Jepang, Korea Selatan. Lalu peninjau dari Singapura, Filipina, Australia, India, Selandia Baru, dan Kuwait. Ditambah 62 orang dari tuan rumah. Untuk menampilkan wibawa, panitia mengupayakan FFAP (Festival Film Asia Pasifik) ke-34 ini bukan kegiatan semacam arisan antara sesama aktris, aktor, sutradara, dan produser. Sehingga biaya Rp 150 juta yang disediakan oleh Pemda DKI untuk penyelengaraannya tidak percuma. Di sini memang ada kegiatan jalan-jalan, misalnya ke Pulau Ayer, Taman Mini, dan makan siang di Istana Bogor. Semula bahkan ada yang mengusulkan pelesir ke tempat-tempat lainnya, sampai ke Candi Prambanan segala. "Usulan-usulan itu saya tolak. Saya sadar, perlu elemen promosi pariwisata, tapi yang logis saja, dong," kata Bucuk Soeharto, salah seorang panitia. Selain tak diniatkan sebagai arisan atau bagi-bagi piala semata, FFAP tak diinginkan berisi piknik melulu. Menurut Ketua PPFI (Persatuan Produser Film Indonesia) Turino Junaidy, 62 tahun, dalam konstitusi Federation of Motion Pictures Producers in Asia disebutkan tujuan kegiatan federasi adalah pertukaran kebudayaan dan peningkatan kerja sama anggota untuk memajukan industri film Asia Pasifik. Tapi jika itu melulu akan menjadi terlalu serius, tak ada keriaan yang bersahabat. Maka, dalam setiap FFAP ada acara pokok (yang serius itu) dan acara penunjang (termasuk piknik dan pesta). "Hanya, dalam implementasinya selama ini, terkadang ada negara yang menekankan acara penunjangnya daripada yang pokok," kata Turino. "Jepang, Korea, dan Hong Kong pernah mengadakan semacam simposium. Kita kali ini saya rasa ingin menekankan acara pokoknya, meskipun mungkin bobotnya belum semaksimal yang seharusnya." Seiring dengan tujuan itu, panitia membuka Bursa Film di Ruang Pendawa 2 dan Pendawa 3 Hotel Indonesia, dari pukul 09.00 sampai 21.00 setiap hari selama festival (18-21 Desember). Ini ajang untuk memancing transaksi. Film tuan rumah yang dipajang dan diputar melalu keset video antara lain Naga Bonar, Ayahku, Musnahkan Ilmu Santet, Kisah Cinta Nyi Blorong, Terang Bulan di Tengah Hari, Merindukan Kasih Sayang, dan Abizars Pahlawan Kecil. Film asing adalah How to Pick Girls Up (Hong Kong), Black Rain (Jepang), dan Oh Fatimah (Malaysia). Hasilnya memang ada. Pada hari pertama bursa, Terang Bulan sudah dibeli hak edarnya oleh Stanley Hung dari Golden Horse Film Festival, Taiwan, dengan harga lebih dari US$ 3 ribu. Tapi, ya, apa boleh buat kalau film Indonesia yang lebih berkaliber seperti Tjoet Nya' Dhien tidak sempat dihadirkan di bursa. Bahkan peraih Citra terbanyak tahun lalu ini gagal ikut FFAP. Padahal, memenuhi syarat, yang antara lain menyebutkan bahwa film peserta FFAP 1989 harus menjadi unggulan pada FFI (Festival Film Indonesia) 1988. Dan persoalan Tjoet itulah yang kemudian sempat mencemarkan citra FFAP. Terutama karena berita-berita di sekitar kemelut antara PT Ekapraya Film (pemilik Tjoet) dan panitia pelaksana FFAP bersilangan seperti gambaran sebuah pertikaian. Bahkan ada selentingan yang menyebutkan panitia sengaja menjegal Tjoet. Pertimbangannya: supaya ada film lain memperoleh penghargaan di FFAP ini. Sebab, kalau Tjoet ikut, film kita yang lain bakal tenggelam, kalah wibawa. Isu penjegalan itu timbul karena perbedaan penafsiran batas akhir penyerahan film. Dalam suratnya (18 November 1989), PPFI minta Tjoet diikutkan dalam FFAP, dan paling lambat kopi film diserahkan 2 Desember. Ekapraya kebingungan, mengingat kopi bersubtitel Inggris semua sedang di luar negeri, antara lain di panitia Tokyo International Film Festival dan pengedar di London serta Kanada. Setelah pihak Ekapraya berkonsultasi dengan Direktur Pembinaan Film dan Rekaman Video Ir. Dewabrata, diputuskan Tjoet dapat ikut FFAP walau ada masalah teknis (yang kebetulan tak dianggap halangan). Tapi, ketika 1 Desember Ekapraya hendak menyerahkannya, ditolak panitia. Rupanya, karena selama menunggu merasa tak ada kepastian dari PT Ekapraya, PPFI langsung memberikan pilihan penggantinya kepada panitia FFAP. Yakni, Akibat Kanker Payudara, Selamat Tinggal Jeannette, dan Seputih Kasih Semerah Luka, untuk melengkapi Ayahku dan Istana Kecantikan yang sudah dipastikan sejak awal. Pihak Ekapraya kecewa, merasa usahanya untuk ikut FFAP tak dihargai. Sementara itu, pihak panitia juga bertahan pada keputusannya. "Semua itu karena misunderstanding saja," kata Turino. "Sekarang sudah selesai." Ia menunjukkan bukti, Eros Djarot, sebagai sutradara Tjoet, ikut Board of Director Meeting, yang diadakan pada hari pertama festival. Pada Senin lalu itu tim juri (H. Boedihardjo, Tatiek Maliyati W.S., Suka Hardjana, H.T. Johardin, dan Soetomo Gandasoebrata) sudah memilih film-film yang diunggulkan dari 28 film peserta. Pemenangnya disiarkan TVRI Selasa malam pekan ini. Di antara film yang mendapatkan piala, terdapat film Black Rain dan Buddies (Jepang), lalu All About Ah Long (Hong Kong). Film-film ini, seperti dalam berita-berita dari negeri asalnya, memperoleh pujian dari kalangan kritikus. Film Indonesia? Bisa dimaafkan kalau dari kelima judul tersebut di atas tak ada yang berhasil masuk unggulan. Mohamad Cholid, Leila S. Chudori, dan Budiono Darsono

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar